Ketika Daesh Nyatakan Taliban Afghanistan Harus Mati!
Kelompok teroris Daesh mengeluarkan pernyataan di situs resminya yang isinya menyebut Taliban sebagai pasukan bayaran asing dan menyatakan wajib membunuh mereka.
Sebagai dampak dari berlanjutnya konflik antara kelompok teroris Daesh dan Taliban, Abu Majah Tarmizi, salah satu gembong kelompok teroris ini menyebut Taliban sebagai boneka dan munafik lalu menyatakan bahwa jiwa, harta dan kehormatan pendukung Taliban adalah halal bagi anggota Daesh.
Kelompok teroris Daesh juga mengklaim bahwa mereka akan segera melakukan serangan luas terhadap Taliban dan menguasai daerah-daerah yang sebelumnya dikuasai Taliban. Publikasi pernyataan seperti ini oleh Daesh berarti pengumuman perang dengan kelompok Taliban juga etnis Pashtun yang menjadi pendukung Taliban.
Padahal kehadiran kelompok teroris Daesh di Afghanistan masih diperdebatkan serius soal jumlah mereka di negara ini. Kebanyakan kalangan baik di regional dan internasional, bahkan bagi internal Afghanistan sendiri bukan saja tidak menganggap serius kehadiran Daesh di negara ini, mereka justru percaya bahwa mereka yang mengaku Daesh sebenarnya adalah anggota Taliban sebelumnya yang keluar dari kelompok ini dan kemudian bergabung dengan kelompok-kelompok radikal.
Dengan demikian, pernyataan Daesh siap memerangi Taliban lebih pada upaya balas dendam orang-orang seperti ini dari teman-teman sebelumnya.
Selain itu, peringatan Daesh terhadap Taliban bertujuan untuk memperkenalkan dirinya sebagai salah satu kelompok besar dan berpengaruh dalam transformasi Afghanistan. Daesh ingin menunjukkan bahwa mereka memiliki pasukan yang dapat menundukkan Taliban dan menduduki daerah yang dikuasai Taliban.
Menurut para pengamat politik, peringatan Daesh terhadap Taliban menunjukkan perang di antara kelompok-kelompok teroris dan radikal lebih pada upaya menguasai daerah yang memiliki manfaat ekonomi dan tambang, sehingga mereka dapat melanjutkan aktivitasnya berdasarkan sumber keuangan yang dimilikinya.
Oleh karenanya, perang di Afghanistan orientasinya adalah perang dagang, dimana mereka ingin menguasai sumber-sumber tambang di Afghanistan yang belum tersentuh selama ini.
Zabihullah Sarwari, Menteri Pertambangan dan Energi Afghanistan menyatakan, "Kelompok Taliban dan kelompok teroris Daesh tengah mempersiapkan sarana untuk mengeluarkan hasil-hasil tambang di Nangarhar dan provinsi lainnya lalu menggunakan hasilnya secara ilegal."
Ezzatulah Afghan, Jurubicara Dewan Desa Shinwar mengatakan, "Mereka yang berafiliasi kepada Daesh memotong pepohonan di Nangarhar dan hasil penjualannya dibagi dua dengan para pejabat di daerah ini."
Taliban yang merasa dirinya sebagai kelompok pribumi dan pembela kepentingan etnis Pashtun kini tengah berhadap-hadapan dengan kelompok yang sebagiannya adalah para penjahat dari negara-negara Asia Tengah dan negara-negara Arab yang berasal dari kelompok-kelompok teroris. Artinya, ketidakpedulian kelompok Taliban atas permintaan pemerintah dan rakyat Afghanistan untuk bergabung dalam proses perdamaian di negara ini menyebabkan kelompok ini menjadi faktor instabilitas dan krisis di Afghanistan. Dan kini mereka disebut kelompok boneka dan mendapat bayaran dari pihak Kafir oleh Daesh.
Menyebut Taliban sebagai pihak yang menerima bayaran dari Kafir tidak punya akar dalam masyarakat Afghanistan dan hanya cara yang digunakan kelompok teroris untuk menjarah kekayaan alam Afghanistan dan menyelundupkan narkotika dengan nama Daesh. Namun apa yang sudah terjadi ini dapat merusak popularitas Taliban di kalangan etnis Pashtun. Sebagian kalangan politik di Afghanistan justru meyakini kemunculan kelompok teroris Daesh sudah diperhitungkan matang untuk menghadapi Taliban dan memusnahkannya. Pernyataan gembong Daesh di Afghanistan ini tampaknya tidak terlalu jauh dari kenyataan.
Dengan demikian, sikap Taliban untuk bergabung dengan proses perdamaian di Afghanistan dan bekerjasama dengan pemerintah Kabul dapat mencegah terbentuknya kelompok-kelompok teroris seperti Daesh di Afghanistan.