Pertarungan AS dan Rusia di Suriah
Dewan Keamanan PBB pada hari Ahad (25/9/2016) akan menggelar sidang untuk membahas situasi di Aleppo, Suriah atas permintaan Amerika Serikat, Inggris, dan Perancis. Sidang ini digelar setelah kelompok yang disebut Friends of Syria melakukan dua pertemuan alot di sela-sela sidang tahunan Majelis Umum PBB di New York.
Pada hari Ahad, Dewan Keamanan secara khusus akan membahas situasi kota Aleppo di utara Suriah, menyusul gagalnya gencatan senjata yang dimediasi oleh menteri luar negeri Rusia dan AS serta meningkatnya pertempuran di Aleppo. Kedua pihak saling menyalahkan atas kegagalan tersebut dan Barat menuding Rusia bertanggung jawab dalam masalah ini.
AS dan sejumlah menlu negara-negara anggota Uni Eropa dalam sebuah statemen bersama pada hari Sabtu, menyatakan bahwa tanggung jawab menegakkan gencatan senjata di Suriah ada di pundak Rusia. Mereka menekan Moskow untuk memberikan akses langsung untuk bantuan kemanusiaan, mencegah serangan militer Suriah terhadap apa yang mereka sebut warga sipil, dan menyiapkan kondisi yang diperlukan untuk memulai perundingan tentang transisi politik yang dipimpin PBB.
Para menlu Perancis, Italia, Jerman, Inggris, AS, dan perwakilan tinggi Uni Eropa menandatangani pernyataan bersama itu dan dengan sebuah pesan bernada ancaman kepada Rusia, mereka mengatakan bahwa kesabaran atas ketidakmampuan Moskow atau keengganan untuk mematuhi komitmen ini, ada batasnya.
Rusia dan AS memainkan peran penting di arena politik Suriah dan kedua pihak juga sama-sama memiliki hak veto di Dewan Keamanan PBB. Kedua adidaya ini sedang mencoba mengelola situasi di lapangan dan arena politik Suriah demi mencapai tujuan masing-masing.
Kebijakan Rusia di Suriah telah menambah bobot politik dan militer Suriah dalam melawan para teroris dan oposisi bersenjata. AS melalui kerjasama dan konsultasi dengan Rusia, juga tengah mencoba untuk memperkuat front penentang Presiden Bashar al-Assad dengan berbagai cara.
Landasan kerjasama ini adalah perang melawan terorisme dan mengakhiri krisis Suriah lewat jalur politik, tetapi Moskow dan Washington sama-sama beda tujuan di Suriah. Dalam konteks kerjasama ini, AS memperkuat oposisi bersenjata yang disebut kubu moderat untuk menyingkirkan Assad, yang memiliki peran penting dalam mempertahankan dan memperkuat front perlawanan anti-Zionis.
Jadi, para teroris dan oposisi bersenjata yang didukung Washington sedang mengejar tujuan-tujuan AS di Suriah. Kebijakan Washington ini tentu akan menggagalkan segala jenis gencatan senjata di Suriah.
Teroris memang dikecualikan dari setiap kesepakatan gencatan senjata, namun opisisi bersenjata dan teroris mengejar tujuan yang sama dan mereka bekerjasama dalam sebuah front bersama. Persekutuan ini pada akhirnya akan menggagalkan setiap kesepakatan.
Pertempuran di Aleppo memasuki babak baru setelah gagalnya gencatan senjata yang disepakati oleh AS dan Rusia. Militer Suriah bersama sekutunya telah meluncurkan operasi khusus untuk merebut timur Aleppo.
Pernyataan bersama AS dan Uni Eropa menunjukkan bahwa mereka tidak senang dengan kehadiran efektif Rusia dalam memerangi terorisme di Suriah. Di Aleppo, AS ingin mengubah peta konflik yang berpihak pada oposisi bersenjata. AS sedang terlibat persaingan sengit dengan Rusia dengan harapan akan terjadi sebuah perubahan di medan tempur Suriah, yang menguntungkan dirinya.
Jadi, dengan memperhatikan perbedaan tajam Washington dan Moskow terkait konflik Suriah, sidang Dewan Keamanan tampaknya tidak akan memenuhi harapan kedua pihak yang berseteru ini. (RM)