Wawancara Pars Today dengan Dr. Hassan Kinyua Omari
Warisan Khamenei: Model Kemandirian yang Menginspirasi Dunia Selatan
-
Dr. Hassan Kinyua Omari, profesor Universitas Nairobi
Pars Today - Seorang pakar Islam asal Kenya meyakini bahwa warisan Ayatullah Khamenei di bidang kemandirian, perlawanan, dan kedaulatan Islam akan terus membentuk jalan negara-negara Dunia Selatan dalam mengejar martabat dan kemerdekaan.
Dr. Hassan Kinyua Omari, profesor Universitas Nairobi dengan pengalaman lebih dari dua puluh tahun di bidang pendidikan, kepemimpinan etis, dan dialog lintas budaya, seorang ahli Islam, konsultan dialog antar agama, penerjemah, dan penulis lebih dari empat puluh buku — dalam wawancara eksklusif dengan Pars Today ini, memberikan penilaian mendalam tentang makna spiritual dan politik dari warisan Ayatullah Khamenei serta signifikansi abadinya bagi umat Muslim di seluruh dunia. Dengan mengandalkan latar belakang luasnya dalam pemerintahan Islam, dialog antar agama, dan tradisi intelektual Afrika, ia mengkaji makna religius yang mendalam dari upacara pemakaman Ayatullah Khamenei, teladannya dalam menghubungkan iman dengan pemerintahan, serta pelajaran-pelajaran yang dapat dipetik dari kepemimpinannya bagi Afrika dan Dunia Selatan.
Berikut teks lengkap wawancara ini:
Pars Today – Bagi jutaan Muslim di seluruh dunia, Ayatullah Khamenei bukan hanya seorang pemimpin politik, tetapi juga seorang otoritas keagamaan (marja'). Menurut Anda, apa makna spiritual dari upacara pemakamannya bagi umat Muslim di dalam dan luar Iran?
Upacara pemakaman Ayatullah Sayyid Ali Khamenei memiliki makna yang mendalam secara spiritual, religius, dan historis. Bagi banyak Muslim, terutama mereka yang mengenalnya sebagai seorang imam agung, pemimpin umat beriman, ulama, fakih, dan penjaga identitas Islam, pemakamannya bukan sekadar penguburan seorang pemimpin politik. Ini adalah momen untuk merenungkan kepemimpinan, pengorbanan, kefanaan, dan tanggung jawab di hadapan Tuhan.
Dalam Islam, kematian mengingatkan kita pada kenyataan bahwa setiap pemimpin, sekalipun ia sangat berkuasa, pada akhirnya akan kembali kepada Tuhan untuk mempertanggungjawabkan kepemimpinannya. Upacara pemakaman dalam skala ini berubah menjadi pertemuan spiritual kolektif di mana orang-orang, sambil mengekspresikan kebahagiaan atas kehidupan yang baik dan produktif dari pemimpin yang wafat dan berduka atas kehilangan orang tercinta, mendoakannya, memperbarui iman mereka, dan merenungkan nilai-nilai yang diwakili oleh pemimpin tersebut.
Bagi umat Muslim di dalam Iran, upacara ini adalah momen untuk peringatan nasional seorang syahid agung, duka cita, dan solidaritas keagamaan. Bagi umat Muslim di luar Iran, ini mengingatkan akan peran Iran dalam membentuk kesadaran politik Islam modern, terutama dalam hal kemerdekaan, perlawanan, martabat, dan penolakan untuk menyerahkan identitas religius di hadapan tekanan asing.
Pars Today – Anda sebelumnya telah berbicara tentang konsep legitimasi religius dan kepemimpinan etis dalam kaitannya dengan Ayatullah Khamenei. Bagaimana Anda menilai warisannya sebagai seorang pemimpin yang berusaha mengintegrasikan otoritas keagamaan dengan pemerintahan?
Warisan Ayatullah Khamenei adalah simbol agung dari seorang pemimpin teladan yang harus dipahami dalam kerangka model unik Republik Islam; sebuah model di mana otoritas keagamaan dan pemerintahan sangat terkait erat. Dia mewakili kelanjutan dari doktrin Wilayah al-Faqih; di mana seorang fakih tidak hanya menjadi pemandu spiritual, tetapi juga penjaga orientasi etis dan politik masyarakat.
Dunia akan mengingatnya sebagai seorang pemimpin yang melestarikan identitas Islam, membela kedaulatan nasional, dan bersikeras pada keyakinan bahwa politik harus terhubung dengan tanggung jawab etis dan spiritual di hadapan Tuhan. Dia berdiri teguh pada gagasan bahwa pemerintahan tidak boleh dipisahkan dari etika, iman, dan tanggung jawab di hadapan Tuhan.
Pada saat yang sama, setiap penilaian ilmiah dan serius juga harus mengkaji tantangan-tantangan dari model semacam itu: keseimbangan antara otoritas dan musyawarah, persatuan dan keragaman, keamanan negara dan hak-hak sipil, kepemimpinan agama dan akuntabilitas publik. Oleh karena itu, warisannya kuat, kompleks, dan layak untuk studi akademis yang mendalam.
