Narasi Sejarah Palsu Rubio untuk Membenarkan Kebijakan Dominasi Amerika Serikat
https://parstoday.ir/id/news/world-i198290-narasi_sejarah_palsu_rubio_untuk_membenarkan_kebijakan_dominasi_amerika_serikat
Ismail Baghaei, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, menanggapi pernyataan Marco Rubio di Athena dengan menyebut narasi Menteri Luar Negeri Amerika Serikat tentang sejarah sebagai bentuk distorsi dan upaya untuk memberikan legitimasi terhadap penggunaan kekuatan secara terang-terangan.
(last modified 2026-10-10T05:30:43+00:00 )
Okt 10, 2026 12:28 Asia/Jakarta
  • Narasi Sejarah Palsu Rubio untuk Membenarkan Kebijakan Dominasi Amerika Serikat

Ismail Baghaei, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, menanggapi pernyataan Marco Rubio di Athena dengan menyebut narasi Menteri Luar Negeri Amerika Serikat tentang sejarah sebagai bentuk distorsi dan upaya untuk memberikan legitimasi terhadap penggunaan kekuatan secara terang-terangan.

Di Akropolis, Rubio berusaha menghubungkan Yunani Kuno dengan Amerika Serikat di bawah pemerintahan Trump, dengan menjadikan hasrat akan kekuasaan, klaim superioritas, dan penggunaan kekuatan sebagai bagian dari warisan peradaban Barat. Ia bahkan menjadikan ekspedisi militer Xerxes ke Yunani sebagai pengantar bagi narasinya tentang identitas Barat dan perlunya memulihkan kekuatan Amerika. Persoalan utama pidato ini bukan semata-mata distorsi sejarah Iran, melainkan penggunaan masa lalu sebagai alat untuk membenarkan dominasi dan menormalisasi penggunaan kekuatan di dunia saat ini.

Rubio membuka pidatonya dengan serangan pasukan Xerxes terhadap Athena pada 480 SM. Ia kemudian beralih dari Yunani Kuno ke Romawi, Kekristenan, Eropa, dan Amerika Serikat, lalu menghubungkan semuanya dalam satu narasi. Dalam narasi tersebut, ambisi, persaingan, klaim superioritas, dan kesiapan berperang diperkenalkan sebagai hakikat peradaban Barat. Ia juga mendefinisikan ulang konsep Yunani thymos dalam kerangka kehendak nasional dan kekuatan, agar kebijakan pemerintahan Trump tampak sebagai kelanjutan alami dari warisan Yunani Kuno.

Tanggapan Ismail Baghaei, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, terhadap distorsi sejarah oleh Rubio secara tepat menyasar pendekatan tersebut. Ia memandang narasi Rubio sebagai contoh anakronisme, yakni pencampuradukan periode-periode sejarah yang berbeda dan penyederhanaan perkembangan peradaban yang kompleks menjadi sebuah jalur lurus yang seolah-olah telah ditentukan sebelumnya. Yunani Kuno, Romawi, Kekristenan, Eropa, dan Amerika Serikat terbentuk dalam kondisi sejarah yang berbeda-beda.

Menghubungkan semuanya ke dalam satu narasi tentang superioritas Barat bukanlah upaya menjelaskan sejarah, melainkan merekonstruksi masa lalu untuk membenarkan kebijakan masa kini. Rubio memilih bagian-bagian sejarah yang mendukung argumen politiknya. Dalam pidatonya, Yunani digambarkan sebagai negeri para pahlawan, penakluk, dan persaingan untuk meraih keunggulan. Padahal, warisan Yunani tidak terbatas pada perang dan kekuasaan. Peradaban yang sama juga merupakan tempat lahirnya pemikiran kritis mengenai keadilan, kesombongan, tanggung jawab manusia, dan batas-batas kekuasaan.

Rubio ingin mendefinisikan kebijakan pemerintahan Trump dalam kerangka sebuah misi peradaban. Pembangunan kembali industri Amerika, penguasaan teknologi strategis, peningkatan kekuatan militer, dan pemulihan kekuatan nasional, dalam pidatonya, merupakan bagian dari proyek untuk mengembalikan Barat ke posisi unggul di dunia. Diplomasi pun hanya dianggap penting sejauh mampu menjamin kepentingan Amerika. Jika diplomasi gagal, penggunaan kekuatan tetap diperkenalkan sebagai pilihan yang diperlukan.

Di sinilah sejarah ditempatkan untuk melayani politik kekuasaan. Washington berupaya menggambarkan pilihan-pilihan politiknya bukan sebagai keputusan yang dapat dikritik, melainkan sebagai keharusan sejarah. Ketika kekuatan Amerika diperkenalkan sebagai jaminan kelangsungan peradaban Barat, penolakan negara-negara lain terhadap tuntutan Washington pun dengan mudah ditempatkan sebagai penghalang bagi misi tersebut. Bahasa filsafat dan peradaban menyediakan selubung bagi tekanan dan intimidasi, sementara politik dominasi tampil dengan kedok pembelaan terhadap warisan sejarah.

Persoalan yang lebih penting adalah penggunaan masa lalu untuk kepentingan politik. Perang-perang pada zaman kuno, alih-alih dikaji dalam konteks sejarahnya sendiri, dijadikan alat untuk membangun citra Iran sebagai ancaman. Dalam narasi ini, sejarah tidak lagi menjadi ruang untuk memahami sebab, akibat, dan tanggung jawab, melainkan sarana untuk memberikan label kepada bangsa-bangsa dan membentuk opini publik. Peringatan Baghaei, dari sudut pandang ini, melampaui sekadar protes diplomatik. Ia menunjuk pada suatu mekanisme ketika masa lalu direkonstruksi agar kebijakan masa kini tampak tidak terhindarkan.

Kekuatan yang mengklaim dirinya sebagai pewaris peradaban superior dapat menggambarkan penggunaan kekerasan bukan sebagai keputusan politik yang mengandung tanggung jawab, melainkan sebagai tugas historis. Dalam situasi seperti ini, sejarah yang semestinya menjadi sarana untuk mengkritik kekuasaan justru berubah menjadi alat untuk memberikan legitimasi terhadap dominasi. Bahaya utama pidato Rubio bukan semata-mata distorsi sejarah Iran, melainkan pengultusan kekuasaan dan pemberian legitimasi terhadap penggunaan kekuatan pada masa kini.

Peradaban tidak dapat dinilai hanya berdasarkan penaklukan dan kekuatan militer. Kemampuan untuk mengkritik kekuasaan, mengendalikan kekerasan, dan menerima tanggung jawab juga merupakan bagian dari warisan peradaban. Sejarah bukanlah hak eksklusif negara-negara besar, dan tidak ada negara yang dapat mengambil alih masa lalu untuk membuat kebijakan masa kininya tampak tidak terhindarkan. Penggunaan kekuatan, bahkan ketika dibungkus dengan filsafat dan peradaban, tidak serta-merta berubah menjadi kebenaran. Demikian pula, dominasi tidak akan berubah menjadi kebajikan hanya dengan terus-menerus mengatasnamakan peradaban.