Mimpi Cina yang Tersandung Interferensi AS
Xi Jinping, Presiden Cina dalam pidatonya pada pembukaan kongres ke-19 Partai Komunis Cina di Beijing menekankan bahwa asas politik Cina adalah reformasi dan pintu terbuka dan program ini akan terus berlanjug. Ditambahkannya bahwa Cina akan melawan negara-negara pencampur tangan, sewenang-wenang dan pemeras.
Ditegaskannya bahwa Beijing sedang mengupayakan sistem internasional yang adil, rasional dan kokoh dimana pihak luar tidak dapat mencampuri urusan dalam negeri Cina dan negara-negara lain. Keadilan global itu disinggung Jinping di saat sejak tahun 2011, Cina menghadapi tekanan hebat dari Amerika Serikat pasca peralihan fokus AS ke wilayah Asia Timur.
Cina menilai perilaku Amerika Serikat terhadap Korea Utara, intervensi dalam urusan maritim Laut Cina Selatan dan Laut Cina Timur, sebagai aksi pemerasan Washington terhadap Beijing. Oleh karena itu, Presiden Cina dalam pidatonya menekankan bahwa negaraya tidak sedang mengupayakan superioritas atau imperialisme, dan bahwa pembangunan Cina bukan merupakan ancaman bagi negara lain.
Ini berarti Cina selalu berusaha menjaga ketenangan dan stabilitas regional demi kelanjutan pengembangan ekonomi, dan melalui cara ini Beijing memperluas pengaruhnya. Kondisi yang sangat tidak dapat diterima Amerika Serikat dan Washington berpendapat Cina harus menebus upeti dari perkembangan ekonominya.
Choi Jiang, dosen universitas Tongji menyatakan, "Cina sedang memonitoring kondisi di kawasan, akan tetapi jika diperlukan secara bertahap akan meningkatkan kemampuan militernya demi menjaga keamanannya di kawasan."
Politik militerisme Amerika Serikat di kawasan dengan alasan menghadapi Korea Utara telah menciptakan persaingan senjata di kawasan Asia Timur dan negara-negara saling bersekutu sehingga menciptakan atmosfer dingin di kawasan.
Selain itu, Amerika Serikat degan alasan menjaga perairan bebas internasional termasuk di Laut Cina Selatan, meningkatkan kehadiran militernya di perairan regional. Tak ayal langkah itu memantik penentangan dari CIna.
Para analis berpendapat bahwa menurut Beijing, tidak ada titik internasional yang dapat dijadikan panggung pamer kekuatan militer dari satu blok tertentu. Oleh karena itu Cina memprotes pamer kekuatan Amerika Serikat dan negara-negara anggota NATO di wilayah Baltik dan semua perairan internasional.
Untuk saat ini, para pengapat politik berpendapat bahwa Cina sebagai anggota tetap Dewan Keamanan PBB harus memainkan peran lebih urgen dalam transformasi internasional jika ingin mewujudkan masyarakat global yang adil. Karena kebungkaman Beijing dalam intervensi dan politik konfrontatif Amerika Serikat di berbagai wilayah dunia akan membuat AS melanjutkan politik imperialismenya. Selain itu, Cina dengan peran lebih penting dan determinan dalam mengakhiri kejahatan pemerintah dan militer Myanmar terhadap Muslim Rohingya, dapat membuktikan tekad dan kapabilitasnya untuk mewujudkan masyarakat ideal yang diupayakan Cina dalam sistem global.(MZ)