Peringatan Rusia terhadap Langkah Terbaru AS di Utara Suriah
-
Kemenhan Rusia.
Kementerian Pertahanan Rusia memperingatkan ketegangan yang diciptakan oleh Amerika Serikat di Suriah utara. Peringatan tersebut disampaikan dalam sebuah pernyataan yang dipublikasikan pada hari Sabtu, 20 Januari 2018.
Kemenhan Rusia mengumumkan, akses milisi bersenjata yang berafiliasi dengan AS di Suriah utara kepada persenjatan perang modern telah menyebabkan meningkatnya ketegangan di kawasan ini.
Peringatan keras Rusia terhadap penciptaan ketegangan di utara Suriah dilontarkan menyusul perkembangan terbaru di daerah ini. Pekan lalu, koalisi pimpinan AS di Suriah mengumumkan bahwa Washington melalui kerjasama dengan pasukan-pasukan sekutunya di utara Suriah berusaha untuk membentuk sebuah pasukan keamanan baru di perbatasan yang terdiri dari 30.000 orang. Sebagian besar pasukan ini terdiri dari milisi Kurdi seperti Unit Perlindungan Rakyat Kurdi (YPG), yaitu sayap militer Partai Uni Demokratik Kurdi (PYD).
Selama ini, pemerintah AS –dengan dalih menumpas kelompok-kelompok teroris – mengirim pasukannya ke Suriah secara ilegal dan tanpa izin dari pemerintah Damaskus. Rex Tillerson, Menteri Luar Negeri AS baru-baru ini juga menegaskan kelanjutan kehadiran militer negaranya di Suriah.
Di masa pemerintahan Presiden Donald Trump ini, AS telah memberikan dukungan komprehensif kepada milisi Kurdi Suriah dengan dalih memerangi kelompok teroris takfiri Daesh (ISIS). AS hingga sekarang telah mengirim sekitar 4.500 truk dan trailer yang berisi berbagai jenis senjata dan amunisi kepada milisi Kurdi.
Pasca kekalahan Daesh dan terlepasnya berbagai wilayah yang diduduki kelompok teroris takfiri ini, muncul pertanyaan baru tentang kebijakan apa yang akan diambil oleh AS di Suriah? AS mengklaim, tujuan kelanjutan kehadiran pasukannya di Suriah adalah untuk mencegah terbentuknya kembali Daesh atau "Daesh kedua."
Klaim tersebut dianggap sebagai menggelikan dan tidak logis. Pasalnya, selama ini AS tidak serius untuk menumpas Daesh, bahkan banyak bukti menunjukkan bahwa negara itu justru memberikan bantuan kepada kelompok teroris takfiri ini dan mencegah kemajuan operasi militer Suriah.
Tujuan pembentukan apa yang disebut sebagai Koalisi Anti-Daesh pimpinan AS adalah untuk menumpas kelompok teroris takfiri tersebut, namun koalisi ini tidak pernah menunjukkan keseriusannya untuk menumpas Daesh. Sekarang, ketika struktur militer Daesh telah hancur oleh perjuangan pasukan Suriah dan sekutunya, namun mengapa AS tidak bersedia untuk menarik pasukannya dari Suriah dan justru ingin bercokol di negara Arab ini dengan barbagai dalih?
Keputusan terbaru AS untuk melanjutkan kehadiran pasukannya di Suriah menunjukkan upaya Washington untuk memainkan perannya dalam krisis di negara Arab ini. Selain itu, AS ingin memahamkan kepada Rusia untuk tidak mengabaikan perannya di Suriah.
Upaya AS untuk membentuk sebuah pasukan dari Kurdi yang terdiri dari 30.000 orang dan penempatan mereka di sepanjang perbatasan Suriah dengan Turki dan Irak –dengan dalih mencegah pembentukan kembali Daesh– adalah alasan negara itu untuk tetap melanjutkan kehadirannya di Suriah dan mengubah lokasi tersebut menjadi pangkalan-pangkalan militernya.
Langkah tersebut juga merupakan upaya AS untuk mencapai tujuan-tujuan ilegalnya di Suriah terutama dalam kerangka menghadapi poros Republik Islam Iran, Rusia dan Suriah. Sergei Palmasov, seorang pakar Rusia memperingatkan bahwa rencana AS untuk membangun sebuah pasukan di Suriah utara yang mencakup anggota PYD bertujuan untuk meningkatkan ketegangan di wilayah tersebut.
Ahli dari Akademi Ilmu Pengetahuan Rusia itu kepada kantor berita Anadolu mengatakan, AS berencana untuk mendirikan sebuah pasukan di Suriah utara dengan tujuan mengirim pesan kepada Rusia, Turki dan Republik Islam Iran.
Palmasov menuturkan, AS menganggap daerah-daerah tertentu di Suriah mengikuti pengaruhnya langsung dan melalui langkah ini, pihaknya berupaya memperkuat kehadiran pasukannya dan menunjukkan pengaruhnya di daerah ini.
Ia menekankan bahwa rencana AS tersebut akan memiliki konsekuensi serius bagi kedaulatan Suriah dan akan meningkatkan ketegangan di kawasan.
Sementara itu, Yuri Mavashev, Kepala Penelitian Politik di Pusat Studi Modern Turki yang berpusat di Moskow mengatakan, rencana AS di Suriah utara bertujuan untuk memastikan kontrol Washington terhadap daerah-daerah strategis dan penting serta mengendalikan ladang minyak di Suriah.
Ia menambahkan, langkah terbaru AS juga bertujuan untuk menggagalkan Konferensi Dialog Suriah yang dijadwalkan digelar di Sochi pada akhir bulan ini dan untuk mengganggu proses tersebut mencapai solusi politik.
Anatoly Nismian, seoarang pakar Timur Tengah kepada Anadolu mengatakan, AS menggunakan milisi Kurdi di Suriah sebagai alat untuk menekan banyak negara di kawasan. Ia juga memperingatkan konsekuensi rencana Amerika mengenai persatuan Suriah.
Selain menuai reaksi tegas dari Suriah, Rusia dan Iran, kebijakan AS tersebut juga menyebabkan kemarahan Turki. Oleh karena itu, pemerintah Ankara memulai operasi militer untuk menarget milisi Kurdi di distrik Afrin, utara Suriah.
Richard Weitz, seorang pakar Amerika meyakini bahwa AS tidak akan menggunakan tindakan militer untuk mereaksi serangan Turki ke utara Suriah. Di sisi lain, Rusia –sebagai salah satu aktor besar di arena Suriah– meyakini bahwa tujuan keputusan terbaru AS adalah untuk melanjutkan kehadiran ilegalnya di Suriah.
Vyacheslav Matuzov, seorang analis Rusia meyakini bahwa Rusia tidak setuju dengan pembukaan front baru di Suriah, namun penolakan ini tidak berarti keselarasan Moskow dengan Kurdi. Yang pasti, kelanjutan kondisi sekarang di Suriah utara akan meningkatkan kemungkinan munculnya konflik baru dan luas antara Turki dan Kurdi Suriah, di mana situasi ini akan menimbulkan ketegangan di kawasan. (RA)