AS Terpecah: Mayoritas Warga Tolak Perang Trump vs Iran
-
Presiden AS Donald Trump
Pars Today - Hasil jajak pendapat nasional di Amerika Serikat menunjukkan bahwa perang yang dipaksakan oleh Washington dan Tel Aviv terhadap Iran telah mendorong popularitas Donald Trump ke level terendah sepanjang masa kepresidenannya.
Sebanyak 63 persen warga Amerika menilai strategi agresif Gedung Putih terhadap Iran sebagai keputusan yang keliru, serta menjadi faktor pelemahan posisi internasional AS, memperparah inflasi, dan memicu ketidakstabilan dalam keamanan pangan dan energi.
Dilansir IRNA dari jaringan TeleSUR, 13 Mei 2026, berdasarkan hasil survei bersama PBS News, NPR, dan Marist, lebih dari 60 persen responden berpendapat bahwa strategi militer pemerintah Partai Republik Amerika terhadap Iran merupakan keputusan yang salah. Hasil kajian ini juga menunjukkan bahwa banyak responden meyakini kebijakan agresif Washington telah melemahkan posisi internasional Amerika Serikat serta meningkatkan ketidakstabilan di sektor-sektor seperti energi dan keamanan pangan.
Di sisi lain, gangguan pada rantai pasok pupuk kimia telah memperdalam kekhawatiran terhadap kondisi pasar pangan global. Svein Tore Holsether, CEO Yara International, memperingatkan bahwa jika gangguan distribusi terus berlanjut, miliaran porsi makanan di dunia berpotensi hilang. Bersamaan dengan itu, kenaikan harga bahan bakar juga memberikan tekanan ganda bagi keluarga Amerika, dengan lebih dari 80 persen responden menyatakan bahwa lonjakan biaya energi secara langsung membebani anggaran rumah tangga mereka.
Survei nasional ini juga menggambarkan ketidakpuasan ekonomi yang meluas di kalangan warga Amerika. Sebanyak 63 persen responden menyatakan bahwa kondisi keuangan negara tidak berpihak pada mereka, sementara 56 persen lainnya menggambarkan kondisi ekonomi di lingkungan tempat tinggal mereka sebagai "cukup sulit dipenuhi" atau "sama sekali tidak terjangkau".
Berdasarkan survei yang sama, 63 persen warga Amerika tidak menilai kondisi ekonomi negara menguntungkan bagi mereka, dan 56 persen menggambarkan kondisi ekonomi lokal mereka sebagai "cukup sulit dipenuhi" atau "sama sekali tidak terjangkau". Selain itu, 61 persen responden menekankan bahwa serangan militer Amerika terhadap Iran "lebih banyak mendatangkan kerugian daripada manfaat". Namun, hasil kajian ini juga menunjukkan bahwa Trump masih mendapat dukungan dari sebagian basis politik yang sejalan dengan pendekatan konfrontatifnya.
Hal ini terjadi di tengah terus berlanjutnya kebijakan eskalasi ketegangan oleh Washington, ambisi berlebihan Trump, serta upayanya memaksakan syarat-syarat tertentu dalam proses perundingan, yang justru memperumit kondisi regional dan diplomatik. Sementara itu, pejabat Iran menegaskan bahwa tuntutan Amerika bertentangan dengan prinsip-prinsip mendasar Republik Islam Iran; sebuah persoalan yang semakin memicu ketegangan diplomatik dan militer di kawasan.
Survei terbaru The Washington Post dan ABC News juga menunjukkan bahwa tingkat ketidakpuasan terhadap Donald Trump, Presiden Amerika Serikat, telah mencapai titik tertinggi selama masa jabatannya di Gedung Putih.
The Washington Post dalam laporannya menulis: Enam bulan menjelang pemilu sela November, Partai Republik menghadapi suasana politik yang semakin memburuk, sementara warga Amerika secara luas menyatakan ketidakpuasan terhadap Trump terkait perang Iran dan sejumlah isu kunci lainnya.
Demikian pula, berdasarkan hasil survei yang dilakukan pekan lalu oleh perusahaan riset Focaldata, inflasi dan biaya hidup menjadi kekhawatiran utama pemilih menjelang pemilu sela November.
Menurut survei ini, hampir 58 persen pemilih menyatakan bahwa mereka "sangat" atau "cukup" tidak puas dengan kinerja presiden dalam menangani inflasi dan biaya hidup. Sedikit lebih dari 50 persen juga menyatakan ketidakpuasan terhadap pengelolaan lapangan kerja dan ekonomi, sementara 55 persen menyatakan bahwa tarif kebijakan Trump telah merugikan ekonomi Amerika Serikat. Di tengah situasi ini, hanya 25 persen pemilih yang berpendapat bahwa kebijakan perdagangan presiden telah membantu perekonomian.
Sebelumnya, di tengah meningkatnya ketidakpuasan domestik terhadap perang terhadap Iran dan dampak ekonominya, Presiden Amerika Serikat tersebut menolak hasil jajak pendapat sebagai "palsu" dan menggambarkan konflik ini sebagai "perang kecil". Ia kembali berupaya membenarkan pendekatan agresifnya dengan mengulangi klaim-klaim tak terbukti mengenai program nuklir Iran; sikap yang semakin memperlebar kesenjangan antara fakta di lapangan dan narasi resmi Gedung Putih.
Ia mengklaim, "Mereka membuat jajak pendapat palsu untuk saya. Tentang perang dengan Iran, mereka melakukan survei dan mengatakan hanya 32 persen rakyat yang mendukungnya. Yah, saya juga tidak suka, dan sebenarnya saya tidak menyukai perang sama sekali. Namun kami punya peralatan yang lebih baik dan memiliki angkatan bersenjata terbesar di dunia."
Presiden Amerika Serikat itu selanjutnya berargumen bahwa pertanyaan-pertanyaan dalam survei-survei tersebut bias melawannya, dan bahkan jika pertanyaannya tentang pencapaian Iran terhadap senjata nuklir, "Angkanya tidak akan 32 persen".
Trump sekaligus meragukan validitas jajak pendapat di Amerika dengan menyatakan, "Namun, bahkan jika Anda menanyakan itu, hasilnya tetap 32 persen, karena survei-survei itu palsu. Maksud saya, benar-benar palsu."
Hubungan antara Iran dan Amerika Serikat dalam beberapa dekade terakhir senantiasa diwarnai ketegangan politik, militer, dan ekonomi. Pasca penarikan diri sepihak Washington dari kesepakatan nuklir pada 2018 dan pemberlakuan kembali sanksi terhadap Tehran, tingkat perbedaan pendapat meningkat signifikan. Pada akhirnya, perang yang dipaksakan Amerika dan Israel terhadap Iran, serta eskalasi tekanan politik dari Washington–Tel Aviv terhadap Tehran, semakin meningkatkan penolakan rakyat Amerika terhadap kebijakan dan strategi Donald Trump.
Menurut para pengamat, agresi Amerika dan rezim Zionis terhadap Iran telah mengungkap banyak fakta bagi rakyat Amerika dan opini publik dunia mengenai skema berbahaya Washington dan Tel Aviv di kawasan maupun secara global.(Sail)