Peringatan Presiden Afghanistan terhadap Taliban
https://parstoday.ir/id/news/world-i50699-peringatan_presiden_afghanistan_terhadap_taliban
Presiden Afghanistan baru-baru ini memperingatkan Taliban menyusul kelanjutan serangan teror kelompok tersebut ke berbagai wilayah negaranya. Mohammad Ashraf Ghani Ahmadzai menegaskan bahwa pemerintah Kabul akan membalas dengan tegas atas kelanjutan serangan Taliban ke berbagai wilayah Afghanistan.
(last modified 2026-04-24T16:42:03+00:00 )
Jan 30, 2018 14:53 Asia/Jakarta

Presiden Afghanistan baru-baru ini memperingatkan Taliban menyusul kelanjutan serangan teror kelompok tersebut ke berbagai wilayah negaranya. Mohammad Ashraf Ghani Ahmadzai menegaskan bahwa pemerintah Kabul akan membalas dengan tegas atas kelanjutan serangan Taliban ke berbagai wilayah Afghanistan.

Peringatan tersebut disampaikan Ashraf Ghani dalam jumpa pers bersama Joko Widodo, Presiden Republik Indonesia di Kabul pada Senin, 29 Januari 2018. Ia mereaksi serangan teror terbaru di ibukota Afghanistan oleh kelompok Taliban yang menewaskan dan melukai ratusan orang. Ia mengatakan, "Balasan rakyat Afghanistan terhadap kelompok ini akan keras dan menentukan."

Ashraf Ghani menambahkan, serangan Taliban di Kabul dan berbagai wilayah Afghanistan lainnya telah membuktikan bahwa kelompok itu sedang melaksanakan perintah tuan-tuan asingnya.

Ashraf Ghani

Presiden Afghanistan mengancam akan membalas serangan Taliban dengan keras ketika sebelumnya berbagai kalangan di negara ini meminta kelompok tersebut untuk bergabung dalam proses perdamaian Afghanistan. Dengan demikian, ancaman Presiden Afghaninstan itu akan berpengaruh pada seruan kepada Taliban untuk terlibat dalam proses perdamaian.

Tidak diragukan lagi bahwa kondisi di Afghanistan saat ini menunjukkan inefisiensi dan kegagalan program Amerika Serikat di negara itu. Pada dasarnya, Donald Trump, Presiden AS –yang tidak memiliki program dan strategi yang jelas terkait urusan Afghanistan– hanya memperburuk krisis dan ketidakamanan di negara ini.

Penegasakan AS dan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) untuk menambah pasukannya di Afghanistan dan pengiriman jet-jet tempur dan pembom AS ke negara itu menunjukkan bahwa Washington berusaha melanggengkan krisis dan instabilitas di Afghanistan yang bisa memperluas kekerasan dan konflik berdarah di negara itu.

Shoja' Hossein Mohseni, pakar urusan poitik di Afghanistan mengatakan, strategi AS didefinisikan di bawah kepentingan nasional negara ini. Selama perang dan konflik di Afghanistan akan memberikan 'makanan' kepada kebijakan AS, maka konflik ini akan berlanjut.

Kelanjutan kehadiran pasukan AS di Afghanistan menjadi dalih yang tepat bagi Taliban untuk melanjutkan serangan berdarahnya dan menjadikan penarikan pasukan Amerika dari negara itu sebagai prasyarat untuk berdialog dengan pemerintah Kabul.

Taliban.

Di sisi lain, kelanjutan serangan Taliban ke berbagai wilayah Afghaninstan juga menjadi dalih bagi kelanjutan pendudukan AS di negara ini dengan alasan menumpas terorisme. selain itu, AS juga mengejar tujuan yang lebih luas di Afghanistan di bawah kedok dan kampanye menumpas teroris.

Salbuchi, seorang analis Argentina mengatakan, tujuan AS menambah jumlah pasukannya di Afghanistan adalah untuk melindungi pasar narkotika. Langkah ini merupakan program dan strategi yang sama Inggris di abad ke-19 dengan Cina. Oleh karena itu, klaim dan slogan untuk menumpas terorisme oleh AS tak lebih hanya sebuah dalih dan kebohongan untuk menjustifikasi kehadiran pasukannya di Afghanistan di hadapan opini publik.

Yang pasti, militer Afghanistan dalam beberapa tahun terakhir telah menunjukan kemampuan yang diperlukan untuk menghadapi para teroris. Namun kalangan Barat terutama AS –disebabkan kebutuhannya atas kelanjutan krisis di Afghaninstan dan perlindungan terhadap pasukannya– tidak akan pernah membiarkan keamanan tercipta di negara ini.

Oleh sebab itu, Donald Trump, Presiden AS baru-baru ini mengumumkan bahwa kebijakan Washington mengubah kebijakan AS dari "berorientasi waktu" menjadi "berorientasi prestasi," dimana ini mengindikasikan kelanjutan pendudukan AS di Afghanistan hingga waktu yang tidak diketahui. Kebijakan itu tentunya akan membawa konsekuensi buruk bagi kalanjutan krisis di Afghanistan. (RA)