Ancaman Rusia untuk Membalas Tindakan AS
Hanya selang 72 jam pasca pertemuan kontroversial antara Vladimir Putin, Presiden Rusia dan Donald Trump, timpalannya dari Amerika Serikat di Hamburg Jerman, pemerintah Moskow mengancam akan membalas tindakan pemerintah AS sebelumnya yang mengusir para diplomat Rusia dari negara ini.
Ancaman tersebut dilontarkan enam bulan pasca Barack Obama, Presiden AS di masa itu mengusir 35 diplomat Rusia dari Amerika dan menyita pusat diplomatik negara itu sebagai reaksi atas dugaan intervensi Moskow dalam pemilu presiden AS pada tahun 2016.
Di masa itu, Rusia tidak menunjukkan reaksinya terhadap keputusan pemerintahan Obama yang akan segera berakhir dan ia akan meninggalkan Gedung Putih. Tampaknya sikap menahan diri pemerintah Moskow di kala itu didasarkan pada harapan kepada pemerintahan Trump yang mungkin akan mengurangi ketegangan dalam hubungan antara Rusia dan AS.
Trump di masa kampanye pemilu presiden berjanji akan memperbaiki hubungan yang menegang antara AS dan Rusia, bahkan para pengkritik Trump di Amerika meyakini adanya semacam "kolusi" antara Rusia dan tim pemilu Trump sehingga ia meraih kemenangan pemilu dan mengalahkan Hillary Clinton, calon presiden dari Demokrat. Mereka juga meyakini bahwa pemerintahan Trump mendatang akan mencabut sanksi-sanksi terhadap Rusia sebagai imbalan dari bantuan Moskow itu.
Terlepas dari kebenaran klaim tersebut, sekarang hubungan para pejabat senior pemerintah AS dengan para pejabat Rusia –dari sisi penampilannya– berbeda dengan pemerintahan sebelumnya. Contohnya, setelah empat tahun, Sergei Lavrov, Menteri Luar Negeri Rusia berkunjung ke Gedung Putih dan mendapat sambutan hangat dari Trump.
Setelah itu, Rex Tillerson, Menlu AS berkunjung ke Moskow untuk mengurangi ketegangan kedua negara terkait serangan rudal AS ke Suriah. Dan akhirnya, Putin dan Trump bertemu di sela-sela Konferensi Tingkat Tinggi G20 di Hamburg. Pertemuan ini bisa menjadi titik balik dalam hubungan dingin antara Rusia dan AS dan mempersiapkan ruang untuk pencabutan sanksi Washington tehadap Moskow.
Namun ternyata faktanya berbeda, pertemuan itu bukan menjadi awal berkurangnya ketegangan kedua negara, namun gerakan anti-Rusia di Amerika –bersamaan dengan pertemuan tersebut– mengungkap isu baru tentang kontak rahasia keluarga Trump dengan Rusia sehingga suasana memanas.
Dalam isu tersebut disinggung mengenai Donald Trump Junior (Jr), putra tertua Presiden AS. Diungkap bahwa email-email yang dipublikasikan dari putra Trump menunjukkan bahwa Jaksa Agung Rusia telah mengusulkan untuk memberikan informasi sensitif anti-Hillary Clinton.
Sementara itu, Vladimir Zakharov, Direktur Institut Riset Politik dan Strategis Rusia menyebut kebijakan anti-Rusia sebagai bagian yang tidak terpisahkan dan inti utama dari kebijakan luar negeri AS. Ia mengatakan, kebijakan ini juga akan berlanjut pasca pertemuan Putin dan Trump di Hamburg. Menurutnya, kebijakan anti-Rusia yang diambil AS di periode Trump tidak jauh berbeda dengan di masa Barack Obama.
Menyusul "serangan" gerakan anti-Rusia terhadap Trump, para pejabat senior AS termasuk Tillerson yang sedang berada di Ukraina mengatakan bahwa sanksi terhadap Rusia tidak akan dicabut kecuali jika Moskow mempertimbangkan kembali kebijakannya terhadap Ukraina dan Suriah.
Melihat perkembangan itu, harapan Rusia atas perubahan perilaku AS telah musnah, oleh karena itu, Moskow –setelah enam bulan bersabar menunggu– akan membalas pengusiran puluhan diplomatnya dari Amerika. Tindakan ini pada akhirnya akan memperburuk hubungan kedua negara dan mengurangi peluang untuk menyelesaiakn sejumlah tantangan dan persoalan penting global. (RA)