Gagalnya Skenario AS Anti Pakistan
Menteri Luar Negeri Pakistan, Khawaja Muhammad Asif mengatakan, Amerika gagal menarik dukungan negara lain untuk mencantumkan nama Pakistan dalam daftar sponsor finansial teroris.
Khawaja Muhammad Asif menambahkan, Amerika dan Inggris beberapa pekan lalu menyusun langkah-langkah untuk mencantumkan Pakistan di list dunia pendukung finansial kelompok teroris. Langkah ini digodok dalam sebuah pertemuan Satuan Tugas Aksi Keuangan (FATF) yang digelar di Paris, Perancis.
"Sidang FATF di Paris tidak membuahkan hasil istimewa terkait pencantuman nama Pakistan di list negara-negara pendukung teroris," paparnya.
Satuan Tugas Aksi Keuangan (FATF) di bawah PBB bermarkas di Paris dan menjadi lembaga penentu parameter internasional dalam perang melawan aktivitas keuangan ilegal.
Hubungan Islamabad dan Washington sejak Agustus 2017 semakin renggang, setelah Presiden AS Donald Trump melancarkan tudingan anti Pakistan.
Donald Trump pada 21 Agustus lalu dalam sebuah kebijakan baru terkait perang Afghanistan, menyebut Pakistan sebagai zona aman bagi teroris. Sikap ini memicu kemarahan petinggi Pakistan.
Statemen menlu Pakistan terkait kegagalan rencana Amerika untuk menarik negara lain guna mengamini kebijakannya mencantumkan nama Islamabad di list pendukung finansial kelompok teroris mengindikasikan kedua negara memiliki interpretasi berbeda terkait terorisme dan perang melawan fenomena buruk ini.
Menurut apa yang dijelaskan menlu Pakistan, Amerika ingin mencantumkan nama negaranya di list pendukung finansial teroris sehingga Washington mampu meningkatkan tekanan terhadap Islamabad.
Gedung Putih dengan mencantumkan Pakistan di list sponsor finansial teroris ingin menerapkan pembatasan luar biasa terhadap negara ini khususnya di bidang perdagangan, ekonomi dan transaksi antar bank sehingga AS mampu memaksa Pakistan bekerja sama di perang Afghanistan dan apa yang mereka klaim sebagai perang melawan radikalisme. Namun begitu sejumlah pihak menolak sikap Amerika ini dan mengatakan, represi lebih besar kepada Pakistan akan menimbulkan hasil sebaliknya di Afghanistan.
Waheed Mozdah, pakar politik Afghanistan mengatakan, represi Amerika terhadap Pakistan akan meningkatkan domain perang dan eskalasi medan pertempuran di Afghanistan.
Amerika selama beberapa tahun terakhir dengan memutus bantuan finansial dan militer kepada Pakistan, berusaha memaksa Islamabad mengiringi kebijakan Gedung Putih di kawasan, khususnya di perang Afghanistan.
Mengingat berlanjutnya pendekatan Pakistan, sepertinya petinggi Amerika sampai pada kesimpulan bahwa represi sepihak Gedung Putih tidak akan mampu memaksa Islamabad mengubah kebijakannya. Oleh karena itu, petinggi Washington dengan memanfaatkan sanksi internasional dalam koridor FATF berupaya memajukan strateginya terhadap Pakistan.
Namun seperti yang dijelaskan menlu Pakistan, pemerintah Amerika gagal meyakinkan negara lain untuk mencantumkan nama negara ini di list pendukung finansial kelompok teroris.
Ada potensi bahwa sikap berbagai negara yang enggan mengiringi Amerika dalam mencantumkan nama Pakistan di list hitam sponsor finansial teroris akibat kekhawatiran dampak negatif dari keputusan ini terhadap perilaku Islamabad dan sabotase lebih besar di perang Afghanistan serta isu perang kontra terorisme di kawasan. (MF)