"Saat Makan Jadi Pelarian": Peran Besar Emosi & Kesadaran Diri dalam Bulimia
https://parstoday.ir/id/news/world-i192726-saat_makan_jadi_pelarian_peran_besar_emosi_kesadaran_diri_dalam_bulimia
Pars Today - Para peneliti dalam sebuah studi baru mengkaji faktor-faktor apa yang berperan dalam munculnya bulimia (perilaku makan berlebihan) pada siswi, dan bagaimana beberapa karakteristik psikologis dapat membentuk perilaku makan yang tidak sehat selama masa remaja yang kritis.
(last modified 2026-07-07T07:33:09+00:00 )
Jul 07, 2026 14:30 Asia/Jakarta
  • Makan banyak
    Makan banyak

Pars Today - Para peneliti dalam sebuah studi baru mengkaji faktor-faktor apa yang berperan dalam munculnya bulimia (perilaku makan berlebihan) pada siswi, dan bagaimana beberapa karakteristik psikologis dapat membentuk perilaku makan yang tidak sehat selama masa remaja yang kritis.

Melansir ISNA, 7 Juli 2026, Pars Today melaporkan bahwa masa remaja adalah salah satu tahap terpenting dan paling kritis dalam kehidupan manusia. Pada periode ini, individu menghadapi serangkaian perubahan fisik, psikologis, dan sosial. Tahun-tahun ini biasanya merupakan masa transisi dari masa kanak-kanak menuju kedewasaan, dan karena itu memainkan peran besar dalam membentuk kepribadian, identitas, dan perilaku masa depan seseorang.

Remaja perempuan, selain perubahan fisik dan hormonal, juga menghadapi tekanan akademis, ekspektasi sosial, dan upaya untuk menjadi mandiri. Kondisi ini dapat memicu stres, kecemasan, kebingungan, dan konflik internal. Dalam situasi seperti itu, beberapa remaja beralih ke perilaku maladaptif untuk mengatasi perasaan yang tidak menyenangkan, perilaku yang mungkin memberikan ketenangan sementara dalam jangka pendek tetapi merugikan dalam jangka panjang.

Salah satu perilaku maladaptif ini adalah bulimia nervosa (perilaku makan berlebihan), sebuah gangguan psikologis yang ditandai dengan episode berulang di mana seseorang mengonsumsi makanan dalam jumlah besar dalam waktu singkat, diikuti oleh perilaku kompensasi untuk mencegah penambahan berat badan. Perilaku ini dapat mencakup muntah yang disengaja, penggunaan obat pencahar, atau olahraga berlebihan.

Bulimia tidak hanya tentang makan; ia juga terkait dengan kekhawatiran berlebihan tentang berat badan dan bentuk tubuh, dan dapat berdampak negatif pada kesehatan fisik, mental, dan sosial individu. Remaja yang bergulat dengan masalah ini mungkin mengalami harga diri rendah, depresi, kecemasan, isolasi sosial, dan penurunan prestasi akademis.

Oleh karena itu, memahami faktor-faktor yang dapat berperan dalam munculnya atau kelangsungan gangguan ini sangat penting untuk pencegahan dan perawatan kesehatan mental remaja.

Dalam kaitan ini, Parisa Mohammadnejad, seorang peneliti psikologi umum dari Fakultas Ilmu Pendidikan dan Psikologi Universitas Tabriz, bersama dengan salah satu rekannya, melakukan penelitian tentang prediksi bulimia pada siswi. Dalam penelitian ini, para peneliti menyelidiki apakah cara mengelola emosi dan tingkat kesadaran seseorang terhadap pengalaman batiniahnya dapat dikaitkan dengan kemungkinan munculnya bulimia pada remaja.

Pentingnya masalah ini muncul dari kenyataan bahwa jika hubungan semacam itu ada, pengetahuan ini dapat digunakan untuk merancang strategi dukungan dan pencegahan di sekolah dan lingkungan konseling.

Dalam penelitian ini, 220 siswi berusia 15 hingga 17 tahun dari kota Hashtrud berpartisipasi dan memberikan data yang diperlukan melalui kuesioner ilmiah khusus. Data ini kemudian dianalisis menggunakan metode statistik.

Temuan penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara beberapa strategi regulasi emosi dan bulimia. Secara khusus, "penilaian ulang" (cognitive reappraisal), sebuah strategi adaptif untuk menghadapi emosi, memiliki hubungan negatif dengan bulimia; artinya, semakin banyak remaja menggunakan strategi ini, semakin rendah kemungkinan bulimia. Sebaliknya, "penekanan" (suppression), yang berarti menyembunyikan atau menahan emosi—memiliki hubungan positif dengan bulimia.

