Jeffrey Sachs: AS dan Zionis Harus Dinyatakan Sebagai Pihak yang Kalah dalam Perang Iran
https://parstoday.ir/id/news/world-i190032-jeffrey_sachs_as_dan_zionis_harus_dinyatakan_sebagai_pihak_yang_kalah_dalam_perang_iran
Pars Today - Jeffrey Sachs, ekonom dan analis Amerika yang terkenal, mengatakan bahwa berdasarkan hukum internasional, para agresor terhadap Iran harus dianggap sebagai pihak yang kalah dalam perang. Mereka, katanya, melanggar Piagam PBB.
(last modified 2026-05-17T05:24:57+00:00 )
May 17, 2026 12:23 Asia/Jakarta
  • Jeffrey Sachs, ekonom dan analis Amerika yang terkenal
    Jeffrey Sachs, ekonom dan analis Amerika yang terkenal

Pars Today - Jeffrey Sachs, ekonom dan analis Amerika yang terkenal, mengatakan bahwa berdasarkan hukum internasional, para agresor terhadap Iran harus dianggap sebagai pihak yang kalah dalam perang. Mereka, katanya, melanggar Piagam PBB.

Sachs, dalam wawancara eksklusif dengan IRNA, 16 Mei 2026, mempertanyakan klaim AS dan Israel tentang program nuklir Iran. Ia juga menambahkan bahwa AS dan Israel tidak hanya gagal mencapai tujuan perang mereka, tetapi juga berhasil meningkatkan ketidakstabilan di kawasan dan ekonomi global.

"Berdasarkan hukum internasional, para agresor harus dianggap sebagai pihak yang kalah. Mereka telah melanggar Piagam PBB dan bertanggung jawab atas kerusakan serta konsekuensi berikutnya. AS dan Israel harus berhenti mengeksploitasi masyarakat internasional," tegas Sachs, yang juga menjabat sebagai Direktur Pusat Pembangunan Berkelanjutan di Columbia University.

Sachs menambahkan bahwa Iran telah berulang kali menunjukkan kemampuannya untuk melawan agresi AS dan Israel. Tanpa keraguan, Washington dan Tel Aviv adalah pihak yang memulai perang ini, dan tindakan mereka ilegal. Mereka tidak hanya merugikan Iran tetapi juga menyebabkan kerusakan besar pada ekonomi global.

"AS dan Israel adalah pihak yang memulai. Mereka bukan hanya melanggar hukum internasional, tetapi juga merusak ekonomi global dan mengganggu stabilitas kawasan," pungkasnya.

Survei: Mayoritas Warga AS Putus Asa

Sementara itu, jajak pendapat terbaru dari Pew Research Center menunjukkan bahwa mayoritas warga AS memiliki rasa putus asa yang meluas terhadap masa depan negara mereka. Kebijakan pemerintahan Trump, terutama dalam hal memicu perang, tidak menepati janji ekonomi, dan merendahkan posisi AS di dunia, menjadi faktor utama keputusasaan ini.

Sachs menyebut perang terhadap Iran sebagai "bencana kebijakan luar negeri AS" yang tidak hanya gagal mencapai tujuannya tetapi juga mengasingkan sekutu dan memperburuk posisi AS di panggung global. "Dunia berubah dengan cepat, dan AS gagap menghadapinya. Perang ini telah mengubah perang menjadi mimpi buruk bagi kepentingan nasional AS sendiri."

Apa yang dikatakan Sachs di sini bukan hanya opini, ini adalah vonis. Bahwa AS dan Israel harus dihukum, bukan dirayakan. Bahwa perang ini adalah kejahatan, bukan kesalahan taktis. Namun, tentu saja, komunitas internasional mungkin tidak akan pernah mengakui hal ini secara resmi. Namun setidaknya kebenaran mulai terucap, bahkan dari mulut para ekonom Amerika sendiri.

Ketika seorang ekonom sekelas Jeffrey Sachs, bukan aktivis, bukan politisi, mengatakan bahwa AS harus dianggap kalah, itu bukan sekadar kritik. Ini adalah pembacaan fakta. AS melanggar Piagam PBB, mengguncang ekonomi global, dan pulang dengan tangan hampa. Menurut hukum internasional, itu disebut agresi. Dalam peradaban modern, agresor yang kalah disebut penjahat perang. Namun karena pelakunya adalah adidaya, dunia mungkin hanya bisa berdiam diri. Hingga suatu hari nanti, sejarah memanggil mereka dengan nama aslinya: pecundang.(Sail)