Presiden Iran ke Paus: Serangan AS Bukan Cuma ke Iran, Tapi Hancurkan Hukum Global
-
Masoud Pezeshkian, Presiden Iran
Pars Today - Presiden Republik Islam Iran, sambil berterima kasih atas sikap moral Paus terhadap agresi AS dan rezim Zionis baru-baru ini, menekankan perlunya komunitas internasional untuk mengadopsi pendekatan yang realistis dan adil.
Dilansir Pars Today dari IRNA, 16 Mei 2026, Masoud Pezeshkian menulis, "Pendekatan destruktif Amerika Serikat dan Israel, serta serangan ilegal mereka, tidak hanya ditujukan terhadap Iran, tetapi juga terhadap supremasi hukum di tingkat global, hukum internasional, nilai-nilai kemanusiaan, dan ajaran agama-agama ilahi. Konsekuensi dari pendekatan berbahaya ini jelas akan ditanggung oleh seluruh komunitas internasional."
Pezeshkian menekankan bahwa Republik Islam Iran telah secara konsisten membuktikan komitmennya terhadap diplomasi dan solusi damai untuk menyelesaikan masalah, termasuk dengan pemerintah AS. Untuk tujuan ini, meskipun ada pengkhianatan berulang oleh Washington di meja perundingan, Iran telah menyambut mediasi Pakistan dan terlibat dalam pembicaraan dengan itikad baik dan profesional di Islamabad.
Ia menambahkan bahwa ketahanan Iran terhadap tuntutan ilegal AS adalah bentuk ketahanan dan pembelaan terhadap hukum internasional serta nilai-nilai luhur kemanusiaan.
Pezeshkian tidak hanya berbicara kepada Paus. Ia berbicara kepada dunia: perang ini bukan masalah bilateral antara Iran dan AS. Ini adalah ujian bagi seluruh tatanan global. Jika AS bisa menyerang Iran dengan impunitas, lalu siapa yang akan menjadi berikutnya? Pezeshkian memposisikan Iran sebagai pembela terakhir supremasi hukum, sebuah narasi yang dirancang untuk menarik simpati negara-negara yang takut pada arogansi AS.
Pezeshkian menulis surat kepada Paus, tapi yang membaca adalah Kongres AS. Ia berbicara tentang nilai-nilai kemanusiaan, tetapi yang didengar adalah hati nurani global. Ini bukan sekadar diplomasi. Ini adalah panggilan terakhir: Akankah dunia membiarkan AS terus mengubah aturan sesukanya, atau akankah mereka berdiri untuk keadilan? Presiden Iran sudah memilih jalannya. Sekarang, giliran dunia yang menjawab.(Sail)