Pergantian Pemerintahan di Amerika Latin, Akankah Pengaruh Tiongkok Menyusut?
-
Presiden Brasil Luiz Inácio Lula da Silva dan Presiden Tiongkok Xi Jinping
Pars Today - Menurut analisis sejumlah media Barat, naiknya para presiden yang bersekutu dengan Amerika Serikat di Amerika Latin berpotensi mengurangi pengaruh politik Beijing. Namun, tingginya ketergantungan ekonomi negara-negara di kawasan tersebut pada pasar bahan mentah dan investasi Tiongkok akan menghalangi pemutusan hubungan dagang secara menyeluruh dan mendasar.
Menurut laporan IRNA yang mengutip bagian berbahasa Spanyol dari situs Sputnik Mundo, Senin, 19 Oktober 2026, ketergantungan kuat ekonomi Amerika Latin pada pembelian bahan mentah oleh Tiongkok, serta investasi negara itu di sektor infrastruktur, bertindak sebagai jangkar yang membatasi ruang gerak geopolitik negara-negara kawasan untuk semakin mendekat ke Washington.
Analisis tersebut berkembang di sejumlah media Barat setelah kemenangan para presiden yang sejalan dengan pemerintahan Partai Republik di Amerika Serikat di sebagian besar kawasan itu. Dalam konteks ini, sejumlah contoh konkret disoroti, termasuk Kolombia, tempat presiden baru Abelardo de la Espriella sedang mempertimbangkan kemungkinan keluar dari Inisiatif Sabuk dan Jalan Tiongkok. Contoh lainnya adalah Keiko Fujimori di Peru.
Namun, dalam kedua kasus tersebut, posisi Tiongkok sebagai pembeli utama sumber daya seperti tembaga menjadi faktor pembatas bagi langkah menjauh yang radikal dan mendasar dari Beijing.
Di Brasil, persaingan pada putaran kedua pemilihan presiden antara Presiden petahana Luiz Inácio Lula da Silva dan senator sayap kanan ekstrem Flávio Bolsonaro disebut sebagai salah satu teka-teki terbesar bagi keseimbangan kawasan. Meski menghadapi kemungkinan perubahan politik tersebut, media Barat menyoroti bahwa Tiongkok tetap menjadi tujuan utama ekspor Brasil. Pada 2025, negara itu menyerap sekitar 28,7 persen dari total ekspor Brasil. Kondisi ini menunjukkan bagaimana hubungan ekonomi yang saling melengkapi dapat lebih menentukan arah kebijakan dibandingkan orientasi ideologis pemerintahan.
Menurut para pakar, hubungan perdagangan bilateral yang sebelumnya hanya bertumpu pada penjualan bahan mentah kini memasuki tahap baru. Kedua pihak mulai bersaing dalam sektor industri dan rantai pasok strategis.
Selain itu, para pakar menekankan adanya perbedaan mendasar antara ketergantungan pada perdagangan dan ketergantungan pada modal besar dari Tiongkok. Meski Beijing membeli sekitar sepertiga produk pertambangan dan pertanian kawasan tersebut, porsi Tiongkok dalam keseluruhan investasi asing langsung di Amerika Latin bahkan tidak mencapai 10 persen. Hal ini menunjukkan bahwa kehadiran raksasa Asia tersebut tidak tersebar secara merata, melainkan diarahkan secara selektif dan terkonsentrasi pada sektor serta aset strategis tertentu.
Di sisi lain, analisis tersebut membandingkan situasi saat ini dengan data Komisi Ekonomi untuk Amerika Latin dan Karibia (CEPAL). Data itu menunjukkan bahwa ekspor kawasan ke Tiongkok meningkat tajam sebesar 24 persen pada paruh pertama 2026.
Meski demikian, negara-negara di kawasan tersebut juga berupaya memperluas kemitraan dagang dengan menjajaki pasar baru, seperti India dan Asia Tenggara. Pada saat yang sama, perdagangan dengan Amerika Serikat tetap berjalan kuat meskipun pemerintahan Donald Trump memberlakukan tarif.
Selama dua dekade terakhir, Tiongkok secara bertahap menjadi pemain utama di Amerika Latin dan Karibia. Kini, negara tersebut merupakan mitra dagang terbesar kedua kawasan itu setelah Amerika Serikat. Pada 2024, nilai perdagangan Tiongkok dengan Amerika Latin dan Karibia melampaui 500 miliar dolar AS. Angka tersebut menjadikan Beijing bukan hanya mitra dagang terbesar kedua, tetapi juga pemberi pinjaman pemerintah terbesar bagi negara-negara di kawasan itu.
Menurut berbagai laporan, berbeda dengan pengaruh tradisional Amerika Serikat, strategi Tiongkok memiliki ciri geopolitik tersendiri: pragmatisme perdagangan yang kuat dan kebijakan ketat untuk menghindari campur tangan dalam politik dalam negeri negara lain.
Pergantian pemerintahan di Amerika Latin menuju pemimpin yang lebih dekat dengan AS berpotensi mengurangi pengaruh politik Tiongkok, tetapi tidak serta-merta memutus hubungan ekonomi.
"Ketergantungan pada pasar Tiongkok, terutama untuk ekspor bahan mentah seperti tembaga, membatasi kemampuan negara-negara kawasan untuk menjauh secara drastis dari Beijing. Tiongkok tetap menjadi tujuan utama ekspor Brasil, dengan porsi sekitar 28,7 persen pada 2025. Walaupun membeli sekitar sepertiga produk pertambangan dan pertanian kawasan, porsi Tiongkok dalam total investasi asing langsung di Amerika Latin kurang dari 10 persen."(Sail)