Ketegangan Mesir-Qatar Pasca Ledakan Teror di Gereja Kairo
-
gereja Koptik Kairo
Kementerian Luar Negeri Mesir mengeluarkan pernyataan yang menuduh Qatar terlibat dalam aksi teror di gereja Koptik, Kairo.
Pada tanggal 11 Desember 2016 sebuah ledakan bom mengguncang Katedral Koptik Ortodoks St. Mark di Kairo, ibukota Mesir dan menewaskan 25 orang. Meski kelompok teroris Daesh mengaku bertanggung jawab atas serangan teror tersebut, namun pemerintah Mesir percaya bahwa Qatar terlibat dalam peledakan gereja itu. Masalah ini kemudian memicu ketegangan dalam hubungan bilateral Mesir dan Qatar, begitu juga hubungan antara Dewan Kerjasama Teluk Persia, P-GCC dengan Mesir.
Hubungan bilateral Mesir dan Qatar di masa kepemimpinan Abdel Fattah El Sisi, dinilai rentan. Pemerintah Mesir yang punya kedudukan cukup penting di Dunia Arab dan kawasan Timur Tengah, berulang kali memprotes intervensi Qatar dalam urusan internalnya. Pemerintah Qatar berkesimpulan bahwa demonstrasi-demonstrasi anti-pemerintah yang terjadi di sejumlah negara Arab termasuk Mesir menyebabkan kelompok Ikhwanul Muslimin memperoleh kekuasaan di Dunia Arab dan pengaruh negara itu di negara-negara Arab dapat ditingkatkan.
Meskipun dalam waktu yang tidak begitu lama, Ikhwanul Muslimin di Mesir dan cabang-cabangnya di beberapa negara lain termasuk Libya berhasil merebut kekuasaan, namun hingga sekarang kegagalan Ikhwanul Muslimin menjaga kekuasaannya di Mesir, menyebabkan Qatar berubah menjadi salah satu sasaran protes di Dunia Arab.
Pemerintahan Abdel Fattah El Sisi di Mesir percaya bahwa perekonomian yang kuat menyebabkan intervensi Qatar dalam urusan internal negara-negara Arab termasuk Mesir, Suriah dan Libya. Oleh karena itu, Kairo yang memberi cap Ikhwanul Muslimin sebagai kelompok teroris, yakin bahwa Qatar yang menjadi tempat tinggal anggota kelompok itu, berupaya meningkatkan instabilitas dan memperluas aksi demonstrasi anti-pemerintah Mesir.
Dari sini, Kemenlu Mesir, pada 16 Desember 2016 mengeluarkan statemen yang menuduh Qatar mendukung kerusuhan dan merusak ketertiban di Mesir. Masalah yang lebih penting adalah, ketegangan dalam hubungan Mesir-Qatar bahkan melebar sampai ke Dewan Kerjasama Teluk Persia, P-GCC. Terkait hal ini, Abdullatif Al Zayani, Sekjen P-GCC mengeluhkan tuduhan Mesir terhadap Qatar tersebut.
Alasan utama terseretnya ketegangan Mesir-Qatar ke P-GCC itu adalah karena hubungan Mesir dengan Arab Saudi setelah berlangsung manis selama sebulan, memburuk. Pemerintah Mesir secara resmi memprotes campur tangan langsung Saudi dalam urusan internal Suriah.
Kairo berulang kali mengambil sikap yang bertentangan dengan sikap P-GCC kecuali Oman. Pemerintah Mesir mengumumkan bahwa negara itu menentang segala bentuk intervensi asing dalam urusan internal negara-negara Arab dengan maksud untuk menggulingkan pemerintahan sah di negara-negara itu termasuk di Suriah.
Oleh karena itu di saat negara-negara seperti Saudi, Qatar dan Uni Emirat Arab mengaku khawatir dengan pembebasan kota Aleppo, Suriah dari tangan teroris, bahkan sampai mengecamnya, pemerintah Mesir justru mengucapkan selamat kepada Damaskus atas pembebasan kota itu. (HS)