Para Ilmuwan: Kunci Lawan Kanker Ada di Waktu, Bukan Cuma Obat
-
Pengobatan kanker
Pars Today - Penelitian baru oleh para ilmuwan Inggris menunjukkan bahwa mengubah terapi kanker sebelum tumor sempat melawan kembali dapat mengubah pengobatan menjadi senjata ampuh melawan kekambuhan penyakit.
Sebagaimana dilaporkan ISNA, 23 Juli 2026, penjadwalan yang lebih cerdas dapat menjadi salah satu kunci untuk membuat pengobatan kanker lebih efektif.
Mengutip Science Daily, penelitian baru oleh para ilmuwan Inggris menunjukkan bahwa dokter dapat meningkatkan efektivitas pengobatan dengan mengganti metode terapi sebelum tumor memiliki kesempatan untuk pulih. Mereka menyarankan agar dokter, alih-alih menunggu kanker kembali setelah pengobatan awal, beralih ke terapi lain saat tumor masih menyusut.
Strategi ini dirancang untuk mengatasi resistensi obat, yang merupakan salah satu hambatan terbesar dalam perawatan kanker.
Dr. Robert Noble, pemimpin penelitian ini, mengatakan, "Meskipun tumor mungkin awalnya menyusut di bawah pengobatan, dalam banyak kasus pada akhirnya mereka akan tumbuh kembali. Kekambuhan ini disebabkan oleh sejumlah kecil sel kanker yang, dengan mutasinya, membuat sel-sel tersebut kebal terhadap pengobatan."
Mutasi adalah perubahan dalam instruksi genetik sel. Beberapa di antaranya terjadi secara acak saat sel kanker membelah. Jika salah satu perubahan ini memungkinkan sel untuk bertahan hidup terhadap obat yang membunuh sel-sel tumor lainnya, sel yang kebal tersebut dapat terus berkembang biak. Seiring waktu, sel-sel yang bertahan ini dapat membangun kembali tumor.
Berdasarkan pendekatan klinis standar, dokter sering melanjutkan penggunaan satu terapi sampai tes menunjukkan bahwa kanker mulai tumbuh kembali. Kemudian, dokter mungkin beralih ke obat atau terapi lain.
Masalahnya adalah menunggu kekambuhan yang terlihat memberi waktu lebih banyak bagi sel-sel kanker yang bertahan untuk berevolusi. Pada saat dokter memperkenalkan terapi kedua, beberapa sel mungkin sudah memiliki mutasi yang melindungi mereka dari terapi tersebut juga.
Teori evolusi menunjukkan pendekatan yang berbeda. Dalam metode ini, alih-alih menunggu pengobatan pertama kehilangan efektivitasnya, dokter dapat beralih ke terapi kedua saat tumor masih merespons pengobatan. Para peneliti menggambarkan metode ini sebagai strategi "berhenti selagi masih di depan". Ide ini bisa sangat bermanfaat untuk kanker di mana dokter sudah tahu bahwa bahkan pengobatan awal yang paling efektif pun sering gagal karena resistensi obat.
Pergantian terapi lebih awal dapat mempersulit setiap kelompok sel kanker yang kebal untuk mendominasi. Setiap pengobatan baru menghadirkan tantangan yang berbeda bagi tumor, membatasi kemampuannya untuk beradaptasi.
Noble menjelaskan, "Pendekatan-pendekatan evolusioner telah sangat sukses di bidang-bidang lain, seperti melawan resistensi antibiotik atau memprediksi vaksin mana yang harus digunakan pada musim flu tertentu. Ada banyak alasan untuk berasumsi bahwa pendekatan serupa dapat efektif pada tumor juga."
Resistensi antibiotik terjadi melalui proses evolusi yang serupa. Bakteri yang bertahan hidup terhadap suatu obat dapat berkembang biak dan mewariskan resistensi mereka kepada generasi berikutnya. Para ilmuwan juga memantau evolusi virus flu untuk membantu menentukan strain mana yang harus menjadi sasaran vaksin musiman.
Para peneliti percaya bahwa pengobatan kanker dapat memperoleh manfaat dari jenis pemikiran evolusioner yang sama. Noble dan rekan-rekannya menggunakan model matematika yang biasanya digunakan untuk mempelajari bagaimana tumbuhan dan hewan berevolusi di bawah tekanan lingkungan seperti perubahan iklim, untuk menguji ide ini.
Model-model ini menunjukkan bahwa dalam banyak kasus, menggunakan dua metode pengobatan mungkin tidak cukup. Menggunakan tiga atau lebih metode pengobatan dapat menempatkan sel-sel kanker di bawah serangkaian tekanan yang berubah-ubah, membuatnya lebih sulit bagi tumor untuk menghasilkan populasi yang mampu melawan setiap pengobatan.(Sail)