Apakah Ansarullah Telah Mengacaukan Persamaan Militer Arab Saudi?
-
Yaman
Pars Today – Sementara Arab Saudi membutuhkan bantuan asing untuk memperkuat pertahanan udaranya, surat kabar "The National" dalam sebuah laporan mengabarkan tentang kekurangan rudal pencegat dan keterbatasan Inggris serta Prancis untuk mengirim lebih banyak sistem ke Riyadh.
Situasi ini bukan hanya krisis persenjataan bagi Arab Saudi, melainkan tanda kegagalan strategis yang seharusnya dengan bersandar pada keunggulan militer, memaksakan kehendak politik Arab Saudi terhadap Yaman, tetapi kini juga menghadapkan keamanan infrastruktur vital Arab Saudi sendiri pada tantangan. Riyadh pada tahun 2015 dengan membentuk koalisi militer dan memulai operasi terhadap Ansarullah, mengklaim akan mengembalikan pemerintah yang didukungnya dan mengubah keseimbangan kekuatan di Yaman. Setelah bertahun-tahun berlalu, tujuan-tujuan ini tidak sepenuhnya tercapai.
Serangan udara besar-besaran, biaya persenjataan yang berat, dan dukungan kekuatan-kekuatan Barat tidak mampu menghapus Ansarullah dari persamaan politik dan militer Yaman. Penelitian yang diterbitkan pada tahun 2025 dalam jurnal ilmiah Alternatives juga menilai kegagalan koalisi dalam mewujudkan tujuan-tujuan yang diumumkan, lemahnya koordinasi antar anggota, dan keterbatasan strategi militeristik Arab Saudi sebagai pelajaran utama dari intervensi ini. Kini kembalinya ancaman ke dalam wilayah Arab Saudi, telah membuat biaya perhitungan ini lebih nyata.
Laporan "The National" tentang kekurangan rudal pencegat dan sulitnya memperoleh lebih banyak sistem, menunjukkan dimensi baru dari krisis ini. Arab Saudi adalah salah satu pengguna terbesar sistem Patriot dan telah mengeluarkan biaya besar untuk membeli peralatan canggih; namun, luasnya geografi negara, tersebarnya fasilitas energi, dan banyaknya sasaran, membuat pertahanan penuh menjadi sulit. Serangan rudal dan drone Ansarullah juga telah menunjukkan bahwa memiliki peralatan mahal, dengan sendirinya tidak menciptakan imunitas.
Drone dan rudal yang lebih murah dapat memaksa pihak lawan untuk menghabiskan pencegat yang sangat mahal. Dengan berkurangnya cadangan, bahkan sistem-sistem canggih juga menghadapi keterbatasan operasional. Inilah titik lemah strategis yang mengejar keamanan terutama melalui jalur pembelian persenjataan asing, tanpa memasukkan biaya perang attrition dan kemampuan penggantian amunisi secara memadai dalam perhitungannya.
Sementara itu, Ansarullah tidak boleh dinilai semata-mata dengan ukuran volume gudang senjata dan keunggulan teknologi lawan. Gerakan ini meskipun dengan keterbatasan sumber daya dibandingkan dengan militer Arab Saudi, telah mampu membebankan biaya militer dan keamanan yang signifikan kepada Riyadh. Mengenali titik-titik kerentanan, kelanjutan operasi, dan pemanfaatan alat-alat yang lebih murah, telah menciptakan persamaan yang tidak mampu diselesaikan secara berkelanjutan oleh keunggulan persenjataan Arab Saudi. Realitas ini menunjukkan bahwa memaksakan kehendak politik melalui jalur kekerasan, khususnya dalam masyarakat yang terjebak dalam perang panjang, jauh lebih sulit dari perkiraan awal.
Krisis saat ini sekaligus mengungkap keterbatasan aliansi-aliansi asing. Inggris dan Prancis harus menyeimbangkan antara membantu Arab Saudi dan mempertahankan kemampuan deterrence terhadap Rusia. Amerika juga menghadapi tekanan pada cadangan amunisi dan berbagai komitmen kawasan. Dalam kondisi seperti ini, pemerintah-pemerintah terpaksa terlebih dahulu memenuhi keamanan nasional dan kepentingan vital mereka sendiri dan kemudian memenuhi komitmen mereka terhadap mitra-mitra. Aliansi politik bukanlah jaminan akses tak terbatas terhadap peralatan militer.
Perkembangan-perkembangan ini menonjolkan perlunya peninjauan kembali kebijakan keamanan Arab Saudi. Berlanjutnya persaingan militer dan upaya memaksakan tuntutan terhadap Yaman, tanpa solusi politik yang berkelanjutan, dapat memperpanjang siklus serangan dan pembalasan. Keamanan berkelanjutan lebih mudah dicapai bukan dengan penumpukan persenjataan tanpa akhir, melainkan dengan mengurangi landasan-landasan konflik, diplomasi kawasan, dan menerima realitas-realitas politik Yaman.
Pelajaran strategisnya jelas: Kekuatan militer dapat membebankan biaya, tetapi tidak menjamin kemenangan politik. Arab Saudi setelah bertahun-tahun perang, kini menghadapi baik keterbatasan strategi militernya sendiri maupun sulitnya memperoleh pertahanan udara. Laporan "The National" menyajikan gambaran tentang kekurangan persenjataan; tetapi di balik kekurangan ini, terdapat pertanyaan yang lebih besar: Mengapa biaya militer yang berat tidak mampu menciptakan keamanan berkelanjutan bagi Riyadh? (MF)