Australia Kehilangan Daya Tarik di Mata Mahasiswa Asing
https://parstoday.ir/id/news/world-i198462-australia_kehilangan_daya_tarik_di_mata_mahasiswa_asing
Pars Today - Universitas-universitas Australia menghadapi masalah yang semakin meningkat dalam menarik mahasiswa internasional, krisis yang diperdalam oleh kenaikan biaya visa, tingginya tingkat penolakan permohonan, dan mengerasnya posisi politik terhadap imigrasi.
(last modified 2026-10-12T07:14:01+00:00 )
Okt 12, 2026 14:11 Asia/Jakarta
  • Universitas Charles Sturt australia
    Universitas Charles Sturt australia

Pars Today - Universitas-universitas Australia menghadapi masalah yang semakin meningkat dalam menarik mahasiswa internasional, krisis yang diperdalam oleh kenaikan biaya visa, tingginya tingkat penolakan permohonan, dan mengerasnya posisi politik terhadap imigrasi.

Di tengah kondisi ini, universitas-universitas di daerah yang jauh dari kota-kota besar menanggung dampak paling parah, dan para pejabat memperingatkan bahwa penurunan pendapatan dapat berujung pada merosotnya kualitas layanan pendidikan bagi mahasiswa Australia sendiri.

Menurut laporan ISNA mengutip The Guardian, berdasarkan statistik terbaru Kementerian Pendidikan Australia pada bulan Oktober, universitas-universitas di negara itu rata-rata hanya mengisi sekitar dua pertiga dari kapasitas yang dialokasikan untuk penerimaan mahasiswa asing. Dari universitas-universitas negeri, hanya lima universitas yang berhasil mengisi lebih dari 80 persen kapasitasnya, dan semuanya berada di pusat kota-kota besar.

Universitas Charles Sturt, salah satu institusi pendidikan tinggi yang beroperasi di berbagai wilayah Negara Bagian New South Wales, hanya mengisi 40 persen dari kapasitas penerimaan mahasiswa internasionalnya pada tahun ini. Mike Ferguson, Wakil Rektor universitas ini untuk urusan mahasiswa internasional, mengatakan jumlah mahasiswa tersebut turun 35 persen dibandingkan tahun lalu dan kini hanya mencapai 20 persen dari tingkat sebelum pandemi COVID-19.

Universitas ini memperkirakan bahwa jarak antara perekrutan mahasiswa asing sebelum dan sesudah pandemi telah merugikan pendapatannya sebesar 35 juta dolar Australia. Sebagai respons terhadap situasi ini, universitas mengumumkan pengurangan lapangan kerja dan restrukturisasi organisasinya.

Ferguson menilai kenaikan biaya permohonan visa menjadi 2.500 dolar Australia dan tingginya tingkat penolakan permohonan sebagai faktor utama krisis ini. Menurutnya, tingkat penolakan visa pemohon dari sejumlah negara Asia Selatan mencapai sekitar 53 persen; kondisi yang dapat membuat calon mahasiswa mengurungkan niat untuk belajar di Australia.

Masalah keuangan juga menjalar ke universitas-universitas lain. Universitas Western Sydney memperingatkan bahwa penurunan pendapatan dari uang kuliah mahasiswa asing menekan kemampuan universitas untuk menutupi biaya mahasiswa domestik dan menyediakan layanan pendidikan. Universitas Adelaide juga setelah merger dengan Universitas Australia Selatan hanya mencapai 60 persen dari kapasitas penerimaan mahasiswa internasionalnya dan menghadapi kemungkinan defisit pendapatan sebesar 90 juta dolar.

Pemerintah Australia untuk tahun 2026 menetapkan batas terencana penerimaan mahasiswa internasional sebanyak 295 ribu orang, tetapi tren saat ini menunjukkan kemungkinan hanya sekitar 250 ribu mahasiswa yang akan tertarik.

Di samping kekhawatiran finansial, penurunan jumlah mahasiswa asing dapat memperparah kekurangan tenaga ahli di daerah-daerah regional. Daerah-daerah yang saat ini pun menghadapi kekurangan perawat, guru, insinyur, serta tenaga kerja di bidang perawatan anak dan lansia. Dengan demikian, kebijakan imigrasi yang membatasi mungkin tidak hanya memengaruhi universitas, tetapi juga pasar kerja dan layanan publik Australia.

"Universitas-universitas Australia menghadapi krisis perekrutan mahasiswa internasional akibat kenaikan biaya visa, tingginya tingkat penolakan permohonan, dan posisi politik yang mengeras terhadap imigrasi. Rata-rata universitas hanya mengisi dua pertiga kapasitas, dan universitas di daerah terpencil paling terdampak. Universitas Charles Sturt, misalnya, hanya mengisi 40 persen kapasitas dan kehilangan 35 juta dolar Australia."(Sail)