NATO Paksa Industri Senjata Eropa Percepat Produksi demi Redam Amarah Trump
-
Prrsenjataan Eropa
Pars Today - Sekretaris Jenderal NATO, Mark Rutte, akan mengadakan pertemuan besar pekan depan di Brussel dengan para CEO perusahaan persenjataan terbesar Eropa. Tujuannya: memaksa mereka meningkatkan investasi dan produksi senjata secara drastis.
Dilansir IRNA, 17 Mei 2026, langkah ini, menurut Financial Times, didorong oleh dua faktor utama:
- Meredakan kemarahan Donald Trump. Presiden AS merasa NATO tidak mendukung penuh kebijakan militernya, terutama dalam perang terhadap Iran, dan terus menekan Eropa untuk meningkatkan anggaran pertahanan hingga 5% dari PDB masing-masing negara.
- Kebutuhan mendesak Eropa untuk mengurangi ketergantungan militer pada AS. Dengan ketidakpastian komitmen Washington di masa depan, Eropa harus mulai membangun kapasitas pertahanannya sendiri.
Fokus Utama: Rudal Jarak Jauh dan Drone
Meskipun Eropa mulai mengatasi masalah amunisi, kini tantangan terbesarnya adalah rudal jarak jauh. Jerman, misalnya, berusaha membeli rudal jelajah Tomahawk buatan AS setelah Pentagon membatalkan rencana penempatan persenjataannya sendiri di wilayah Jerman.
Selain rudal, para pemimpin Eropa juga fokus pada produksi drone murah untuk berbagai keperluan: udara, darat, dan laut. Ini adalah pelajaran yang diambil dari perang Ukraina dan konflik Iran-AS, di mana drone murah terbukti sangat efektif melawan teknologi mahal.
Perusahaan yang Akan Hadir dan Target Finansial
Sejumlah perusahaan besar dipastikan akan mengirim perwakilan ke pertemuan tersebut:
Perusahaan Negara Spesialisasi Utama
Rheinmetall Jerman Tank, amunisi, kendaraan militer
Airbus Prancis (Eropa) Pesawat militer, sistem kedirgantaraan
Safran Prancis Mesin pesawat, sistem navigasi
Saab Swedia Pesawat tempur (Gripen), sistem radar
MBDA Eropa Rudal jarak pendek hingga jarak jauh
Leonardo Italia Helikopter, elektronik pertahanan
Target jangka panjangnya sangat ambisius: jika semua negara anggota NATO Eropa memenuhi permintaan Trump untuk membelanjakan 5% dari PDB mereka untuk pertahanan, maka pada tahun 2035, total pengeluaran pertahanan tahunan Eropa akan melonjak sebesar $1 triliun (sekitar Rp 16.000 triliun) dibandingkan tahun 2024.
Tantangan di Balik Target Ambisius
Meskipun targetnya jelas, jalan menuju peningkatan produksi masih terhambat oleh saling menyalahkan antara pemerintah dan industri senjata:
Pemerintah mengeluh bahwa perusahaan tidak cukup cepat memperluas kapasitas produksi mereka.
Perusahaan berargumen bahwa mereka tidak bisa berinvestasi dalam jumlah besar tanpa kontrak pembelian jangka panjang yang pasti dari pemerintah.
Rutte kini berusaha menjembatani kesenjangan ini. Ia ingin perusahaan berinvestasi segera, tanpa harus menunggu pesanan besar dari negara. Pertemuan di Brussel diharapkan menghasilkan "pengumuman penting" untuk disampaikan dalam KTT NATO bulan Juli di Ankara, Turki. Pengumuman ini diharapkan bisa meredakan kemarahan Trump dengan menunjukkan bahwa Eropa serius membayar untuk keamanannya sendiri.
Eropa kini berada di persimpangan jalan. Di satu sisi, tekanan perang dan permintaan Trump memaksa mereka untuk segera membangun industri militer yang mandiri. Di sisi lain, biaya untuk melakukan lompatan besar ini sangat besar, dan hubungan antara pemerintah serta industri sedang retak. Pertemuan Rutte pekan depan bukan hanya tentang produksi senjata, tetapi tentang apakah Eropa mampu mengambil alih kendali atas keamanannya sendiri sebelum mimpi buruk ketergantungan pada AS menjadi kenyataan.(Sail)