Pars Today – Menurut Anda, aspek-aspek apa dari model kepemimpinan Ayatullah Khamenei yang akan mempengaruhi pemikiran politik Islam dalam dekade-dekade mendatang?
Beberapa aspek kepemimpinannya akan terus mempengaruhi pemikiran politik Islam. Pertama, penekanannya pada kemandirian Islam. Dia selalu berargumentasi bahwa masyarakat Muslim tidak boleh meniru model politik, budaya, atau ekonomi Barat, tetapi harus mempertahankan identitas dan nilai-nilai etis mereka sendiri.
Kedua, konsep perlawanan dari sudut pandangnya. Baginya, perlawanan bukan hanya militer atau politik; tetapi juga intelektual, budaya, ekonomi, dan spiritual. Dia menyajikan perlawanan sebagai kewajiban untuk menjaga martabat ketika sebuah bangsa menghadapi dominasi atau penghinaan.
Ketiga, desakannya bahwa agama harus tetap terlihat di ruang publik. Model kepemimpinannya menantang gagasan bahwa iman harus terbatas pada masjid atau kehidupan pribadi. Terlepas dari apakah seseorang sepenuhnya setuju dengan modelnya atau tidak, para peneliti masa depan akan terus mempelajari bagaimana dia berusaha menjadikan Islam sebagai kekuatan penuntun dalam pemerintahan, diplomasi, pendidikan, dan identitas nasional.
Pars Today – Menurut Anda, bagaimana para peneliti dan mahasiswa pemerintahan Islam di Afrika harus mempelajari dan mengevaluasi pengalaman kepemimpinan Ayatullah Khamenei?
Para peneliti dan mahasiswa Afrika harus mempelajari kepemimpinan Ayatullah Khamenei dengan integritas intelektual dan keseimbangan ilmiah. Jangan mendekatinya dengan kekaguman buta, dan jangan juga menilainya hanya melalui narasi-narasi permusuhan asing. Kepemimpinannya harus dipelajari secara historis, teologis, politis, dan etis.
Mahasiswa Afrika tentang pemerintahan Islam harus mengkaji bagaimana Iran membangun institusi-institusinya, melindungi kedaulatannya, berinvestasi dalam pendidikan dan sains, serta mempertahankan identitas Islam yang kuat di bawah tekanan. Pada saat yang sama, mereka juga harus mengajukan pertanyaan-pertanyaan penting tentang partisipasi politik, musyawarah, keragaman internal, hak asasi manusia, dan peran otoritas keagamaan dalam sistem pemerintahan modern.
Afrika dapat belajar dari keberanian Iran dalam membela identitas, kedaulatan, dan kemandirian intelektual. Tugas sesungguhnya adalah mengambil pelajaran sambil tetap setia pada realitas Afrika, pemerintahan yang berlandaskan hukum, koeksistensi damai, dan harmoni antar agama.
Pars Today – Pelajaran apa yang dapat diambil oleh masyarakat Afrika dari penekanannya pada kemandirian, kepercayaan diri budaya, dan perlawanan terhadap tekanan asing?
Salah satu pelajaran terbesar bagi Afrika adalah bahwa tidak ada masyarakat yang dapat membangun masa depan yang bermartabat jika ia tidak percaya pada dirinya sendiri. Ayatullah Khamenei berulang kali menekankan kemandirian, bukan sebagai isolasi, tetapi sebagai penolakan untuk membiarkan kekuatan asing menentukan nasib sebuah bangsa.
Afrika harus belajar untuk percaya pada rakyatnya, institusinya, bahasa-bahasanya, sumber dayanya, tradisi keagamaannya, dan kapasitas intelektualnya. Kita harus berinvestasi dalam pendidikan, penelitian, pertanian, teknologi, industri domestik, dan kepemimpinan etis. Kita tidak bisa tetap bergantung pada persetujuan asing, pendanaan asing, dan definisi asing tentang kemajuan.
Afrika harus berinteraksi dengan dunia bukan sebagai mitra yang lemah, tetapi dari posisi martabat dan kehormatan. Kita harus bekerja sama di tingkat global tanpa menyerahkan identitas, nilai-nilai, atau sumber daya kita.
Pars Today – Sebagai seorang peneliti di bidang dialog antar agama, bagaimana Anda menilai partisipasi Ayatullah Khamenei dalam mempromosikan dialog antar komunitas agama yang berbeda, sambil mempertahankan identitas Islam yang kuat?
Dari perspektif dialog antar agama, contoh Ayatullah Khamenei penting karena mengingatkan kita bahwa dialog tidak memerlukan pelemahan identitas iman seseorang. Dialog yang otentik tidak berarti meninggalkan keyakinan sendiri. Itu berarti berakar dalam dalam iman sendiri, sambil menghormati martabat orang lain.
