Motif Latihan Perang Bersama Pakistan dan Rusia
Pakistan dan Rusia meningkatkan kerja sama militer dengan menggelar manuver militer bersama yang berlangsung selama dua pekan dari 24 September hingga 10 Oktober 2016.
Latihan perang ini merupakan yang pertama kali digelar setelah Islamabad dan Moskow berada di pihak yang berlawanan di era perang dingin. Selama ini, Pakistan dikenal cukup dekat dengan Barat. Oleh karena itu, para analis politik menilai digelarnya latihan perang bersama Rusia dan Pakistan kali ini sebagai langkah penting bagi peningkatan kerja sama militer kedua negara. Masalah ini memicu reaksi dari India, dan New Delhi memantau dari dekat kerja sama militer Moskow dan Islamabad dengan kekhawatiran.
Juru bicara militer Pakistan, Asim Saleem Bajwa mengungkapkan bahwa latihan perang bersama "Persahabatan 2016" ini digelar di provinsi Khyber-Pakhtunkhwa di wilayah barat laut Pakistan, yang berdekatan dengan perbatasan India.
Analis militer menilai latihan perang bersama Pakistan dan Rusia kali ini menunjukkan perubahan model kerja sama militer di kawasan Asia selatan. Pasalnya, hubungan Pakistan dan AS baru-baru ini renggang. Washington terus menekan Islamabad supaya bekerja sama dengan AS dalam masalah Afghanistan. Menyikapi eskalasi tekanan Gedung Putih tersebut, Islamabad menyatakan bahwa opsi selain AS dan Barat terbuka. Dengan pertimbangan ini, Pakistan merapat ke Rusia dan Cina. Pada saat yang sama, Moskow menyambut uluran tangan Islamabad untuk menarik sebanyak-banyaknya dukungan dari negara-negara yang selama ini merapat ke Barat. Friksi antara Rusia dan negara-negara Barat mengenai konflik Ukraina menyebabkan konfrontasi blok barat dan timur belakangan kembali menguat.
Selama ini India meningkatkan hubungan kerja sama militer dan rudal dengan AS dan rezim Zionis dalam beberapa tahun terakhir. Tidak hanya itu, New Delhi juga menandatangani kerja sama militer, terutama pembelian alutsista dengan Prancis demi meningkatkan kekuatan militernya di Asia Selatan. Kebijakan India tersebut memicu kompetisi pamer kekuatan militer di kawasan, terutama reaksi dari Pakistan yang selama ini dipandang sebagai rivalnya di kawasan.
Pakistan memandang kesediaan Moskow untuk bekerja sama dengan Islamabad di bidang militer, dan kekuatan militer Rusia, terutama kecanggihan alutsistanya dalam menghadapi kelompok teroris Daesh di Suriah, menunjukkan negara ini bisa dijadikan mitra untuk menghadapi milisi Taliban Afghanistan. Selain itu, kedua negara memiliki musuh bersama menghadapi kelompok teroris, terutama Daesh yang sudah memasuki kawasan Asia selatan.
Bagi Pakistan, manuver militer kali ini menunjukkan kepada Barat, terutama AS bahwa Islamabad bisa mengakses senjata tidak hanya dari mereka saja, tapi juga memiliki mitra lain yang juga kuat yaitu Rusia. Rusia memandang manuver militer kali ini sebagai ajang untuk meloloskan produk senjata dan alutsistanya di kawasan Asia Selatan, terutama Pakistan. Selain itu, manuver militer ini sebagai bentuk jawaban atas kekhawatiran Islamabad mengenai kerja sama militer India dengan rezim Zionis dan AS. Sebab, AS menunjukkan sikapnya memilih New Delhi sebagai mitra regional Washington, dan Islambad memilih Moskow sebagai sekutunya.(PH)