Tiongkok di DK PBB: Rancangan AS tentang Hormuz "Tidak Tepat" dan Kontraproduktif
-
Fu Cong, Duta Besar Tiongkok di PBB
Pars Today - Perwakilan Tiongkok di PBB menilai rancangan resolusi AS dan Bahrain tentang Iran dan Selat Hormuz sebagai "tidak tepat" dan menolaknya dengan tegas.
Dilansir Pars Today, Fu Cong, Duta Besar Tiongkok yang juga menjabat Presiden Periodik DK PBB, mengkritik rancangan resolusi yang diinisiasi Washington dan Manama itu. "Kami tidak berpikir isinya tepat, dan waktunya juga tidak tepat," tegasnya seperti dikutip PassBlue dari New York.
Fu Cong mengingatkan bahwa mengadopsi resolusi pada tahap kritis ini "tidak akan membantu" dan menegaskan bahwa yang dibutuhkan adalah dorongan bagi kedua belah pihak untuk terlibat dalam negosiasi yang sungguh-sungguh.
Ini bukan pertama kalinya Tiongkok menghentikan langkah AS di forum PBB. Sebelumnya, pada pertemuan 7 April, Tiongkok dan Rusia telah memveto rancangan serupa yang diajukan Bahrain. Saat itu, Fu Cong menjelaskan bahwa draf tersebut gagal menangkap akar penyebab konflik secara komprehensif dan seimbang. Ia memperingatkan bahwa di saat AS secara terbuka mengancam peradaban Iran, dan permusuhan diperkirakan akan semakin meningkat, resolusi semacam itu justru akan mengirimkan "pesan yang sangat salah dengan konsekuensi yang sangat serius".
Sebelumnya, perwakilan Rusia di PBB, Vassily Nebenzia, juga mengkritik rancangan tersebut karena menyajikan aksi Iran sebagai satu-satunya sumber ketegangan regional, sementara serangan ilegal AS dan Israel terhadap Iran sama sekali tidak disebutkan.
Tiongkok tidak hanya menolak tawaran AS, mereka secara sistematis membongkar argumen hukum Washington di hadapan dunia. Dengan posisi "tidak tepat" dan "waktu tidak tepat", Beijing mengirim pesan yang jelas: tidak akan ada legitimasi PBB untuk perang ini, dan setiap upaya untuk mengisolasi Iran akan menemui jalan buntu. Ini adalah kemenangan diplomatis lainnya bagi poros yang menentang unipolaritas, memperkuat soliditas aliansi Tiongkok-Rusia di panggung global ketika krisis di Hormuz terus berlangsung.(Sail)