The Economist: Harga Bahan Pangan Melonjak dalam 6 Bulan, Negara-Negara Berebut Bantuan IMF
-
IMF
Pars Today - Juru bicara Dana Moneter Internasional (IMF) memperingatkan bahwa ekonomi global bergerak menuju skenario yang tidak menguntungkan, dengan risiko inflasi dan resesi global yang serius.
Dilansir Pars Today dari IRNA, Julie Kozack menyatakan bahwa kelanjutan perang di Asia Barat dan gangguan yang ditimbulkannya telah membuat prospek ekonomi global semakin suram. Dunia bergerak cepat menuju skenario pertumbuhan rendah dan inflasi tinggi.
Merujuk pada laporan terbaru lembaga keuangan internasional tersebut, Kozack mengungkapkan bahwa dalam skenario buruk yang saat ini sedang terjadi, tingkat pertumbuhan ekonomi global diperkirakan akan turun menjadi 2,5 persen. Jika perang berlanjut, skenario optimistis sebelumnya tidak dapat diandalkan lagi.
Kozack menambahkan bahwa IMF juga telah memproyeksikan skenario yang lebih parah, di mana jika krisis berkepanjangan, inflasi global bisa mencapai 6 persen. Dalam kondisi ini, harga pangan, obat-obatan, dan komoditas penting lainnya akan melonjak drastis.
Jubir IMF menegaskan bahwa kenaikan harga pupuk akan menyebabkan lonjakan harga pangan dalam waktu sekitar enam bulan. Banyak negara telah mengajukan permintaan bantuan darurat ke IMF.
Sementara itu, majalah ekonomi The Economist, dalam sebuah laporan yang merujuk pada goncangan pasokan minyak terbesar dalam sejarah, memperingatkan bahwa ketenangan pasar minyak saat ini menipu. Kemungkinan lonjakan harga minyak yang cepat dan tak terkendali dalam beberapa minggu mendatang sangat tinggi.
Dunia tidak hanya berperang, tetapi juga bangkrut. Peringatan IMF datang bukan sekadar sebagai angka-angka statistik, tetapi sebagai kenyataan pahit: rak-rak toko kosong di Filipina, pompa bensin mati di Kamerun, dan roti yang tak terjangkau di Kairo. Setiap hari perang berlangsung di Asia Barat, biayanya tidak hanya dihitung dalam korban jiwa atau hancurnya gedung-gedung beton, tetapi juga dalam perut-perut kelaparan anak-anak di Afrika dan Asia. Perang yang katanya "membebaskan", nyatanya menjerumuskan lebih banyak orang ke dalam kemiskinan.
Jadi, IMF berbicara tentang "senario buruk". The Economist memperingatkan "lonjakan tak terkendali". Sementara para diplomat masih sibuk memperdebatkan draf resolusi di Dewan Keamanan. Namun di Zambia, seorang ibu terpaksa memilih antara membeli obat untuk anaknya atau beras untuk keluarganya. Di Venezuela, seorang bapak menggadaikan dokumen identitasnya hanya untuk satu kali makan. Inilah biaya perang yang tidak akan dicantumkan dalam anggaran Pentagon. Biaya yang dibayar oleh mereka yang tidak pernah memilih untuk berperang.(Sail)