Bagaimana Perlawanan Yaman Mengalahkan Strategi Saudi?
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i196694-bagaimana_perlawanan_yaman_mengalahkan_strategi_saudi
Menanggapi perkembangan terbaru di Yaman, Kementerian Luar Negeri Republik Islam Iran dalam sebuah pernyataan menyatakan bahwa penyelesaian masalah Yaman tidak mungkin dilakukan melalui kelanjutan pengepungan dan pembentukan kubu-kubu militer.
(last modified 2026-09-13T05:40:49+00:00 )
Sep 13, 2026 12:36 Asia/Jakarta
  • Bagaimana Perlawanan Yaman Mengalahkan Strategi Saudi?

Menanggapi perkembangan terbaru di Yaman, Kementerian Luar Negeri Republik Islam Iran dalam sebuah pernyataan menyatakan bahwa penyelesaian masalah Yaman tidak mungkin dilakukan melalui kelanjutan pengepungan dan pembentukan kubu-kubu militer.

Posisi ini disampaikan dalam kondisi ketika perkembangan terbaru di pesisir barat Yaman kembali memperlihatkan kegagalan pendekatan militer untuk mengendalikan negara tersebut dan telah mengubah keseimbangan kekuatan di salah satu kawasan strategis paling sensitif di Asia Barat. Apa yang terjadi di Yaman saat ini tidak dapat dipisahkan dari lebih dari satu dekade perang, pengepungan, dan intervensi asing.

Pada 2015, Arab Saudi, dengan mengandalkan kekuatan militernya serta dukungan politik, persenjataan, dan intelijen dari Amerika Serikat, mengira bahwa mereka dapat mengubah keseimbangan politik Yaman dalam waktu sesingkat mungkin.

Perhitungan tersebut gagal; koalisi militer tidak mampu mematahkan kehendak rakyat Yaman, juga tidak mampu menciptakan struktur politik yang stabil dan dapat diterima oleh Arab Saudi serta mewujudkan keamanan yang berkelanjutan bagi dirinya sendiri. Kini, setelah lebih dari satu dekade, perang yang semula dimaksudkan untuk membatasi kekuatan Ansarullah justru telah menjadikan kelompok ini sebagai salah satu aktor penentu keamanan di kawasan.

Kemajuan terbaru Houthi di pesisir barat Yaman semakin memperjelas kegagalan strategi tersebut. Penguasaan mereka atas wilayah-wilayah pesisir yang sensitif dan dominasi atas Bab al-Mandab bukan sekadar pencapaian di medan perang. Perkembangan ini mengubah geografi kekuatan. Kelompok yang sebelumnya terutama dipandang dalam konteks dinamika internal Yaman kini menguasai salah satu jalur sempit maritim terpenting di dunia. Jalur ini merupakan salah satu rute penting dari Asia menuju Eropa. Oleh karena itu, perkembangan di pesisir barat Yaman berkaitan langsung dengan keamanan pelayaran, perdagangan global, dan transportasi energi.

Dalam konteks ini, reaksi Riyadh juga penting. Permintaan Arab Saudi kepada Amerika Serikat untuk meningkatkan dukungan dalam menghadapi kemajuan Houthi memberikan gambaran yang jelas mengenai kebuntuan strategis Saudi. Arab Saudi, dengan salah satu angkatan bersenjata paling mahal di kawasan, memasuki perang dengan Yaman, tetapi setelah bertahun-tahun masih membutuhkan Washington untuk menjamin keamanannya menghadapi kekuatan yang semula diperkirakan akan dikalahkan dalam waktu singkat. Inilah kontradiksi yang harus ditempatkan di pusat analisis perang Yaman. Kekuatan militer yang dibeli dari luar tidak serta-merta menghasilkan kekuatan politik.

Pernyataan Fouad Ibrahim, peneliti Saudi, juga penting dari sudut pandang ini. Ia tidak menjelaskan kekalahan pasukan yang berafiliasi dengan koalisi hanya dengan pengkhianatan atau jual beli pasukan, melainkan menekankan keberanian pasukan Yaman. Kenyataan ini mengungkap salah satu kelemahan mendasar strategi Saudi. Perang dimulai dengan uang, senjata, dan pasukan proksi, tetapi di medan perang berhadapan dengan motivasi dan kehendak politik. Suatu bangsa yang memandang perang sebagai perang untuk mempertahankan kedaulatan dan wilayahnya tidak dapat dikalahkan hanya dengan keunggulan persenjataan.

Amerika Serikat juga tidak dapat melepaskan diri dari tanggung jawab dalam persamaan ini. Washington selama perang memberikan dukungan intelijen, persenjataan, dan politik kepada koalisi Saudi, tetapi kini menghadapi hasil yang sangat jauh dari tujuan awal intervensinya. Amerika Serikat ingin memperkuat tatanan keamanan yang diinginkannya di kawasan, tetapi dalam praktiknya, perang Yaman telah mengguncang salah satu fondasi tatanan tersebut.

Oleh karena itu, kenyataan saat ini adalah bahwa perang Yaman lebih banyak memperlihatkan keterbatasan kekuatan Arab Saudi daripada menunjukkan kekuatannya, dan lebih banyak menyingkap biaya ketergantungan keamanan pada Washington daripada memperkuat kredibilitas intervensi Amerika Serikat.

Dari perspektif ini, pernyataan Kementerian Luar Negeri Iran membawa pesan yang lebih luas daripada sekadar seruan untuk meredakan ketegangan. Iran menyatakan bahwa krisis Yaman tidak akan terselesaikan dengan menjadikan negara tersebut sebagai arena persaingan militer kekuatan-kekuatan asing. Keamanan Laut Merah juga tidak dapat diwujudkan dengan menyingkirkan salah satu pihak dari persamaan dan memberlakukan pengaturan keamanan dari luar. Solusinya adalah kembali pada dialog, menghormati kedaulatan nasional Yaman, mengakhiri pengepungan, dan mengakui hak-hak rakyat negara tersebut.