Balasan Amerika atas Pengabdian Turki
https://parstoday.ir/id/news/world-i45731-balasan_amerika_atas_pengabdian_turki
Menteri Kehakiman Turki Abdulhamit Gul, menolak permintaan duta besar AS di Ankara untuk bertemu sebagai respon atas penangguhan layanan visa kunjungan bagi warga Turki ke Amerika Serikat.
(last modified 2026-07-29T04:05:44+00:00 )
Okt 11, 2017 10:58 Asia/Jakarta

Menteri Kehakiman Turki Abdulhamit Gul, menolak permintaan duta besar AS di Ankara untuk bertemu sebagai respon atas penangguhan layanan visa kunjungan bagi warga Turki ke Amerika Serikat.

Duta Besar AS di Ankara, John Bass mengajukan pertemuan dengan Abdulhamit Gul setelah penangguhan layanan visa oleh perwakilan diplomatik Amerika dan Turki di negara masing-masing, namun permintaan itu ditolak oleh menteri kehakiman Turki.

Kementerian Luar Negeri Turki telah memanggil wakil duta besar AS di Ankara untuk menyampaikan protes. Pemerintah Turki meminta Kedutaan AS untuk kembali membuka layanan visa seperti sebelumnya.

Pemerintah AS menghentikan penerbitan visa di Turki sebagai tanggapan atas penangkapan Metin Topuz, seorang staf lokal Konsulat AS di Istanbul. Ia ditangkap pekan lalu oleh aparat keamanan Turki atas tuduhan melakukan spionase dan berhubungan dengan kelompok Gulen.

Tren perkembangan satu tahun terakhir dalam hubungan Amerika-Turki menunjukkan bahwa kedua sekutu tradisional ini dengan cepat sedang mengambil jarak dari satu sama lain. Padahal, Turki – setelah Perang Dunia II dan selama Perang Dingin – menyandang status sebagai salah satu sekutu utama AS.

Selama bertahun-tahun, Turki selalu memainkan peran kunci dalam strategi militer AS, dan selama masa Perang Dingin, negara itu menggunakan wilayah Turki untuk menyebarkan sistem rudalnya. Dalam beberapa tahun terakhir, Turki menjadi rumah bagi senjata nuklir AS, sistem pertahanan rudal, dan juga jet-jet tempur Amerika di Timur Tengah. Di sisi lain, Turki merupakan salah satu anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO).

Namun, dalam satu tahun terakhir, hubungan Ankara-Washington terjebak dalam sebuah krisis yang luas khususnya pasca kudeta gagal di Turki pada 15 Juli 2016. Pemerintah Turki menuding AS sebagai perancang kudeta tersebut. Tudingan ini menguat setelah Washington menolak mengekstradisi Fethullah Gulen ke Turki.

Pasca kudeta gagal, AS mengurangi kehadiran militernya di Turki dan ketegangan hubungan antara kedua negara meningkat secara perlahan. Skala ketegangan ini melebar sedemikian rupa sehingga Turki memperkuat hubungan dengan Rusia ke level kerjasama militer dan persenjataan.

Saat ini, AS dan Turki juga memiliki perselisihan tajam mengenai kebijakan mereka di Suriah. Di samping perbedaan mendasar dalam kebijakan luar negeri, ketegangan Amerika-Turki juga mulai memasuki babak baru; sebuah episode yang ditandai dengan keretakan hubungan dan permusuhan di antara mereka.

Duta Besar AS untuk Turki, John Bass baru-baru ini menuduh pihak berwenang Turki sedang menghancurkan hubungan bilateral dengan menangkap Metin Topuz, namun dalam pandangan Ankara, pemerintah Washington telah menyeret hubungan bilateral dalam bahaya dengan mendukung Gulen dan kudeta gagal di Turki.

Sekarang, otoritas Ankara tampaknya mulai menyadari bahwa strategi Washington dalam pergaulan dengan negara lain adalah mengejar hubungan sepihak, yang bertujuan untuk memenuhi tuntutan dan kepentingan AS.

Dalam situasi saat ini, para pejabat Ankara ingin mengirim pesan ke Gedung Putih bahwa era memandang negara-negara lain secara sepihak telah berakhir dan AS tidak dapat secara bersamaan mendukung pelaku kudeta di Turki dan menyerukan hubungan positif dengan pemerintah Turki. (RM)