Dari Wacana ke Aksi: BRICS dan Perlawanan atas Dominasi Dolar
https://parstoday.ir/id/news/world-i196658-dari_wacana_ke_aksi_brics_dan_perlawanan_atas_dominasi_dolar
Pars Today - KTT BRICS ke-18 di New Delhi diselenggarakan dalam kondisi di mana kelompok ini bukan sekadar aliansi ekonomi negara-negara berkembang, melainkan telah menjadi salah satu arena persaingan terpenting atas bentuk tatanan dunia masa depan.
(last modified 2026-09-12T03:56:05+00:00 )
Sep 12, 2026 10:50 Asia/Jakarta
  • KTT BRICS di Indonesia
    KTT BRICS di Indonesia

Pars Today - KTT BRICS ke-18 di New Delhi diselenggarakan dalam kondisi di mana kelompok ini bukan sekadar aliansi ekonomi negara-negara berkembang, melainkan telah menjadi salah satu arena persaingan terpenting atas bentuk tatanan dunia masa depan.

KTT 12–13 September, pada tahun ke-20 pembentukan BRICS, digelar ketika 11 anggota kelompok ini menguasai sekitar 49,5 persen populasi dunia, 40 persen ekonomi global, dan 26 persen perdagangan dunia. Pernyataan Masoud Pezeshkian, Presiden Republik Islam Iran, tentang KTT ini justru berfokus pada persoalan yang sama. BRICS dapat berubah dari sebuah forum ekonomi menjadi alat efektif untuk menghadapi unilateralisme.

Presiden Iran, dengan merujuk pada pembentukan Bank Pembangunan BRICS dan keharusan mengurangi ketergantungan pada dolar, sebenarnya telah mendefinisikan persoalan ini melampaui hubungan dagang. Dari sudut pandang Tehran, persoalan utamanya adalah mengubah aturan main ekonomi internasional dan mengurangi kemungkinan penggunaan politik atas instrumen keuangan dan moneter untuk menekan negara-negara independen.

Tanda-tanda praktis dari perubahan ini juga telah terungkap menjelang KTT. Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral BRICS menuntut reformasi struktur Dana Moneter Internasional dan Bank Dunia serta peningkatan porsi suara negara-negara berkembang. Mereka juga memperingatkan tentang tarif unilateral serta tindakan perdagangan dan keuangan yang memberikan tekanan lebih besar pada ekonomi negara berkembang, dan menekankan pengembangan mekanisme pembayaran lintas batas serta penggunaan mata uang nasional yang lebih luas. Perkembangan ini penting, karena menunjukkan bahwa protes BRICS bukan lagi sekadar politik, melainkan telah berubah menjadi tuntutan reformasi arsitektur keuangan dunia.

Pezeshkian dari perspektif yang sama menilai BRICS sebagai kapasitas untuk menghadapi "totalitarianisme dan unilateralisme". Pentingnya pandangan ini bagi Iran berlipat ganda. Iran selama bertahun-tahun, lebih dari anggota lain mana pun, telah menghadapi dampak politisasi sistem keuangan global, sanksi unilateral, dan penggunaan dolar sebagai alat tekanan. Karena itu, mengurangi ketergantungan pada dolar bagi Iran bukan sekadar tujuan ekonomi, melainkan bagian dari strategi meningkatkan kemandirian politik dan ekonomi.

Namun, pentingnya KTT New Delhi akan diukur dari kemampuan BRICS mengubah slogan-slogan ini menjadi mekanisme nyata. Pembentukan jaringan pembayaran independen, penyelesaian dengan mata uang nasional, penguatan Bank Pembangunan BRICS, dan peningkatan porsi ekonomi berkembang di lembaga keuangan global adalah proses bertahap. Bahkan studi-studi pakar menunjukkan bahwa BRICS dalam jangka pendek tidak berupaya menggantikan dolar sepenuhnya, melainkan lebih berupaya mengurangi ketergantungan padanya secara bertahap.

Di tengah ini, kehadiran Pezeshkian memiliki kepentingan geopolitik khusus. Perang Amerika dan rezim Zionis melawan Iran serta krisis Selat Hormuz telah menghadapkan BRICS pada ujian nyata. Konfrontasi Iran dan Amerika secara langsung memengaruhi keamanan energi dan perdagangan global, dan perbedaan pendapat di antara anggota BRICS tentang krisis ini juga telah terungkap. Karena itu, persoalannya bukan sekadar mengeluarkan pernyataan politik; pertanyaannya adalah apakah BRICS dapat menjadi aktor yang efektif dan independen dalam menghadapi krisis yang memengaruhi tatanan ekonomi dan keamanan dunia, atau tetap berada di tingkat forum dialog.

Pernyataan Pezeshkian di KTT New Delhi sebenarnya mengajukan tuntutan strategis di hadapan BRICS. Jika kelompok ini benar-benar mewakili sebagian besar dunia, ia harus menuntut porsinya dalam pengambilan keputusan tentang aturan ekonomi dan politik internasional. BRICS kini telah melewati tahap pembuktian kapasitasnya dan memasuki tahap ujian. New Delhi dapat menjadi titik di mana protes terhadap unilateralisme berubah menjadi reformasi institusional, kemandirian finansial, dan kerja sama praktis, jalur yang oleh Iran dianggap sebagai cara mengurangi dominasi dolar dan memperkuat multilateralisme.

"KTT BRICS ke-18 di New Delhi (12–13 September) digelar pada tahun ke-20 pembentukan BRICS, dengan 11 anggota menguasai 49,5% populasi dunia, 40% ekonomi global, dan 26% perdagangan dunia. Presiden Iran Masoud Pezeshkian menekankan BRICS sebagai alat efektif menghadapi unilateralisme AS, dengan fokus pada pembentukan Bank Pembangunan BRICS dan pengurangan ketergantungan pada dolar. Menjelang KTT, menteri keuangan dan gubernur bank sentral BRICS menuntut reformasi IMF dan Bank Dunia, peningkatan porsi suara negara berkembang, serta pengembangan mekanisme pembayaran lintas batas dan penggunaan mata uang nasional. Iran memandang ini sebagai bagian dari strategi kemandirian politik dan ekonomi. Namun, keberhasilan KTT diukur dari kemampuan BRICS mengubah slogan menjadi mekanisme nyata. Perang AS-Israel melawan Iran dan krisis Selat Hormuz menjadi ujian nyata bagi BRICS: apakah bisa menjadi aktor efektif dan independen, atau tetap sekadar forum dialog."(Sail)