Uni Eropa Kritik Proteksionisme Trump
Komisi ekonomi dan keuangan Uni Eropa menilai kebijakan proteksionisme yang dilancarkan Presiden AS, Donald Trump menjadi ancaman bagi perekonomian global.
Der Spiegel melaporkan, berdasarkan dokumen internal komisi anggota senior kementerian keuangan negara-negara anggota Uni Eropa, kebijakan proteksionisme di era globalisasi, termasuk yang diterapkan oleh Presiden AS, Donald Trump berpotensi menjadi ancaman serius dalam jangka waktu pendek bagi perekonomian dunia. Salah satu ancamannya adalah terjadinya penurunan investasi internasional.
Sebelumnya, Dana Moneter Ineternasional (IMF) dalam pertemuan tingkat tinggi G-20 di Hamburg secara terbuka mengkritik kebijakan proteksionisme AS. Dalam deklarasi bersama di akhir pertemuan, disinggung bahwa pandangan sempit yang memadukan dua nol pada akhirnya akan merugikan seluruh negara.
Para ekonom memandang keterikatan perekonomian Eropa dan AS menjadi pemicu utama kekhawatiran di kalangan para politikus dan perhatian media Eropa. Kekhawatiran serupa yang disuarakan oleh lembaga internasional semacam IMF juga berpijak dari faktor saling ketergantungan antarlembaga ekonomi global. Dengan kata lain, selama AS menjadi motor perekonomian global dalam satu abad, proteksionisme yang diterapkan negara ini mengganggu proses pertumbuhan ekonomi dunia.
Kebijakan delapan bulan lalu Trump menunjukkan bahwa AS di era pemerintahannya tidak meyakini dua hal. Pertama, kesepakatan internasional dan secara umum institusi internasional. Sedangkan kedua, perekonomian global.
Slogan pemilunya "Amerika Pertama' menunjukkan kebijakan AS dalam masalah ini. Slogan ini berupaya mengembalikan AS dalam perbatasannya sendiri dan cenderung terasing dari kubu lain. Tapi masalah ini tidak bisa diterima oleh pihak lain. Sebab pendekatan Markantilisme dan proteksionisme Trump bertentangan nyata dengan sistem keuangan dan perdagangan dunia pasca perang dunia kedua.
Ketua Dewan Menteri Ekonomi Zona Euro, Jeroen Dijsselbloem mengungkapkan, Jika AS tidak lagi bersedia menjadi pemimpin perdagangan bebas di dunia, Eropa harus memainkan perannya.
Dengan demikian, jika Trump hendak melanjutkan kebijakan proteksionismenya dan tidak memperdulikan institusi keuangan dan nilai-nilai Barat berdasarkan pasar bebas, maka kemungkinan pembentukan koalisi ekonomi minus AS dan pelemahan hegemoni dolar terhadap perekonomian dunia. Dalam kondisi demikian, Cina dan Uni Eropa, dua rival utama AS akan menjadi pemimpin perdagangan bebas.