Kritik Rusia terhadap Uni Eropa
https://parstoday.ir/id/news/world-i4318-kritik_rusia_terhadap_uni_eropa
Moskow menilai statemen kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa mengenai sanksi terhadap Rusia tidak adil.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Mar 19, 2016 14:38 Asia/Jakarta
  • Kritik Rusia terhadap Uni Eropa

Moskow menilai statemen kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa mengenai sanksi terhadap Rusia tidak adil.

Kementerian luar negeri Rusia dalam statemen yang disampaikan hari Jumat (18/3) menyikapi pernyataan terbaru kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa, Federica Mogherini dan menilai seruan Uni Eropa terhadap publik dunia supaya mengamini sanksi terhadap Rusia tidak adil.

"Statemen Mogherini tentang Crimea sangat mengagetkan dan tidak menghormati lebih dari dua juta orang yang tinggal di wilayah itu," ujar Kemenlu Rusia dalam statemennya hari Jumat.

Kemenlu Rusia meminta Uni Eropa memperhatikan pelanggaran HAM sebenarnya yang terjadi di Crimea akibat blokade energi, air dan transportasi terhadap wilayah tersebut.

Sebelumnya, Federica Mogherini dalam statemennya yang disampaikan hari Jumat, tepat dua hari setelah pengumuman bergabungnya Crimea dengan Federasi Rusia, mengeluarkan statemen mewakili 28 negara anggota Uni Eropa yang menyerukan sanksi baru terhadap Rusia.

Mogherini dalam menyatakan Uni Eropa berkeyakinan bahwa bergabungnya Crimea dengan Rusia melanggar aturan internasional, dan menjadi ancaman bagi keamanan global.

Senada dengan Uni Eropa, AS menegaskan bahwa sanksi terhadap Rusia akan dicabut jika Crimea dikembalikan kepada Ukraina.

Pasca digelarnya referendum yang menghasilkan persetujuan bergabungnya Crimea dengan Rusia, Moskow menandatangani kontrak bergabungnya Crimea dengan Rusia pada 18 Maret 2014 lalu.

Tampaknya, sanksi Barat terhadap Moskow akan terus berlanjut selama tuntutan mereka terhadap Rusia tidak dipenuhi. Satatemen terbaru Mogherina menegaskan kebijakan bersama Uni Eropa yang seirama dengan AS dalam menekan Rusia.

Sejatinya sejak dua tahun lalu negara-negara Barat meningkatkan tekanan terhadap Rusia pasca meletusnya krisis Ukraina. Tekanan tersebut meliputi bidang politik, diplomatik, ekonomi, perdagangan dan keamanan serta militer.

Di bidang ekonomi, tujuan Barat menjatuhkan embargo dan sanksi supaya Kremlin menerima dikte mereka dalam penyelesaian krisis Ukraina.

Sebaliknya, alih-alih bertekuk lutut dan menyerah, Moskow menilai masalah tersebut sebagai peluang emas untuk memasukkan kembali Crimea dalam wilayahnya.

Statemen teranyar kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa mengenai sanksi baru terhadap Rusia hanya menyiram bensin dalam kobaran api yang kian membesar.(PH)