Dari Medsos ke Perbatasan; Bagaimana Hoaks Picu Lompatan Massal ke Ceuta
https://parstoday.ir/id/news/world-i194276-dari_medsos_ke_perbatasan_bagaimana_hoaks_picu_lompatan_massal_ke_ceuta
Pars Today - Maroko, dalam pernyataan resmi pertamanya mengenai peristiwa Ceuta dan Melilla, menekankan bahwa upaya ribuan warga Maroko untuk melintasi perbatasan akhir-akhir ini bukanlah hal yang spontan atau kebetulan, tetapi berbagai faktor, termasuk penyalahgunaan ruang maya, penyebaran rumor, dan berita palsu, berperan di dalamnya.
(last modified 2026-08-03T04:20:11+00:00 )
Aug 03, 2026 11:16 Asia/Jakarta
  • Para pengungsi Maroko
    Para pengungsi Maroko

Pars Today - Maroko, dalam pernyataan resmi pertamanya mengenai peristiwa Ceuta dan Melilla, menekankan bahwa upaya ribuan warga Maroko untuk melintasi perbatasan akhir-akhir ini bukanlah hal yang spontan atau kebetulan, tetapi berbagai faktor, termasuk penyalahgunaan ruang maya, penyebaran rumor, dan berita palsu, berperan di dalamnya.

Sebagaimana dilaporkan IRNA mengutip situs berita Sawt al-Maghrib, Senin, 3 Agustus 2026, Rachid Khalfi, Juru Bicara Kementerian Dalam Negeri Maroko, mengatakan, "Selain itu, aktivitas jaringan penyelundupan manusia dan interpretasi yang salah terhadap peraturan hukum dan administratif yang mengisyaratkan kemudahan masuk ke Eropa tanpa konsekuensi, menyebabkan krisis ini."

Ia mengatakan bahwa otoritas pemerintah Maroko sejak awal telah mengadopsi pendekatan preventif dan komprehensif berdasarkan deteksi dini, peningkatan kewaspadaan dan mobilisasi umum, serta peningkatan pengawasan darat dan laut, dan hal ini memungkinkan mereka untuk mengendalikan situasi serta melindungi nyawa manusia dan ketertiban umum.

Jubir Kementerian Dalam Negeri Maroko menyatakan, "Menurut informasi teknis terpercaya yang dimiliki otoritas, sekitar 40.000 orang melakukan upaya penyeberangan ilegal menuju Ceuta, sementara sekitar 1.135 orang berupaya menuju Melilla, dan semuanya segera dikembalikan."

Ia menambahkan bahwa keputusan-keputusan terbaru yang dikeluarkan oleh otoritas peradilan Spanyol, yang membatasi pemulangan segera beberapa imigran yang ditangkap di laut, merupakan faktor penting dalam peristiwa yang terjadi.

Khalfi, dengan menyatakan bahwa interpretasi yang salah terhadap keputusan-keputusan ini telah memperkuat keyakinan di antara mereka yang ingin berimigrasi bahwa mereka dapat menghindari deportasi segera, dan menambahkan, "Hal ini menyebabkan peningkatan penyeberangan dengan berenang, karena para peserta dalam peristiwa ini percaya bahwa jarak yang pendek dan kedalaman yang dangkal akan memberikan peluang sukses yang lebih besar, dan akibatnya menimbulkan konsekuensi yang tragis."

Mengenai korban jiwa dari peristiwa ini, ia mengatakan bahwa hingga saat ini, Kemendagri Maroko memiliki catatan 11 kematian resmi, 10 di antaranya karena tenggelam dan satu karena jatuh dari area berbatu.

Jubir Kementerian Dalam Negeri Maroko juga menambahkan bahwa investigasi dan koordinasi dengan otoritas Spanyol mengenai laporan-laporan tentang kematian lainnya terus berlanjut.

Ia mengatakan bahwa dengan koordinasi otoritas Spanyol, penyeberangan dibuka dan mereka yang ingin kembali diizinkan untuk kembali, dan hal ini membantu pemulihan bertahap wilayah tersebut ke kondisi normal.

Pernyataan jubir Kementerian Dalam Negeri Maroko tentang penyalahgunaan ruang maya, penyebaran rumor, dan berita palsu mengenai gelombang besar imigran ke Ceuta dan Melilla, muncul setelah Gabriel Rufián, anggota parlemen Spanyol, menyatakan bahwa krisis imigrasi telah melayani kepentingan AS dan rezim Israel.

Menteri Transportasi Spanyol juga secara implisit menuding rezim Zionis sebagai dalang di balik krisis ini.

Hubungan antara Spanyol dan rezim Zionis telah memburuk secara drastis sejak dimulainya perang Gaza pada Oktober 2023.

Spanyol adalah salah satu negara Eropa yang paling mengkritik perang Tel Aviv terhadap Gaza. Madrid mengakui negara Palestina pada Mei 2024 dan berulang kali menyerukan gencatan senjata segera dan peningkatan akses kemanusiaan ke Gaza.

Situs Russia Today juga dalam sebuah laporan menulis bahwa bersamaan dengan gelombang imigran, yang sebagian besar adalah warga Maroko, ke Ceuta, wilayah di bawah kedaulatan Spanyol di Afrika utara, para politisi dan tokoh-tokoh Zionis berpengaruh, yang selama beberapa dekade telah menyuarakan kekhawatiran tentang apa yang mereka sebut "Islamisasi" Eropa, menyambut masuknya puluhan ribu imigran Muslim ke wilayah UE dan menggambarkan peristiwa ini sebagai tamparan bagi Perdana Menteri Spanyol.

Berdasarkan laporan ini, setelah Pedro Sánchez menggambarkan perang rezim Israel di Gaza sebagai "genosida", melarang transit barang-barang militer ke Tel Aviv melalui wilayah Spanyol, dan juga menolak izin AS untuk menggunakan pangkalan-pangkalan militer Spanyol untuk menyerang Iran, kaum Zionis menganggap gelombang imigran ke Ceuta ini sebagai hukuman yang adil bagi Spanyol.(Sail)