Taliban Menyandera Proses Perdamaian Afghanistan
Pemerintah Afghanistan dan para ulama menekankan partisipasi kelompok Taliban dalam proses perdamaian, namun seorang anggota senior kelompok itu mendesak penarikan segera pasukan Amerika Serikat dari Afghanistan, sebagai syarat Taliban untuk bergabung dalam proses perdamaian.
Menurut Mullah Abdul Saeed, orang-orang yang menyerukan penyelesaian masalah Afghanistan dan pelaksanaan perundingan damai dengan Taliban, harus mengusir tentara asing dari negara tersebut.
Dia menganggap strategi baru Presiden AS Donald Trump untuk Afghanistan, sama seperti kebijakan-kebijakan sebelumnya, telah gagal, dan menegaskan bahwa Trump bukan hanya tidak dapat menghancurkan Taliban, tapi juga tidak mampu menciptakan keamanan di Afghanistan.
Ini bukan pertama kalinya kelompok Taliban menetapkan penarikan pasukan AS dan NATO dari Afghanistan sebagai syarat untuk terlibat dalam proses perdamaian. Di sisi lain, AS menjustifikasi kelanjutan kehadiran militernya di Afghanistan karena serangan Taliban yang belum reda.
Banyak pihak percaya bahwa kebijakan Taliban antara yang diumumkan dan dilaksanakan berbeda. Mereka menjadikan kehadiran militer AS sebagai alasan untuk melanjutkan serangannya, dan pada saat yang sama telah menjadi faktor ketidakamanan di Afghanistan dengan mengintensifkan serangannya terhadap pasukan pemerintah dan rakyat Afghanistan.
Taliban adalah kelompok Pashtun yang mengaku tengah berupaya untuk mempertahankan kemerdekaan dan keamanan Afghanistan, namun pada praktiknya, mereka sendiri telah menjadi alat bagi kelanjutan pendudukan negara tersebut.
AS memanfaatkan kondisi ini untuk melanjutkan kehadirannya di Afghanistan, tanpa harus terlibat konfrontasi serius dengan Taliban.
Seorang pengamat politik Afghanistan, Mohammad Akbar Wardak mengatakan, "AS telah membuktikan bahwa mereka tidak berniat menumpas Taliban dan kelompok-kelompok teroris lain di Afghanistan, AS hanya ingin membangun pangkalan yang lebih banyak di Afghanistan untuk akses yang lebih mudah ke negara-negara Asia Tengah."
Dalam pandangan rakyat Afghanistan, terutama kaum Pashtun, Amerika dan Taliban mengejar sebuah kebijakan yang sama di Afghanistan yaitu; menumbuhkan rasa tidak aman.
Presiden Afghanistan Mohammad Ashraf Ghani, berulang kali mendesak Taliban agar tidak menjadi alat AS untuk menciptakan ketidakamanan di Afghanistan. Namun, Taliban mengabaikan desakan itu dan sedang berubah menjadi kelompok penentang kepentingan nasional, di mana dapat menghancurkan posisi Taliban di tengah masyarakat, terutama kaum Pashtun.
Seorang pengamat militer Afghanistan, Sayid Abdul Muqaddam Amin mengatakan, "Jika tujuan AS benar-benar untuk memberantas terorisme di Afghanistan, maka mereka sudah seharusnya musnah dalam 17 tahun terakhir. Namun, sekarang teroris telah lebih kuat dari masa lalu. Dalam strategi baru AS, juga tidak ada sinyal perang akan berakhir. Taliban juga berusaha untuk melanjutkan perang."
Rakyat Afghanistan berharap agar Taliban berkomitmen dengan klaimnya sebagai pembela kepentingan nasional, dan dengan meletakkan senjata dan terlibat dalam proses perdamaian Afghanistan, akan membuat AS dan NATO kehilangan alasan untuk melanjutkan pendudukan di negara tersebut.
Tidak ada keraguan bahwa rakyat Afghanistan sudah lelah dengan perang dan berharap agar semua kelompok, etnis, dan faksi-faksi politik, dapat berkontribusi untuk memperkuat perdamaian dan keamanan di Afghanistan sehingga generasi penerus dapat menciptakan masa depan yang cerah untuk Afghanistan. (RM)