Perwakilan FAO: Kolaborasi BRICS di Bidang Pertanian Akan Tentukan Arah Perdagangan Global
-
Kepala Kantor Penghubung FAO untuk Federasi Rusia Oleg Kobyakov
Pars Today - Kepala Kantor Penghubung FAO untuk Federasi Rusia menegaskan bahwa kerja sama negara-negara BRICS di bidang pertanian dan pangan akan memainkan peran yang menentukan di masa depan ekonomi dan perdagangan global.
Dilansir Pars Today, 6 Juni 2026, Oleg Kobyakov, dalam wawancara eksklusif dengan TV BRICS di sela-sela Forum Ekonomi Internasional St. Petersburg (SPIEF), menyatakan bahwa negara-negara BRICS, yang mewakili 42 persen populasi dunia, memiliki tren demografi yang mengarah pada kaum muda.
"Fokus pada kaum muda di sektor pertanian adalah keharusan yang tak terelakkan, karena generasi inilah yang akan membentuk masa depan produksi dan konsumsi global,"* tegasnya.
Kobyakov menambahkan bahwa negara-negara BRICS, yang tersebar di berbagai benua, mencakup beberapa negara terpadat di dunia dan menyumbang lebih dari sepertiga PDB global serta sebagian besar perdagangan internasional, terutama di bidang pertanian.
"Oleh karena itu, arah perkembangan ekonomi global sangat bergantung pada bagaimana kerja sama BRICS, baik di dalam kelompok maupun dengan pihak eksternal,"* ujarnya.
Prioritas utama yang disebutkan meliputi:
- Memastikan pembangunan berkelanjutan dari sistem pertanian-pangan.
- Menciptakan kerangka regulasi yang tepat.
- Menjamin akses pasar yang adil bagi produsen.
- Memanfaatkan seluruh spektrum inovasi (AI, nanoteknologi) untuk pemuliaan tanaman dan hewan.
Dengan 42 persen populasi dunia dan 1/3 PDB global, BRICS bukan hanya blok politik, tetapi juga kekuatan pertanian yang menentukan. Dari gandum hingga inovasi benih, keputusan mereka akan mengguncang pasar dan rantai pasok global. Negara-negara berkembang di Asia, Afrika, dan Amerika Latin harus memperhatikan: arah perdagangan dunia sedang ditulis ulang di Moskow dan Beijing, bukan hanya di Washington.
Selama ini pangan adalah senjata, dan Barat yang memegang kendali. Namun BRICS mengubah aturan main: dengan 42 persen penduduk dunia, mereka bukan hanya pasar, tetapi juga produsen masa depan. Jika kerja sama ini berhasil, bukan lagi Washington atau Brussels yang menentukan harga gandum atau kedelai, tetapi Brasília, Moskow, atau New Delhi.(Sail)