Menkeu Rusia: Krisis Hormuz Ancam Pasokan 1/5 Minyak Global, Pangan Makin
-
Menteri Keuangan Rusia, Anton Siluanov
Pars Today - Menteri Keuangan Rusia, Anton Siluanov, memperingatkan bahwa krisis berkepanjangan di Selat Hormuz akan memperparah krisis energi global dan berpotensi mendorong ekonomi dunia ke jurang resesi.
"Situasi di Hormuz telah memicu krisis minyak," kata Siluanov. "Jika selat ini diblokade atau navigasi dibatasi, sekitar seperlima dari konsumsi minyak dunia dan sebagian besar LNG (Gas Alam Cair) akan hilang dari pasokan."
Dilansir Pars Today, 13 Mei 2026, Siluanov mengungkapkan bahwa eskalasi berikutnya adalah kenaikan harga pupuk dan pangan. Harga pupuk dunia saat ini tercatat telah melonjak 30 persen, yang secara langsung membuat bahan pangan semakin tidak terjangkau
Efek Domino: Dari Pupuk ke Piring Makan
Guncangan Pupuk: Sekitar sepertiga perdagangan pupuk global melewati Hormuz, terutama Urea (pupuk nitrogen) yang harganya di pasar internasional telah menyentuh 674 dolar AS per ton.
Ancaman Pangan: Biaya pupuk menyumbang 30-50 persen dari biaya produksi pangan. Kenaikan harga pupuk diperkirakan akan memicu kelangkaan pangan dan inflasi yang lebih parah di tahun 2027.
Daya Beli Tergerus: Kenaikan harga pangan memiliki efek yang tidak proporsional; di negara miskin, pangan menyusun hingga 44 persen pengeluaran rumah tangga.
BRICS Bahas Penggantian Dolar
Menjelang pertemuan Dewan Gubernur Bank Pembangunan Baru BRICS di Moskow (14-15 Mei 2026), Siluanov menyatakan bahwa krisis ini semakin mempercepat upaya menuju de-dolarisasi.
"Akibat situasi di Hormuz, pembayaran minyak beralih dari pembayaran tradisional dolar ke yuan," tegas Siluanov kepada RIA Novosti .
Negara-negara yang menghadapi tekanan politik (sanksi AS) kini melihat yuan sebagai opsi yang lebih stabil dan aman.
BRICS yang kini anggotanya telah diperluas dengan masuknya Iran, Arab Saudi, UEA, dan Indonesia, sedang mempercepat pembangunan infrastruktur keuangan alternatif yang tidak bergantung pada SWIFT dan dolar AS.
Dolar mungkin masih menjadi raja di pasar keuangan tradisional, tetapi krisis Hormuz telah menciptakan "retakan" yang nyata. Dengan terganggunya logistik dan melonjaknya biaya, rantai pasok global tidak hanya dimahalkan, tetapi sedang diukir ulang.
Washington memblokade; Beijing berdagang. AS menerbangkan jet tempur; BRICS memikirkan mata uang baru. Rudal Tomahawk menghancurkan fasilitas nuklir, tetapi tidak bisa menghancurkan keinginan negara-negara BRICS untuk hidup tanpa hegemoni dolar. Petualangan militer ini bukan hanya membuat Rusia kaya karena harga minyak, tetapi juga secara paksa membuat dunia pindah ke meja makan yang baru.(Sail)