Tandem Menlu Saudi dan Perancis Serang Iran
https://parstoday.ir/id/news/world-i46875-tandem_menlu_saudi_dan_perancis_serang_iran
Menteri Luar Negeri Perancis di bawah pengaruh Arab Saudi, mencemaskan peran Republik Islam Iran di kawasan dan pada saat yang sama, Menlu Saudi menuduh Iran mencampuri urusan dalam negeri Lebanon dan Yaman.
(last modified 2026-05-02T11:25:11+00:00 )
Nov 17, 2017 11:37 Asia/Jakarta

Menteri Luar Negeri Perancis di bawah pengaruh Arab Saudi, mencemaskan peran Republik Islam Iran di kawasan dan pada saat yang sama, Menlu Saudi menuduh Iran mencampuri urusan dalam negeri Lebanon dan Yaman.

Adel Al Jubeir, Menlu Saudi, Kamis (16/11) dalam jumpa pers bersama dengan Jean Iyves Le Drian, Menlu Perancis di Riyadh mengklaim, harus ditemukan jalan untuk menghadapi Hizbullah, Lebanon.

Menlu Saudi melanjutkan tuduhan-tuduhan terhadap Iran dan Hizbullah, pasca pengunduran diri Saad Al Hariri dari jabatan perdana menteri Lebanon di Riyadh. Al Jubeir mengklaim, Iran memanfaatkan Hizbullah untuk memperluas pengaruhnya di kawasan.

Sementara Menlu Perancis mengklaim bahwa peran Iran di berbagai bidang dan intervensi negara ini di sejumlah krisis regional, mengkhawatirkan.

Klaim dan kekhwatiran Menlu Perancis dan Saudi tidak sejalan dengan realitas yang terjadi di kawasan Asia Barat, dan lebih merupakan upaya lari dari masalah dan langkah salah arah. Sebenarnya apa yang lebih mengkhawatirkan dari semua adalah kebisuan negara-negara Barat termasuk Perancis dalam menyikapi kebijakan-kebijakan destruktif Saudi di kawasan.

Sikap berat sebelah terkait perkembangan kawasan Timur Tengah termasuk krisis Yaman, menunjukkan bahwa dolar minyak Saudi dan klaim fiktif Riyadh, menjadikan negara-negara pendukung Saudi mengambil sikap kompak ke satu arah tertentu.

Jean Yves Le Drian di Saudi

Visi realistis terhadap perkembangan terbaru wilayah Asia Barat, dengan baik menunjukkan peran negara dan kubu mana yang perlu dicemaskan. Perancis dan beberapa negara lain yang dipengaruhi Saudi, mengambil sikap yang bertentangan dengan kenyataan.

Mereka sebenarnya tahu bahwa akar semua krisis Timur Tengah adalah kebijakan destruktif Saudi dan rezim Zionis Israel yang sekarang tengah bersekutu dan melakukan persekongkolan busuk terhadap masyarakat kawasan.

Pembunuhan terhadap rakyat Yaman yang dilakukan setiap hari khususnya atas anak-anak dan perempuan tidak bersalah, dan semakin ketatnya blokade negara itu di tengah kebisuan masyarakat internasional dan negara-negara pengklaim hak asasi manusia seperti Perancis, adalah realitas yang tak terbantahkan walaupun klaim-klaim fiktif terus dikeluarkan.

Tidak diragukan, negara-negara Barat yang terus memasok senjata mematikan ke Arab Saudi, adalah sekutu perang Riyadh di Yaman. Blokade total Yaman dan bombardir wilayah negara itu dengan senjata Barat termasuk senjata terlarang, secara jelas menunjukkan kondisi mengenaskan rakyat Yaman.

Terkait hal ini, petinggi Badan Kesehatan Dunia, WHO, UNICEF dan Program Pangan Dunia, WFP, Kamis (16/11) mengumumkan, lebih dari 20 juta orang termasuk 11 juta perempuan dan anak-anak Yaman membutuhkan bantuan segera. Lembaga-lembaga PBB itu menuntut agar blokade kemanusiaan Yaman segera dicabut.

Situasi krisis ini diperparah dengan gizi buruk yang mengancam nyawa sekitar 400 ribu anak Yaman. Inilah sebenarnya kenyataan yang harus dikhawatirkan umat manusia dan berkaitan erat dengan kebijakan perang Saudi didukung Barat termasuk Perancis.

Oleh karena itu Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran mereaksi klaim Menlu Perancis dalam jumpa pers bersamanya di Riyadh dan mengatakan, penjualan senjata mematikan oleh beberapa negara transregional ke negara-negara kawasan termasuk untuk digunakan dalam perang Yaman dan dukungan mereka atas Saudi dan sekutu-sekutunya di kawasan, menyebabkan instabilitas dan ketidakamanan di kawasan terus memburuk. (HS)