Kepemimpinannya menunjukkan bahwa seorang Muslim dapat mempertahankan identitas Islam yang kuat dan pada saat yang sama menangani pertanyaan-pertanyaan yang lebih luas tentang keadilan, perdamaian, etika, martabat manusia, dan tanggung jawab sosial. Dalam dialog antar agama, ini penting karena identitas yang lemah sering mengarah pada dialog yang dangkal, sedangkan identitas yang kuat dan hormat dapat menghasilkan interaksi yang bermakna.
Pada saat yang sama, dialog tidak hanya diukur dengan pernyataan, tetapi juga dengan realitas kehidupan, kebijakan, hubungan, dan cara memperlakukan minoritas agama. Oleh karena itu, partisipasinya harus dipelajari baik melalui pidato-pidatonya maupun melalui pengalaman sosial dan politik Iran yang lebih luas.
Saya sendiri telah berpartisipasi dalam beberapa konferensi intra-agama dan antar-agama, baik di Iran maupun di belahan dunia lain yang diselenggarakan oleh lembaga-lembaga Iran. Ini sendiri merupakan bukti dukungan Imam (Ayatullah Khamenei) terhadap dialog antar agama.
Pars Today – Menurut Anda, apakah skala besar partisipasi publik dalam upacara pemakaman akan menantang beberapa narasi yang biasanya disajikan oleh media Barat tentang Iran?
Ya, jika skala partisipasi publik yang diharapkan terwujud, itu akan menantang beberapa narasi sederhana yang sering disajikan tentang Iran. Media Barat biasanya memperkenalkan Iran terutama melalui bahasa sanksi, represi, konfrontasi, dan krisis. Masalah-masalah ini mungkin adalah bagian dari cerita, tetapi bukan keseluruhan cerita.
Duka cita publik yang luas menunjukkan bahwa banyak orang di dalam dan luar Iran melihat Ayatullah Khamenei sebagai tokoh besar, terkemuka, dan penting secara agama dan politik. Ini menunjukkan bahwa masyarakat Iran tidak dapat dipahami hanya melalui kategori politik asing. Identitasnya dibentuk oleh agama, revolusi, pengorbanan, sejarah, nasionalisme, dan perlawanan.
Kehadiran luas dalam upacara pemakaman adalah simbol kuat dari keterikatan dan kesetiaan; oleh karena itu, kerumunan besar adalah konfirmasi atas cinta rakyat kepada orang besar ini, baik semasa hidupnya maupun ketika dia hidup di akhirat.
Pars Today – Melampaui upacara itu sendiri, menurut Anda, apa dampak dari wafatnya Ayatullah Khamenei terhadap arah masa depan dunia Islam dan Global Selatan secara umum?
Wafatnya Ayatullah Khamenei menandai awal dari periode yang lebih besar dan lebih cerah dalam sejarah politik modern Islam; periode di mana musuh-musuh Islam akan belajar bahwa kematian, jika dalam jalan kesyahidan, adalah kehormatan besar. Syahid ini, selama beberapa dekade, adalah suara yang kuat untuk kedaulatan Islam, perlawanan terhadap dominasi, dan pembelaan jalur peradaban yang independen.
Dunia akan belajar pelajaran tentang kesinambungan, kepemimpinan, persatuan, hubungan global, pemerintahan, dan masa depan gerakan-gerakan perlawanan, dan akan menerima pesan bahwa tidak ada yang dapat menghentikan ide yang telah tiba waktunya – 'perjuangan berlanjut'. Diskusi tentang hubungan antara otoritas keagamaan dan kekuasaan negara juga akan dibuka kembali.
Bagi Global Selatan, warisannya akan terus mempengaruhi diskusi tentang kemerdekaan, sanksi, multipolaritas, martabat budaya, dan hak bangsa-bangsa untuk menentukan nasib sendiri. Banyak negara di Afrika, Asia, dan Amerika Latin masih bergulat dengan tekanan dan ketergantungan eksternal. Dari perspektif ini, pesannya tentang kemandirian dan perlawanan akan tetap dinamis dan hidup di luar Iran.
Pertanyaan yang lebih dalam yang ditinggalkan oleh kepemimpinannya adalah: Apakah kematian adalah awal atau akhir dari perlawanan? Dapatkah sebuah masyarakat menjadi modern tanpa menjadi hampa secara spiritual? Dapatkah sebuah bangsa berinteraksi dengan dunia tanpa kehilangan dirinya sendiri? Dapatkah nilai-nilai agama membentuk kehidupan publik sambil tetap menghormati keadilan, keragaman, dan martabat manusia? Ini adalah pertanyaan-pertanyaan yang harus terus dikaji oleh para peneliti dan pemimpin.
Pandangan, analisis, dan evaluasi yang disajikan dalam wawancara ini hanyalah mencerminkan pendapat pribadi narasumber dan tidak serta merta mencerminkan posisi, kebijakan, atau pandangan Pars Today.