Selain itu, "kesadaran diri bawaan" (dispositional mindfulness) juga memiliki hubungan negatif dengan bulimia. Yang dimaksud dengan kesadaran diri bawaan adalah kemampuan alami seseorang untuk memperhatikan saat ini dan menyadari perasaan serta pengalaman mereka tanpa penilaian yang tergesa-gesa.

Hasil lain menunjukkan bahwa regulasi emosi dan kesadaran diri bawaan secara bersama-sama dapat menjelaskan 23 persen dari variasi bulimia pada siswi. Angka ini menunjukkan bahwa kedua faktor ini, meskipun bukan satu-satunya faktor yang terlibat, memiliki kontribusi yang signifikan dalam memahami masalah ini.

Berdasarkan penjelasan tambahan dari penelitian ini, remaja yang kesulitan mengelola emosi negatif seperti kecemasan atau kesedihan mungkin menggunakan makanan sebagai cara untuk menenangkan diri sementara. Sebaliknya, mereka yang lebih mampu meninjau dan mengelola perasaan mereka cenderung tidak melakukan perilaku impulsif seperti makan berlebihan. Selain itu, individu yang memiliki kesadaran diri yang lebih tinggi biasanya cenderung tidak terjebak dalam reaksi otomatis dan tergesa-gesa.

Pentingnya temuan ini, yang dipublikasikan dalam Jurnal Psikologi Roshd yang diterbitkan oleh Asosiasi Psikologi Klinis Anak dan Remaja, terletak pada kenyataan bahwa bulimia tidak boleh hanya dilihat sebagai masalah makan. Penelitian ini menunjukkan bahwa perilaku ini dapat menjadi indikator kesulitan dalam mengelola emosi dan berkurangnya kesadaran akan keadaan internal seseorang.

Sederhananya, ketika seorang remaja tidak dapat mengelola tekanan psikologis, stres, atau pikiran negatif dengan cara yang sehat, ia mungkin beralih ke makan berlebihan sebagai solusi sementara. Di sisi lain, kesadaran diri yang lebih tinggi dapat membantu remaja untuk mengenali perasaannya sebelum bereaksi secara impulsif dan menghadapinya dengan lebih sadar.

Berdasarkan informasi yang disajikan dalam penelitian ini, hasil di atas dapat menjadi dasar untuk merancang program pencegahan dan dukungan psikologis, program yang, alih-alih hanya berfokus pada nutrisi, juga menekankan pada pelatihan keterampilan regulasi emosi, kesadaran diri, dan strategi koping yang sehat. Hasil yang diperoleh dengan jelas menunjukkan bahwa memperhatikan faktor-faktor psikologis ini dapat berguna dalam pemahaman yang lebih baik tentang bulimia pada remaja perempuan.

Penelitian ini menyoroti sebuah kebenaran penting: gangguan makan seperti bulimia bukanlah kegagalan kemauan atau sekadar masalah penampilan. Ini adalah cermin dari perjuangan internal seorang remaja yang belum memiliki alat yang cukup untuk mengelola badai emosi mereka.

"Regulasi Emosi" sebagai Kunci: Temuan bahwa "penilaian ulang" (kemampuan untuk melihat kembali suatu situasi dari sudut pandang yang berbeda) terkait dengan penurunan risiko bulimia, sementara "penekanan" (menahan emosi) justru meningkatkan risiko, menunjukkan bahwa pendekatan terhadap emosi, bukan emosi itu sendiri, yang menentukan. Ini adalah pelajaran yang sangat berharga bagi orang tua dan pendidik.

"Mindfulness" sebagai Benteng: Hubungan negatif antara kesadaran diri bawaan dan bulimia menunjukkan bahwa kemampuan untuk hadir di saat ini, tanpa menghakimi, dapat melindungi remaja dari perilaku impulsif. Ini adalah argumen yang kuat untuk mengintegrasikan latihan mindfulness ke dalam kurikulum sekolah.

"Panggilan untuk Intervensi Holistik": Fakta bahwa regulasi emosi dan kesadaran diri hanya menjelaskan 23 persen variasi menunjukkan bahwa masih ada banyak faktor lain yang berperan, seperti genetika, tekanan sosial, dan pengalaman traumatis. Namun, 23 persen ini adalah "pintu masuk" yang dapat ditangani. Dengan mengajarkan remaja cara mengelola emosi dan hadir di saat ini, kita dapat memberikan mereka perisai yang kuat melawan salah satu gangguan mental yang paling umum dan berbahaya di masa remaja.(Sail)