Jalan Baru untuk Melawan Kanker Darah yang Kebal Terapi
https://parstoday.ir/id/news/world-i193122-jalan_baru_untuk_melawan_kanker_darah_yang_kebal_terapi
Pars Today - Leukemia mieloid akut (AML) adalah salah satu jenis kanker darah serius yang pengobatannya, terutama pada kasus kekambuhan, disertai dengan banyak kesulitan. Memahami penyebab resistensi sel kanker dapat menerangi jalan menuju terapi yang lebih efektif.
(last modified 2026-07-14T04:34:04+00:00 )
Jul 14, 2026 11:20 Asia/Jakarta
  • Kanker darah yang kebal terapi
    Kanker darah yang kebal terapi

Pars Today - Leukemia mieloid akut (AML) adalah salah satu jenis kanker darah serius yang pengobatannya, terutama pada kasus kekambuhan, disertai dengan banyak kesulitan. Memahami penyebab resistensi sel kanker dapat menerangi jalan menuju terapi yang lebih efektif.

Sebagaimana dilaporkan ISNA, 14 Juli 2026, AML adalah jenis kanker darah dan sumsum tulang di mana sel-sel darah yang belum matang berkembang biak secara tidak normal dan menggantikan sel-sel sehat. Penyakit ini dapat berkembang dengan cepat, dan karena itu, pengobatan yang tepat waktu dan efektif sangatlah penting. Pada banyak pasien, terapi awal dapat memberikan respons yang baik pada awalnya, tetapi masalah utama dimulai ketika penyakit kambuh setelah beberapa waktu atau sel-sel kanker menjadi resisten terhadap obat-obatan.

Salah satu tantangan terbesar dalam pengobatan AML adalah resistensi obat. Pada terapi lini pertama, kombinasi obat-obatan yang disebut agen penurun metilasi dan obat yang disebut venetoklaks bermanfaat bagi banyak pasien, tetapi resistensi dan kekambuhan penyakit tetap umum terjadi. Masalah ini lebih serius pada pasien dengan mutasi pada gen TP53. Dalam kondisi normal, gen ini membantu sel merespons kerusakan dan mencegah pertumbuhan yang tidak terkendali. Ketika gen ini bermutasi, sel-sel leukemia dapat menjadi lebih kebal dan lolos dari efek terapi.

Para peneliti di Pusat Kanker MD Anderson Universitas Texas, dipimpin oleh Michael Andreeff, dokter dan doktor spesialis, serta Bing Z. Carter, doktor spesialis, keduanya profesor di bidang leukemia, telah melakukan penelitian tentang terapi epigenetik eksperimental untuk AML yang resisten. Penelitian ini secara sederhana mengkaji apakah obat yang disebut NTX-301 dapat tetap aktif melawan bentuk-bentuk penyakit yang resisten, dan melalui mekanisme biologis apa obat tersebut mungkin memiliki efek demikian. Terapi epigenetik adalah terapi yang memengaruhi aktivasi atau penonaktifan gen tertentu tanpa mengubah kode genetik.

Dalam studi ini, para peneliti menguji NTX-301 dalam beberapa model praklinis. Model praklinis berarti uji coba yang dilakukan sebelum pengujian skala luas pada manusia, seperti pengujian pada sel atau model yang dibuat dari sampel pasien. Dalam penelitian ini digunakan model-model leukemia yang resisten terhadap terapi, termasuk model yang berasal dari pasien dengan resistensi yang didapat. Para peneliti juga membandingkan efek obat ini dengan azasitidin, salah satu obat penurun metilasi yang umum digunakan. Mereka juga memeriksa perubahan metilasi DNA, proses yang dapat meningkatkan atau menurunkan aktivitas gen tanpa mengubah urutan dasar gen itu sendiri.

Temuan menunjukkan bahwa NTX-301 dalam model praklinis lebih baik dalam menekan kelangsungan hidup sel leukemia dibandingkan terapi standar azasitidin. Poin pentingnya adalah bahwa obat ini tetap memiliki aktivitas antileukemia bahkan pada sel-sel yang sebelumnya telah menjadi resisten terhadap terapi penurun metilasi dan venetoklaks. Obat ini juga menunjukkan efek antikanker pada model AML dengan mutasi TP53, kelompok yang biasanya dianggap sebagai kasus paling berisiko tinggi dan paling sulit.

Hasil juga menunjukkan bahwa ketika NTX-301 digunakan bersama dengan venetoklaks pada sampel yang resisten, efek antileukemianya lebih kuat daripada masing-masing terapi tersebut secara tunggal. Kombinasi ini tidak hanya bekerja pada sel leukemia utama, tetapi juga pada sel induk dan sel prekursor leukemia. Sel-sel ini penting karena diyakini berperan dalam persistensi penyakit di dalam tubuh dan kekambuhannya.

Salah satu bagian penting dari penelitian ini adalah pengkajian jalur Hippo. Jalur ini dapat dianggap sebagai semacam sistem kontrol pertumbuhan sel alami yang dalam kondisi normal membantu menekan pertumbuhan yang berlebihan. Para peneliti menemukan bahwa NTX-301, melalui perubahan epigenetik yang terarah, meningkatkan aktivitas gen-gen kunci dalam jalur ini. Sebaliknya, obat ini menurunkan aktivitas protein bernama YAP, protein yang berperan dalam kelangsungan hidup sel kanker, resistensi terhadap terapi, dan karakteristik seperti sel induk.

Pentingnya temuan ini adalah bahwa NTX-301, tidak seperti beberapa terapi saat ini yang memiliki efek lebih luas pada metilasi DNA, tampaknya bekerja pada kumpulan gen dan jalur yang lebih terpilih. Sederhananya, obat ini mungkin secara bersamaan mengganggu beberapa jalur kelangsungan hidup sel leukemia, dan pada saat yang sama mengaktifkan kembali jalur-jalur yang secara alami menghambat pertumbuhan sel yang berlebihan. Efek ganda ini dapat menjelaskan mengapa obat ini tetap aktif pada beberapa bentuk AML yang paling resisten.

Meskipun hasil ini menjanjikan, para peneliti menekankan bahwa penelitian lebih lanjut diperlukan untuk menentukan apakah temuan ini akan terulang pada pasien. Menurut mereka, pasien dengan AML yang kambuh, penyakit yang resisten terhadap venetoklaks, dan kasus dengan mutasi TP53 dapat menjadi kelompok penting untuk evaluasi klinis di masa depan. Penelitian ini, selain memperkenalkan peluang terapi potensial, juga memberikan penjelasan biologis untuk efeknya.

Temuan ilmiah ini telah dipublikasikan dalam jurnal Clinical Cancer Research. Jurnal ini berafiliasi dengan American Association for Cancer Research (AACR) dan mempublikasikan temuan-temuan terkait penelitian kanker.(Sail)