Lawatan Trump ke Eropa
Donald Trump untuk pertama kalinya sejak menjabat sebagai presiden AS hari Senin bertolak menuju Italia untuk bertemu dengan pejabat tinggi negara ini, dan menghadiri KTT G-7 yang digelar di pulau Cecilia. Selanjutnya, Presiden AS dalam lawatan ini akan bertemu dengan pemimpin katolik dunia, Paus Fransiskus.
Kunjungan pertama Trump ke Eropa menjadi sorotan ditinjau dari upaya penguatan hubungan lintas benua, terutama berkaitan dengan sikap Trump sebelumnya. Donald Trump dalam kampanye pemilu presiden tahun lalu mengeluarkan pandangan yang memicu reaksi kekhawatiran dari negara-negara di kawasan Eropa. Misalnya, Trump menyebut pakta pertahanan atlantik utara, NATO sudah kadaluarsa. Tidak hanya itu, di pekan-pekan awal menempati Gedung Putih, kabinet baru AS menyuarakan pemulihan hubungan dengan Rusia.
Kebijakan baru AS terhadap Rusia ini memicu reaksi negara-negara Eropa terkait meningkatnya pengaruh Moskow terhadap Barat yang didukung Washington. Tapi upaya tersebut mendapat hambatan di tubuh birokrasi AS sendiri dengan naiknya isu skandal hubungan Trump dengan individu dan institusi Rusia. Dalam kondisi demikian, Eropa masih tetap menjadi mitra AS.
Salah satu tantangan baru hubungan lintas Atlantik di era pemerintahan Donald Trump adalah masalah perdagangan bebas lintas Atlantik. Ketika para pemimpin negara-negara Eropa menegaskan penguatan pasar bebas lintas benua, Trump justru menyuarakan penentangan terhadap kesepakatan yang ditandatangi oleh pendahulunya, Barack Obama. Program ekonomi Trump yang mengusung proteksi ekonomi dalam negeri memicu kekhawatiran mitranya di Eropa. Pasalnya, slogan Trump "Belilah Produk Dalam Negeri, dan Pekerjakan Orang AS" dibarengi dengan rencana proteksi terhadap produksi dalam negeri dengan pengenaan tarif tinggi untuk produk impor, termasuk dari Eropa. Tidak leluasanya produk dari negara-negara Eropa memasuki pasar besar AS akan mengancam lapangan kerja di Eropa.
Tampaknya, masalah ini akan menjadi agenda pembicaraan antara Trump dengan para pemimpin Eropa, terutama Italia di pulau Cecilia. Trump berjanji kepada rakyat AS akan membuka lapangan kerja baru kepada mereka, bahkan jika kebijakan ini akan memicu ketidakpuasan para mitra politik dan ekonomi Washington, termasuk Eropa.
Di sisi lain, Trump cenderung tidak bersedia menjalankan komitmen negaranya terhadap masalah perubahan iklim, terutama kesepakatan internasional Paris yang sebelumnya ditandatangani Obama. Meskipun Trump secara resmi belum mengumumkan sikapnya terkait kesepakatan perubahan iklim tersebut, tapi indikasi penolakan tampak jelas dari berbagai sikapnya selama ini. Sejumlah masalah tersebut menjadi isu sentral dalam kunjungan Trump ke Eropa.