Menlu Kuba Peringatkan AS: Serangan ke Kuba Akan Jadi "Banjir Darah"
-
Bruno Rodriguez Parrilla, Menteri Luar Negeri Kuba
Pars Today - Menteri Luar Negeri Kuba memperingatkan bahwa serangan AS terhadap negaranya akan menyebabkan bencana kemanusiaan dan "banjir darah" , dengan korban jiwa dari kedua belah pihak.
Bruno Rodriguez Parrilla menulis di media sosial, "Serangan militer AS ke Kuba akan menyebabkan bencana kemanusiaan yang nyata, sebuah banjir darah. Warga Kuba dan warga Amerika akan terbunuh. Hanya politisi yang tidak mengirim anak dan keluarga mereka sendiri ke perang yang berani menerapkan skenario semacam itu".
Ia menegaskan bahwa sama sekali tidak ada alasan atau dalih sedikit pun bagi kekuatan adidaya seperti AS untuk menyerang pulau kecil yang tidak menimbulkan ancaman. Semua ini, katanya, hanya karena segelintir orang ingin mengubah sistem politik atau pemerintahannya.
Peringatan ini muncul di tengah eskalasi ancaman dari pemerintahan Trump. Presiden AS sebelumnya menyatakan bahwa Kuba akan menjadi target berikutnya setelah konflik dengan Iran mereda. Dalam sebuah acara di Florida, Trump membayangkan kapal induk yang kembali dari Iran akan ditempatkan di lepas pantai Kuba, dan penduduk pulau itu akan menyerah begitu kapal itu muncul.
Washington juga telah memberlakukan sanksi baru terhadap entitas komersial utama Kuba melalui Perintah Eksekutif 14404, termasuk sanksi sekunder terhadap perusahaan asing yang berbisnis dengan rezim Kuba. Penerbangan pengintaian dan pengawasan AS di lepas pantai Kuba telah meningkat tajam sejak Februari.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, putra imigran Kuba, menyebut rezim Kuba sebagai "komunis yang tidak kompeten" dan menyatakan bahwa sistem ekonomi negara itu tidak berfungsi dan tidak dapat diperbaiki.
Havana tidak tinggal diam. Di tengah kampanye maksimal Trump dan ancaman invasi yang semakin terbuka, Kuba mengirim peringatan yang jelas: perang bukanlah tontonan. Mereka yang mendorong konflik jarang mengirim anak mereka sendiri ke medan perang. Dan untuk pulau Karibia yang sudah tercekik embargo selama enam dekade, dorongan lebih lanjut bukanlah "pembebasan". Itu adalah pembantaian.(Sail)