Dampak Eskalasi Militerisme AS
-
Presiden AS, Donald Trump
Presiden AS hari Sabtu (22/7) meresmikan operasional kapal perang terbesar AS, USS Gerald R. Ford. Donald Trump dalam pidatonya di kapal perang berkekuatan nuklir ini mengatakan, "Kita harus merayakannya, sebab kapal perang ini merupakan yang terbesar di AS, dan menurut saya yang terbesar di dunia,".
Kapal perang USS Gerald R. Ford menelan biaya sebesar 12,8 milyar dolar, dan dimulai pembuatannya di masa pemerintahan Barack Obama. Tapi operasionalisasinya dimulai di era Trump. Peresmian kapal perang tersebut ditambah dengan ambisi militeristik Trump menunjukkan eskalasi militerisme AS yang berdampak besar bagi dunia.
Pasalnya, Trump berjanji akan menjadikan militer AS dalam periode pemerintahannya sebagai kekuatan militer terbesar sepanjang sejarah AS. Untuk meraih tujuan tersebut, Trump menggelontorkan anggaran lebih besar bagi kementerian pertahanan AS. Padahal, saat ini saja AS sendiri mengisi komposisi 40 persen dari total anggaran militer dunia.
Sepak terjang militeristik Trump tidak bisa dilepaskan dari orang-orang yang bermain di belakang layar presiden AS ini. Mereka berkumpul di sekitar Trump dengan satu kesamaan pandangan menjadikan AS sebagai kekuatan militer terkuat di dunia yang diwujudkan dengan meningkatkan kekuatan perangkat keras negara ini, termasuk penambahan jumlah alutsista dan mesin perangnya. Kubu ini meyakini posisi tertinggi AS di dunia tidak akan tercapai jika negara ini tidak memperkuat dan meningkatkan kemampuan perangkat militernya.
Di sisi lain, kubu lain menilai peningkatan kekuatan militer AS tidak membantu meningkatkan pengaruhnya di tingkat dunia, bahkan justru akan menyeret negara ini menuju keruntuhannya. Faktanya, meskipun AS terus-menerus meningkatkan kekuatan militer, termasuk menambah jumlah alutsistanya, tapi di lapangan negara ini semakin menurun pamornya pasca agresi militer di Afgahanistan dan Irak.
Kritikus AS, Noam Chomsky menilai AS tengah berjalan menuju keruntuhannya. Pemikir AS ini mengatakan, "AS adalah satu-satunya negara yang memiliki pangkalan militer di luar teritorialnya. Oleh karena itu, negara ini membutuhkan legitimasi yang kuat. Tapi tampaknya, kehadiran militernya di seluruh dunia justru melemahkan pemerintahan AS,".
AS dewasa ini merupakan negara pengutang terbesar di dunia. Perekonomian nasional negara ini menderita akibat tekanan kompetisi dengan kekuatan ekonomi besar seperti Uni Eropa, Cina dan Jepang. Kondisi tersebut berlangsung di saat Donald Trump mengatakan, perang di Asia Barat menyebabkan para pembayar pajak harus merogoh kocek lebih dari enam triliun dolar. Padahal dengan dana sebesar itu bisa dialokasikan untuk merenovasi infrastruktur yang sudah usang.
Penegasan Trump mengenai peningkatan kekuatan miter AS selain menambah beban bagi perekonomian negara ini juga menimbulkan dampak buruk bagi dunia. Sebab program ini akan menjadikan dunia lebih tidak aman melebihi sebelumnya. Militerisme AS menimbulkan kekacauan baru di tingkat dunia yang membentuk rantai militerisme global. Jika Trump belajar dari sejarah, imperium besar dunia hancur akibat rantai militerisme tersebut.