Retorika Nikki Haley Soal Iran dan Pengalihan Isu Al Quds
Wakil tetap Amerika Serikat di PBB, bersamaan dengan berakhirnya batas waktu Kongres untuk mengkaji kesepakatan nuklir Iran atau JCPOA, seiring bangkitnya kemarahan publik dunia atas keputusan Presiden Donald Trump soal Al Quds dan pengalihan perhatian dari pembunuhan terhadap anak-anak dan perempuan Yaman dengan senjata Amerika, menuduh Iran mengirim rudal ke Yaman.
Nikki Haley, Dubes Amerika di PBB, Kamis (14/12) malam di hadapan wartawan di markas besar PBB, New York memamerkan bangkai rudal yang ditembakkan Yaman ke Riyadh, Arab Saudi, awal November 2017 dan mengatakan, Iran mengirim rudal untuk gerakan perlawanan rakyat Yaman, Ansarullah (Houthi).
Wakil tetap Amerika di PBB itu lalu menyinggung soal kesepakatan nuklir Iran atau JCPOA dan mengklaim bahwa kesepakatan ini tidak hanya terkait dengan nuklir Iran saja.
Segera setelah Nikki Haley melancarkan propaganda baru Amerika itu, Gholamali Khosroo, Dubes Iran di PBB langsung berkomentar. Ia menuturkan, tuduhan yang dilemparkan Amerika kepada Iran, tidak berdasar dan tidak bertanggung jawab, juga provokatif dan destruktif.
Khosroo menambahkan, tuduhan-tuduhan Amerika terhadap Iran dilakukan untuk menutupi kejahatan-kejahatan perang Arab Saudi di Yaman yang dilakukan dengan kerja sama Amerika.
Pemerintahan Donald Trump terus melakukan kebohongan publik untuk meraih target-target destruktifnya di kawasan Asia Barat. Metode semacam ini pernah digunakan semasa George Bush menjabat presiden Amerika dan telah menyisakan pengalaman getir bagi negara itu.
Pada tahun 2003, pemerintah Amerika kala itu dengan bersandar pada informasi menyesatkan dan bohong terkait keberadaan senjata kimia di Irak, mengerahkan pasukan ke negara itu, namun langkah tersebut hanya berujung dengan kekalahan dan rasa malu bagi Amerika sendiri.
Di sisi lain, dalam kerangka pembagian tugas dengan rezim Zionis Israel dan Arab Saudi, pemerintahan Trump menciptakan tuduhan-tuduhan bohong terhadap Iran demi kepentingannya. Soal JCPOA dan pengaruh Iran di kawasan, Amerika berusaha membentuk koalisi regional dan internasional anti-Iran.
Di Timur Tengah, Amerika berusaha menampilkan Iran sebagai negara yang memainkan peran merusak. Dalam hal ini, Washington bekerjasama dengan Israel dan Saudi untuk menggambarkan kondisi kawasan seolah-olah sudah luluh lantak.
Menyebut program rudal Iran sebagai ancaman dan menuduh Tehran mencampuri urusan dalam negeri negara-negara Arab. Semuanya adalah dalih untuk menutupi kejahatan-kejahatan rezim Israel dan Saudi, di saat yang sama menjamin berlanjutnya kerja sama Amerika dan kedua rezim tersebut di kawasan.
Demi mencapai tujuannya di kawasan, Amerika terus memproduksi kebohongan-kebohongan. Sehubungan dengan ini, John Aravosis, jurnalis Amerika, yang pada Kamis (14/12) malam mereaksi klaim Nikki Haley atas Iran, mengatakan, tidak ada satu alasanpun untuk mempercayai klaim Nikki Haley terkait Iran. Ia adalah wakil seorang pembohong yang sakit jiwa yaitu Trump.
Amerika terus menuduh Iran, sementara ia sendiri sejak tahun 2015 membantu Saudi membombardir Yaman tanpa ampun. Koalisi pimpinan Saudi sekitar dua tahun, dengan menggunakan senjata buatan Amerika, setiap hari membunuh anak-anak dan perempuan Yaman.
Baru-baru ini, untuk pertama kalinya dua wartawan perempuan Perancis dengan pakaian samaran memasuki Yaman dan mengungkapkan fakta bahwa bom-bom yang dijatuhkan Saudi di atas kepala rakyat tertindas Yaman, buatan Amerika, dan merupakan bom-bom klaster yang dilarang di dunia.
Kasus di atas dan sekian banyak kasus lainnya, termasuk konspirasi Amerika untuk merebut Al Quds adalah realitas-realitas kawasan Asia Barat terkini yang melibatkan Washington secara langsung. Retorika menipu Nikki Haley terhadap Iran di PBB juga dilakukan untuk menyimpangkan opini publik dunia dari realitas-realitas ini. (HS)