Protes Anti-Trump Semakin Besar
Gelombang protes menolak terpilihnya Donald Trump sebagai presiden Amerika Serikat masih terus berlangsung di beberapa kota, seperti Los Angeles, Washington, D.C. dan San Fransisco.
CNN melaporkan, memasuki hari kelima, jumlah demonstran semakin bertambah, dan mereka menyerukan penolakan terhadap kebijakan imigrasi yang diusung konglomerat asal New York itu.
Trump hari Minggu (13/11) menjelaskan rencananya untuk mendeportasi sekitar tiga juta imigran ilegal yang memiliki catatan kriminal atau diduga terlibat perdagangan narkoba.
Rencana itu akan menjadi salah satu program prioritas Trump ketika menjabat di Gedung Putih pada Januari 2017 mendatang.
Sebelumnya, hari Sabtu (12/11), sekitar 8.000 warga juga turun ke jalanan di Los Angeles menggelar aksi protes anti-Trump.
Menurut kepolisian setempat, aksi tersebut berjalan damai, tidak ricuh seperti pada unjuk rasa pada Jumat (11/11) malam, yang menyebabkan setidaknya 187 orang dan delapan remaja ditahan.
Namun di beberapa kota lain, aksi protes diwarnai dengan kericuhan. Unjuk rasa Di Portland, Oregon pada Sabtu diwarnai aksi kekerasan dan penembakan yang menyebabkan setidaknya 71 orang ditahan.
Di hari yang sama, sekitar 2.000 warga New York turun ke jalan dan berunjuk rasa di depan Trump Tower. Para demonstran meneriakan slogan "Trump bukan Presiden kami".
Sebagian besar warga AS mengaku khawatir sentimen diskriminasi dan rasisme berpotensi meningkat menyusul kemenangan Trump dalam pemilu 8 November lalu.
Kekhawatiran ini menguat setelah beberapa kasus dengan sentimen Islamofobia dan xenofobia bermunculan di sejumlah kota di AS usai pemilu.
Selama masa kampanyenya, Trump kerap mengeluarkan komentar dan retorika kontroversial mengenai kaum minoritas di AS.