Pezeshkian: Persatuan Umat Islam Redam Petualangan Trans-Regional dan Zionis
-
Presiden Iran, Masoud Pezeshkian
Pars Today - Presiden Republik Islam Iran menyatakan bahwa semakin kuat persatuan umat Islam, semakin kecil kemungkinan intervensi dan petualangan kekuatan ekstra-regional serta rezim Zionis.
Dilansir Pars Today, Masoud Pezeshkian dalam pertemuan dengan Sayid Mohsen Naqvi, Menteri Dalam Negeri Pakistan, menilai bahwa kelanjutan dan pendalaman kerja sama bilateral adalah kepentingan bersama kedua negara dan seluruh dunia Islam.
Ia menambahkan, "Negara-negara Islam harus bergerak menuju persatuan dan solidaritas dengan mengandalkan kesamaan agama, budaya, dan strategis mereka. Semakin kuat kohesi umat Islam, semakin berkurang kemungkinan intervensi dan agresi kekuatan ekstra-regional serta rezim Zionis di kawasan."
Presiden Iran, merujuk pada kebijakan prinsipil Tehran dalam mengembangkan hubungan persahabatan dengan negara-negara tetangga, terutama negara-negara Teluk Persia, menyatakan bahwa Republik Islam Iran menginginkan hubungan yang hangat, stabil, dan berdasarkan tata bertetangga yang baik dengan negara-negara Islam di kawasan. Namun, Amerika Serikat dan rezim Zionis selalu berusaha memecah belah negara-negara Islam dengan proyek memecah belah dan menciptakan ketidakpercayaan.
Pezeshkian menekankan, "Negara-negara besar dunia Islam harus membuka jalan bagi perdamaian abadi, keamanan, dan stabilitas di kawasan dengan memperkuat kerja sama dan interaksi regional. Karena di bawah naungan persatuan dan solidaritas Islam, rezim Zionis tidak akan pernah berani mengganggu atau menyerang negara-negara Islam."
Sayid Mohsen Naqvi, merujuk pada hubungan historis, budaya, dan antarmasyarakat yang mendalam antara Iran dan Pakistan, menyatakan bahwa Tehran dan Islamabad selalu memiliki hubungan yang dekat dan bersaudara, dan sekarang ikatan ini semakin kuat. Rakyat Pakistan memiliki rasa cinta dan hormat yang mendalam terhadap bangsa Iran, dan ia berharap di bawah kepemimpinan para pemimpin kedua negara, hubungan bilateral dan kerja sama dapat ditingkatkan lebih lanjut.
Pezeshkian menyuarakan apa yang dirasakan banyak negara di kawasan: persatuan adalah satu-satunya senjata melawan perpecahan. Selama negara-negara Islam terus saling mencurigai dan bergantung pada kekuatan luar, Zionis dan AS akan terus mengeksploitasi kesenjangan itu. Kini, seruan untuk solidaritas bergema dari Tehran hingga Islamabad. Pertanyaannya, apakah negara-negara Teluk akan mendengarkan?
Selama puluhan tahun, AS dan Zionis hidup dari "pecah belah dan kuasai" di Timur Tengah. Namun kini, ketika Iran dan Pakistan berbicara tentang persatuan, bukan sekadar retorika, tetapi tentang kepentingan bersama, dinamika lama mulai berubah. Batu bata pertama tembok persatuan telah diletakkan. Pertanyaannya adalah: mampukah negara-negara Islam lainnya mengambil batu bata mereka sendiri? Atau akankah mereka terus menunggu sampai tembok itu runtuh menimpa mereka?(Sail)