65% Pekerja AS Cari Kerja demi Tekan Biaya Bensin
-
Harga bensin di AS
Pars Today - Agresi militer Amerika terhadap Iran menciptakan masalah tak terduga bagi warga Amerika dan 65 persen pekerja mencari pekerjaan yang dapat mengurangi biaya bensin mereka.
Melansir ISNA, Minggu, 27 September 2026, dengan dimulainya agresi militer Amerika terhadap Iran, Gedung Putih mengumumkan kepada pasar dan konsumen bahwa operasi ini akan berjangka pendek, tetapi tujuh bulan kemudian, konsekuensi ekonomi agresi militer ini merambat ke pasar kerja Amerika, sehingga para pekerja kini mempertimbangkan harga minyak dalam ekspektasi karier mereka.
Berdasarkan hasil penelitian baru platform pencarian kerja "Monster", 65 persen orang yang berniat berganti pekerjaan telah mengubah prioritas mereka dalam mencari kerja akibat kenaikan harga bensin; 23 persen menyatakan mencari pekerjaan yang lebih dekat ke tempat tinggal mereka, dan 17 persen juga lebih memperhatikan besaran gaji untuk mengompensasi kenaikan biaya perjalanan.
Dalam survei ini, 20 persen mengatakan, mereka memprioritaskan pekerjaan yang sepenuhnya jarak jauh (remote), dan lima persen juga melamar pekerjaan yang sepenuhnya di tempat (on-site).
Penelitian ini dilakukan dalam kondisi di mana rata-rata harga bensin di Amerika mendekati 4,50 dolar per galon. Pada saat penulisan ini, rata-rata harga nasional bensin oktan menengah sedikit di atas lima dolar dan harga diesel juga di atas 6,50 dolar. Sebulan lalu, harga per galon bensin biasa di Amerika sekitar 4,10 dolar, sementara angka ini setahun lalu adalah 3,15 dolar dan harga minyak mentah di sepanjang tahun 2026 meningkat secara bertahap.
Jika harga bensin tetap tinggi, para pemberi kerja yang berupaya menarik tenaga kerja mungkin terpaksa menemukan solusi kreatif untuk mendorong pelamar menerima perjalanan yang lebih jauh.
Ketika para pekerja ditanya apa yang diperlukan untuk menerima perjalanan 20 menit lebih lama dari waktu perjalanan yang mereka inginkan, 32 persen pekerja Amerika mengatakan mereka membutuhkan setidaknya kenaikan gaji 20 persen. Sepuluh persen lainnya mengatakan: dengan kenaikan gaji 10 persen mereka akan menerima perjalanan ini, sementara 11 persen menyatakan jadwal kerja yang lebih fleksibel yang mencakup kerja hibrida dapat mendorong mereka melakukan hal itu.
Sembilan persen juga menyatakan jika biaya bensin mereka dikompensasi, mereka bersedia melakukan perjalanan ini, tetapi 30 persen mengatakan: baik masalah finansial maupun fleksibilitas kerja tidak dapat mendorong mereka menerima perjalanan yang lebih lama dari pekerjaan mereka saat ini.
Menurut lebih dari 1.000 peserta survei ini, perjalanan dapat menjadi faktor penentu dalam jalur karier. Hampir setengah pekerja Amerika (49 persen) mengatakan: biaya atau durasi perjalanan menyebabkan mereka menolak peluang kerja. Tujuh puluh lima persen juga menyatakan kenaikan biaya hidup membuat keseimbangan antara kerja dan kehidupan menjadi lebih penting bagi mereka.
Dalam dekade-dekade mendatang, akan tercipta semacam keseimbangan antara pemberi kerja yang menginginkan kehadiran karyawan di tempat kerja dan generasi yang lebih muda yang memprioritaskan keseimbangan kerja-kehidupan.
Mark Dixon, CEO perusahaan "IWG", penyedia ruang kerja terbesar di dunia, meyakini perjalanan mungkin akan hilang dalam 15 tahun ke depan. Ia mengatakan: Di masa depan, Anda akan menjelaskan kepada anak-anak Anda bahwa dulu Anda harus melakukan perjalanan untuk pergi ke tempat kerja. Mereka akan menganggapnya hal aneh bahwa manajer dulu meminta karyawannya menempuh 100 mil untuk duduk dan menggunakan komputer.
Berdasarkan laporan Fortune, saat ini tampaknya semacam keseimbangan telah tercapai. Berdasarkan data perusahaan penyedia layanan keamanan "Kastle Systems" yang memantau tingkat kehadiran karyawan di tempat kerja di 10 kota besar Amerika termasuk New York, Washington, Los Angeles, dan Austin, kehadiran 53 persen karyawan di kantor telah menjadi normal baru.
"Agresi militer AS terhadap Iran menciptakan masalah tak terduga bagi warga AS; tujuh bulan setelah Gedung Putih menjanjikan operasi jangka pendek, konsekuensi ekonominya merambat ke pasar kerja. Survei platform Monster: 65% pekerja yang ingin berganti kerja mengubah prioritas akibat kenaikan harga bensin; 23% mencari kerja lebih dekat rumah; 17% lebih perhatikan gaji; 20% prioritaskan kerja remote; 5% melamar kerja on-site."(Sail)