Daesh, Alasan AS dan NATO Duduki Afghanistan
-
pasukan Amerika
Kehadiran kelompok teroris Daesh menjadi alasan yang tepat bagi Amerika Serikat dan Pakta Pertahanan Atlantik Utara, NATO untuk kembali menempatkan dan menambah jumlah pasukannya di Afghanistan.
Terkait hal ini, 200 tentara Amerika sebagai pasukan baru negara itu, ditempatkan di Provinsi Helmand, Selatan Afghanistan dan rencananya 1500 tentara Amerika yang lain akan dikerahkan ke Afghanistan.
John Nicholson, Komandan pasukan Amerika dan NATO di Afghanistan, baru-baru ini menyampaikan keinginannya untuk menambah 5000 personil militer Amerika di Afghanistan. Pada saat yang sama, David Hale, Duta Besar Amerika di Pakistan dalam pertemuan dengan Jenderal Qamar Javed Bajwa, Komandan Angkatan Darat Pakistan memuji operasi militer Pakistan, Radd-ul-Fasaad untuk menumpas kelompok-kelompok teroris termasuk Daesh.
Sepertinya, Amerika sudah melakukan langkah baru untuk memperkuat kehadiran militernya di Afghanistan dan Pakistan. Masalah ini dapat dicermati dari beberapa sisi. Pertama, bahwa Amerika sedang berusaha menjadikan Afghanistan sebagai pangkalan militernya sehingga negara itu berubah menjadi pusat penyebarluasan ekstremisme dan transfer terorisme di kawasan.
Kedua, bahwa Amerika sedang berusaha melemahkan Cina bahkan Rusia dan membatasi kedua negara itu di perbatasan-perbatasannya, dan posisi strategis Afghanistan mendorong Amerika untuk memperkuat kehadiran militernya di Afghanistan dan menjadikan negara itu sebagai pangkalan mata-mata di kawasan.
Ketiga, peningkatan kehadiran militer Amerika di Afghanistan, mendorong Rusia dan Cina untuk menambah aktivitas militer dan keamanannya di Afghanistan. Publikasi sejumlah laporan terkait dukungan dan hubungan Rusia dengan Taliban, memunculkan kekhawatiran di Afghanistan bahwa Moskow berusaha memperkeruh krisis di negara itu. Oleh karenanya beberapa kelompok politik di Afghanistan menentang isu kerja sama Rusia dengan Taliban.
Di sisi lain, untuk mencegah kembalinya Rusia ke Afghanistan dan meningkatnya persaingan militer dan keamanan di kawasan, Amerika dengan menambah pasukan, berusaha menunjukkan bahwa di era Presiden Donald Trump tanggung jawab menjaga keamanan di Afghanistan tetap menjadi tugas Washington.
Sejak tahun 2001 hingga 2014, Amerika dan NATO menempatkan sekitar 130 ribu tentara di Afghanistan yang bukan saja tidak membantu menjaga keamanan negara itu, bahkan memperburuknya. Hamid Karzai, mantan Presiden Afghanistan baru-baru ini mereaksi penambahan jumlah pasukan Amerika di negaranya dan mengatakan, jika pasukan Amerika memiliki kinerja yang baik di Afghanistan, maka kelompok teroris Daesh pasti tidak akan pernah muncul di negara ini.
Aktivitas Daesh di Afghanistan telah berubah menjadi dalih penambahan pasukan Amerika dan NATO di negara itu. Sebelumnya, staf komando pasukan Amerika mengumumkan bahwa target pasukan Amerika di Afghanistan bukan lagi Taliban. Dari sini dengan mengevaluasi kinerja pasukan Amerika di Afghanistan, kita dapat memahami bahwa Washington hanya berusaha mengelola krisis di negara itu bukan membantu menyelesaikan masalah keamanan.
Karena keamanan Afghanistan tidak bisa menjustifikasi berlanjutnya kehadiran militer Amerika di negara ini. Terkait Pakistan, pemerintah Amerika di masa George W. Bush menyebut negara itu sebagai sekutu non-NATO, akan tetapi setelah beberapa lama Amerika menuduh Islamabad menerapkan standar ganda di Afghanistan dan membantu Taliban, disusul dengan pemutusan bantuan Washington atas Pakistan dan hubungan kedua negara pun memburuk.
Demi menunjukkan partisipasi aktifnya di bidang militer regional, sepertinya Amerika sekarang mendukung operasi militer Radd-ul-Fasaad yang dilancarkan pasukan Pakistan untuk menumpas teroris demi menarik hati Islamabad. Pasalnya Amerika untuk melanjutkan kehadiran militernya dan menjalankan proyek-proyek regionalnya di Afghanistan, membutuhkan kerja sama Pakistan.
Di sisi lain, Amerika mencemaskan kecenderungan Afghanistan ke Cina dan Rusia di masa depan yang mungkin saja akan meningkatkan biaya kehadiran militer Washington di negara itu. (HS)