Ekspansi Trump yang Kacau Mulai Tekan Ekonomi AS: Kenaikan Harga dan PHK Mengintai
-
Ekonomi AS
Pars Today - Media AS The Hill melaporkan bahwa prospek kemenangan Partai Republik dalam pemilihan paruh waktu (midterms) sangat bergantung pada seberapa kuat pasar tenaga kerja AS bertahan dari tekanan ekonomi akibat perang terhadap Iran.
Dilansig IRNA, 12 Mei 2026, laporan tersebut menyebutkan bahwa laporan ketenagakerjaan bulan April, yang dirilis hari Jumat, menunjukkan penambahan 115.000 tenaga kerja baru, melampaui ekspektasi, dengan tingkat pengangguran stabil di 4,3 persen.
Setelah lebih dari satu tahun kebijakan migrasi ketat dan tarif impor yang terus berubah, pasar kerja AS mungkin akhirnya mulai beradaptasi dengan realitas ekonomi baru yang lebih sedikit tenaga kerja dan lebih dipenuhi ketidakpastian.
Joe Brusuelas, ekonom senior di lembaga RSM, menggambarkan situasi saat ini sebagai "status quo yang tidak nyaman" , di mana pasar kerja minim perekrutan dan minim pemutusan hubungan kerja. Ia menjelaskan bahwa penurunan jumlah pencari kerja masih cukup untuk mencegah lonjakan angka pengangguran.
Meskipun pertumbuhan lapangan kerja telah menurun tajam sejak awal masa jabatan Trump, tingkat pengangguran hanya meningkat tipis dari 4 persen pada Januari 2025. Namun, kebijakan deportasi massal pemerintah telah mengurangi tenaga kerja AS sekitar 600.000 orang .
Seorang pejabat di Departemen Tenaga Kerja membocorkan bahwa untuk pertama kalinya dalam beberapa dekade, mereka mengeluarkan "Yellow Flag" (peringatan dini krisis). Meskipun data resmi belum menunjukkan gelombang PHK besar-besaran, lonjakan klaim tunjangan pengangguran di negara bagian seperti Ohio dan Pennsylvania mengindikasikan bahwa perusahaan mulai melakukan perampingan tenaga kerja cerdik sebagai antisipasi memburuknya ekonomi.
Data Departemen Tenaga Kerja menunjukkan bahwa pemutusan hubungan kerja (layoff) meningkat pada Maret 2026, bertepatan dengan mulai dirasakannya dampak penuh perang terhadap ekonomi. Survei Manajer Pembelian (PMI) manufaktur turun ke zona kontraksi (baca: penurunan aktivitas) terendah dalam setahun.
Sebuah perusahaan logistik melaporkan penurunan volume kargo domestik sebesar 17 persen dalam dua pekan terakhir, yang oleh pakar disebut sebagai "Resesi Logistik" dan hampir selalu mendahului resesi ekonomi resmi beberapa bulan kemudian.
Washington menghabiskan miliaran dolar untuk membom fasilitas nuklir Iran. Di dalam negeri, efeknya justru "meledak" di tangan para pengusaha kecil. Lapangan kerja memang belum anjlok. Namun indikator "resesi logistik" sudah menyala, PHK diam-diam mulai terjadi. Inilah ironi 'America First': harga gas naik, tetapi nyali investor turun. Perang yang katanya untuk melindungi warga AS, ternyata hanya membuat dompet mereka semakin tipis.(Sail)