Ulama Sunni Iran: Kami Siap Dukung Penuh AL Iran dan IRGC
-
Ulma Sunni Iran
Pars Today - Ulama Sunni di Sistan dan Baluchistan, tenggara Iran, menyatakan kesiapan penuh mereka untuk mendukung Angkatan Laut IRGC dan Artesh (TNI AL Iran), bersama dengan suku-suku Sunni di pesisir Makran.
Dilansir dari IRNA, 16 Mei 2026, ulama Sunni dalam sebuah pernyataan pada hari Jumat (15/5) mendukung pengelolaan dan kontrol cerdas Iran atas Selat Hormuz. Mereka menyebut penutupan selat dari musuh sebagai tindakan pertahanan preventif yang meningkatkan keamanan nasional.
Pernyataan itu menegaskan bahwa Selat Hormuz bukanlah jalur air internasional di mana setiap negara agresor memiliki hak tanpa syarat untuk menggunakannya. Selat ini, menurut mereka, berada di pangkuan perairan teritorial Iran dan tiga pulau milik Iran: Bu Musa, Tonb Besar, dan Tonb Kecil. "Pemilik rumah adalah pemilik kunci," tegas pernyataan itu.
Secara teologis dan berdasarkan adat istiadat, ulama Sunni menjelaskan bahwa mengingat serangan musuh melalui laut, darat, dan udara terhadap Iran, negara Iran, berdasarkan prinsip pertahanan diri, memiliki hak untuk mengelola lalu lintas di Hormuz dan mencegah masuknya kapal perang atau kapal dagang mana pun dari negara agresor ke Teluk Persia.
Para ulama juga mengecam keras beberapa penguasa di negara-negara yang terletak di sekitar Teluk Persia, menyebut mereka pengkhianat terhadap keamanan kolektif kawasan. Mereka telah lama menjadi tamu di meja keamanan Iran, tetapi membiarkan tanah dan fasilitas mereka digunakan oleh AS dan rezim Zionis untuk menyerang Iran, sebuah pelanggaran nyata terhadap prinsip hubungan bertetangga yang baik dan pengkhianatan terhadap keamanan regional.
Dukungan dari ulama Sunni Iran, yang mewakili wilayah yang sering menjadi sasaran kelompok separatis, memiliki simbolisme yang kuat. Ini menandakan persatuan nasional di saat konflik eksternal, dan secara jelas menegaskan hak Iran atas perairan dan pulau-pulaunya di Teluk Persia. Selain itu, serangan balik terhadap para penguasa Teluk yang dianggap sebagai "pengkhianat" karena bekerja sama dengan AS dan Israel, mengirim pesan yang jelas: dalam pertempuran ini, tidak ada yang netral; setiap orang menentukan pilihan
Dalam retorika diplomatik, seringkali perpecahan internal adalah senjata paling tajam bagi musuh. Namun, di sini, ulama Sunni dengan tegas berdiri di belakang pusat kekuasaan Iran. Mereka mengingatkan para penguasa Teluk: keamanan yang telah Anda nikmati selama ini juga hasil dari kestabilan yang disediakan Iran. Sekarang, ketika Anda membantu musuh, Anda tidak hanya mengkhianati Iran, Anda sedang menggali kubur bagi keamanan wilayah Anda sendiri.(Sail)