Trump Terpilih, New York Antisipasi Eskalasi Islamofobia
Kemenangan Donald Trump dalam pemilu presiden AS dilihat oleh berbagai kalangan di AS sendiri dan negara lain akan memantik eskalasi gelombang Islamofobia.
Mengantisipasi masalah ini, Pemerintah New York akan menerapkan strategi baru dalam mengatasi Islamofobia di kota tersebut.
Langkah baru diambil seiring meningkatnya kasus Islamofobia di New York, dan kali ini ancaman datang dari para pendukung Trump.
Ketua Komisi Hak Asasi Manusia New York, Carmelyn P. Malalis, mengatakan mereka akan segera meluncurkan lokakarya bertajuk "Memahami Islam" yang diikuti oleh para pegawai pemerintahan dan swasta di kota itu. Lokakarya ini diharapkan mampu mematahkan berbagai mitos tidak benar tentang Islam.
"Selain itu, Komisi berencana melakukan kampanye di media seluruh kota pada 2017 untuk memberi pendidikan bagi warga New York soal cara melawan xenofobia dan menghormati keragaman budaya dan etnis," kata Malalis, seperti dilansir CNN.
Warga Muslim di New York berjumlah antara 400-800 ribu orang, datang dari berbagai negara, termasuk Indonesia. Menurut data pemerintah New York, dalam dua tahun terakhir ada peningkatan perlakuan diskriminasi berdasarkan ras, negara dan agama hingga 63 persen dibanding tahun 2014.
Islamofobia meningkat drastis di New York sejak serangan teroris 11 September 2001 yang meruntuhkan dua gedung WTC di kota itu dan menewaskan ribuan orang.