Kekhawatiran di Balik Manuver Bersama AS-Korsel
https://parstoday.ir/id/news/world-i3475-kekhawatiran_di_balik_manuver_bersama_as_korsel
Jika hingga beberapa waktu lalu, Korea Utara yang geram atas manuver militer bersama Amerika Serikat dan Korea Selatan di dekat perbatasan maritim Korut, maka sekarang Rusia dan Cina juga menyatakan khawatir atas manuver tersebut.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Mar 08, 2016 15:01 Asia/Jakarta
  • Manuver militer Korea Selatan
    Manuver militer Korea Selatan

Jika hingga beberapa waktu lalu, Korea Utara yang geram atas manuver militer bersama Amerika Serikat dan Korea Selatan di dekat perbatasan maritim Korut, maka sekarang Rusia dan Cina juga menyatakan khawatir atas manuver tersebut.

Namun perlu ditambahkan pula bahwa masyarakat Korea Selatan juga bergabung dalam protes pelaksanaan manuver tersebut. Para demonstran menuntut Seoul dan Washington menghetikan strategi provokasi, demi mewujudkan perdamaian di kawasan.

Seorang aktivis anggota gerakan sipil Korea Selatan dalam hal ini mengatakan, pada hakikatnya sanksi-sanksi dan juga tekanan Amerika Serikat, yang telah memaksa Korea Utara mempercepat program nuklir dan rudalnya.

Banyak pengamat Korea Selatan yang berpendapat bahwa Amerika Serikat sedang berusaha menjajakan persenjataannya kepada Korea Selatan, dengan menyulut gejolak dan menciptakan instabilitas di kawasan ini. Ini tersirat dari penempatan sistem pertahanan anti-rudal THAAD di Korea Selatan.

Tidak hanya itu, bahkan masyarakat Korsel berpendapat bahwa sistem perisai anti-rudal THAAD hanya ditempatkan untuk menjaga kepentingan Amerika Serikat di Semenangjung Korea.

Akan tetapi reaksi Rusia dan Cina dapat dikatakan di atas kekhawatiran yang dikemukakan oleh pengamat maupun masyarakat Korea Selatan. Karena Cina dan Rusia mengetahui bahwa Amerika Serikat pasca serangan teror 11 September 2001, menjustifikasi kehadirannya di Asia Tengah dengan alasan pemberantasan terorisme. Amerika Serikat telah mengeluarkan dana hingga 250 juta USD untuk pangkalan-pangkalan militernya di Khanabad, Manas dan Kulab. Padahal Asia Tengah adalah zona pengaruh Uni Soviet (sekarang Rusia) dan Cina, baik pada era sebelum atau pasca Perang Dingin. Beijing dan Moskow di Asia Tengah, Utara dan Timur, memiliki kepentingan kolektif yang cukup signifikan.

Di lain pihak, Jepang menilai aksi-aksi militer Cina di Laut Cina Selatan dan Timur, sebagai kebijakan ekspansionis Beijing di dua kawasan tersebut. Dan oleh karena itu, Jepang meminta kehadiran dan aksi lebih serius dari Amerika Serikat guna membendung Cina.

Amerika Serikat dan Jepang setelah menilai Cina menjalankan politik tamak di kawasan, semakin memperluas kerjasama di bidang militer dan pertahanan. Menurut keduanya, kondisi di Laut Cina Selatan dan Timur saat ini sangat mengkhawatirkan akibat langkah-langkah Cina.

Menurut para pengamat politik, Rusia dan Cina dalam mereaksi manuver bersama Amerika Serikat dan Korea Selatan, secara implisit membenarkan kekhawatiran yang dikoarkan Korut selama ini. Yang pasti, Beijing dan Moskow akan memberikan dukungan terhadap langkah-langkah Korut. Apalagi pernyataan Kementerian Luar Negeri Rusia menilai berbagai tekanan politik dan militer terhadap Korea Utara tidak proporsional. Sementara Cina menyatakan tidak akan berdiam diri di hadapan langkah-langkah pemicu keonaran di Semenanjung Korea. (IRIB Indonesia/MZ)