Gelombang Protes Kunjungan Trump ke Filipina
Polisi Filipina dan demonstran anti lawatan Presiden Amerika Donald Trump ke negara ini terlibat bentrokan. Demonstran berkumpul di depan kedutaan besar AS di Manila. Seraya mengecam kebijakan haus perang Amerika, para demonstran juga memprotes kunjungan Trump ke negara mereka.
Trump yang berkunjung ke Manila untuk mengikuti KTT ASEAN, bertemu dan berunding dengan sejawatnya dari Filipina, Rodrigo Duterte. Filipina menjadi tujuan terakhir safari Trump ke Asia timur dan tenggara. Sebelumnya ia berkunjung ke Jepang, Korea Selatan, Cina dan Vietnam.
Filipina adalah sekutu utama Amerika Serikat di kawasan Asia Tenggara dan sejumlah pangkalan militer AS juga berada di negara ini. Meski kerja sama ini mengalami pasang surut akibat protes warga, namun Filipina merupakan pangkalan terpenting Washington di kawasan. Meski demikian kerja sama militer dan keamanan negara ini dengan AS tidak pernah berujung pada peningkatan ekonomi dan penyelesaian kendala sosial di negara ini. Bahkan kehadiran militer AS di Filipina malah mengakibatkan peningkatan angka kriminal, pelacuran dan penyelundupan narkotika.
Liza Maza, mantan anggota DPR Filipina mengatakan, pangkalan militer Amerika berubah menjadi surga rekreasi dan peristirahatan militer Washington. Di pangkalan ini, perempuan dan anak-anak diperjualbelikan seharga satu hamburger untuk pekerjaan cabul. Di pangkalan ini perempuan hanya dipandang sebagai pelampiasan nafsu dan birahi dan budaya kekerasan terhadap perempuan sangat marak di pangkalan ini. Terdapat ribuan anak keturunan AS-Asia ditelantarkan ayah Amerika mereka dalam kondisi miskin.
Sejak berkuasanya Rodrigo Duterte yang menerapkan kebijakan tak terikat dengan Amerika, hubungan Manila-Washington semakin renggang. Sementara itu, protes Amerika terhadap kebijakan tegas pemerintah Filipina dalam menyikapi penyelundup narkotika kian membangkitkan kemarahan rakyat dan pemerintah Manila terhadap Washington. Hal ini karena mafia narkotika bukan saja di Filipina, bahkan di seluruh dunia memiliki hubungan dengan anasir kekuasaan di Amerika. Oleh karena itu, Amerika dan sejumlah lembaga Eropa mengancam akan menyeret Duterte ke mahkamah internasional karena memberantas pengedar narkotika.
James Jatras, pengamat Amerika mengatakan, mayoritas warga Filipina mendukung kebijakan Duterte termasuk independensi di kebijakan luar negeri dan pemberantasan narkotika, karena ia tidak menginginkan negaranya menjadi alat bagi kebijakan luar negeri Amerika. Oleh karena itu, saya yakin ada oknum-oknum di Washington yang mencari mekanisme untuk melemahkan pemerintahan Duterte dan berusaha menggantikannya dengan sosok yang lain.
Bagaimana pun juga, rakyat Filipina ketika memprotes kunjungan Donald Trump ke negaranya, selama beberapa tahun terakhir Washington memandang Filipina sebagai koloninya atau negara bagian yang sangat tertinggal. Militer Amerika pun dengan sewenang-wenang menindas warga Filipina.
Oleh karena itu, rakyat Filipina dengan memberikan dukungan kepada presiden negara ini terhadap represi Barat berusaha menjadikan negaranya sebagai negara independen di kawasan dan mencegah intervensi Amerika di Manila. (MF)