Meradangnya Kembali Hubungan Korsel-Cina
https://parstoday.ir/id/news/world-i21898-meradangnya_kembali_hubungan_korsel_cina
Menyusul tewasnya tiga nelayan Cina dalam insiden bentrokan antara kapal patroli pantai Korea Selatan dan para nelayan Cina, hubungan kedua negara kembali meregang.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Sep 30, 2016 14:24 Asia/Jakarta
  • arsip foto manuver Korsel-AS
    arsip foto manuver Korsel-AS

Menyusul tewasnya tiga nelayan Cina dalam insiden bentrokan antara kapal patroli pantai Korea Selatan dan para nelayan Cina, hubungan kedua negara kembali meregang.

Insiden ini terjadi di saat kedua negara sedang bersitegang terkait penempatan sistem pertahanan rudal Amerika Serikat THAAD di wilayah Korea Selatan.

 

Disebutkan bahwa tiga nelayan Cina itu tewas karena menghirup asap pada malam 29 September di perairan zona ekonomi Korea Selatan. Seoul menyatakan, perahu penangkap ikan Cina tersebut telah secara ilegal memasuki perairan Korea Selatan.

 

Pihak patroli maritim Korea Selatan pada 30 Sepember menyatakan bahwa para petugas patroli berniat mencegah perahu nelayan Cina itu namun mendapat perlawanan dari para anak buah kapal (ABK).

 

Konsuler Cina langsung meninjau lokasi dan seraya menyayangkan kejadian tersebut, dia juga menuntut penyelidikan secara komprehensif terkait peristiwa itu.  

 

Selama lebih dari dua dekade lalu, kerap terjadi perang verbal antara Cina dengan Jepang dan Korea Selatan, terkait volume penangkapan ikat di perairan sekitar ketiga negara tersebut.

 

Yang pasti akses lebih besar ke sumber pangan di laut serta penangkapan ikan, merupakan salah satu sumber besar dalam menjawab tuntutan pangan dan dalam hal ini, ketamakan Cina tidak dapat dianggap enteng.

 

Jepang dan Korea Selatan berulangkali menuding kapal-kapal penangkap ikan raksasa Cina telah melanggar zona perairan kedua negara itu.

 

Menurut para pejabat Seoul dan Tokyo, para nelayan Cina tidak memperhatikan mekanisme dan metode yang benar dalam proses penangkapan ikan sehingga menimbulkan kerugian besar pada ekosistem dan lingkungan hidup maritim.

 

Sementara hasil apapun yang akan diterima oleh konsulat Cina terkait insiden terbaru itu, bukan berarti akhir dari masalahnya. Karena wialyah maritim Asia ini telah selama beberapa waktu terakhir menghadapi berbagai tantangan serius.

 

Berdasarkan perspektif dan ideologi politiknya, Cina berpendapat bahwa kepentingan besar tidak boleh dikorbankan demi masalah-masalah kecil seperti ini.

 

Reaksi Beijing terkait pemboman Kedubes Cina di eks-Yugoslavia pada era pemerintahan mantan presiden AS, Bill Clinton, serta tewasnya sejumlah diplomat Cina, membuktikan perspektif Cina itu dan bahwa Beijing tidak membiarkan masalah ini berkepanjangan dan menututp berkasnya setelah menerima ganti rugi dari Paman Sam.

 

Sekarang, apakah Cina akan melakukan hal yang sama terkait insiden di perairan Korea Selatan itu?

 

Yang jelas, jalur permainan dengan negara tetangga, bahkan soal perang verbal pun, berbeda dengan negara-negara lain yang bukan bertetangga.  

 

Cina dan Korea Selatan pada tahun 1992 memulai hubungan diplomatik mereka, dan sejak itu hingga kini, kedua negara memiliki kerjasama ekonomi, perbankan, industri dan pariwisata dalam volume massif.

 

Cina bahkan tidak menggubris kekhawatiran Korea Utara soal kerjasama luas antara Beijing dan Seoul. Karena salah satu tuntutan urgen pasca era Perang Dingin, adalah interaksi ekonomi sebagai salah satu variable penting dalam konstelasi global. Cina sangat menekankan fokusnya pada masalah ini. Oleh karena itu, wajar bila volume pertukaran dagang Cina dan Korea Selatan mencapai 300 miliar dolar dolar per tahun.

 

Yang pasti, untuk mengakhiri masalah dengan Korea Selatan, Cina akan menempuh jalur diplomatik. Namun terkait sejumlah masalah termasuk isu keamanan, apalagi setelah Cina menuding Korea Selatan bertanggungjawab di balik eskalasi ketengan di kawasan, tampaknya Beijing akan mempertahankan sikapnya dalam hal ini. Karena dampak dari kerjasama militer dan keamanan Korea Selatan dengan AS tidak dapat diabaikan Beijing.(MZ)