Korea Utara Tolak Klaim Amerika dan Tim Inspeksi PBB
Korea Utara menolak klaim para pejabat Amerika, begitu juga tim inspeksi PBB soal pengiriman senjata kimia dari Pyongyang ke Suriah.
Kementerian Luar Negeri Korea Utara hari Jumat (2/3) dalam sebuah pernyataan menyebutkan, negara ini bukan saja tidak memberikan senjata seperti ini kepada Suriah, tapi Pyongyang bahkan tidak pernah melanggar aturan larangan produksi dan menumpuk senjata kimia.
Klaim Amerika soal pengiriman senjata kimia dari Pyongyang ke Suriah dari sisi waktu ada dua poin penting yang menjadi perhatian. Pertama, klaim ini disampaikan ketika Korea Utara dan Korea Selatan menggunakan kesempatan olimpiade musim dingin untuk melangsungkan dialog guna meredam tensi di antara keduanya pada level tinggi. Moon Jae-in, Presiden Korea Selatan baru-baru ini akan mengirim delegasi tingkat tinggi ke Pyongyang sebagai jawaban atas undangan pemimpin Korea Utara. Sikap lunak dalam sikap kedua Korea ini sangat mengkhawatirkan Amerika.
Kedua, tekanan Donald Trump, Presiden Amerika selama setahun terakhir terhadap Korea Utara bukan hanya gagal memaksa negara ini mundur dari sikapnya mempertahankan kebijakan nuklir dan rudalnya, bahkan menghadapi kesulitan besar untuk menjawab opini publik Amerika dan kawasan. Karena program militer Amerika, termasuk pengiriman kapal-kapal perang ke kawasan laut sekitar Korea Utara dan penguatan kehadiran militer negara ini di Korea Selatan dan Jepang telah memunculkan atmosfir ketakutan dan ketidakamanan di kawasan. Dengan alasan ini, Korea Utara justru melanjutkan dan memperkuatan program nuklir dan rudalnya.
Chou Riong Haye, salah satu pejabat senior partai berkuasa Korea Utara mengatakan, bersamaan dengan upaya mengakhir ketegangan dengan Korea Selatan, Pyongyang berusaha memperkuat dan menyempurnakan kapasitan nuklirnya. Karena Amerika Amerika akan terus melanjutkan ancamannya terhadap Pyongyang.
Dalam kondisi yang demikian, menurut Pyongyang alasan baru yang dikemukakan Amerika tengah menarget dua tujuan, pertama, menutupi kegagalan sebelumnya terkait Korea Utara dan kedua, berupaya mencapai kesepakatan dunia melawan Korea Utara. Karena hingga kini upaya yang telah dilakukan Amerika belum berhasil dan isu senjata kimia yang dikirim ke Suriah dimulai untuk mencapai kesepakatan dunia melawan Korut.
Andrei Ivanov, pakar Rusia dan dosen hubungan internasional mengatakan, dalam setiap periode ketika kondisi semakin kondusif untuk menciptakan perdamaian di Semenanjung Korea, Amerika mulai menebar tuduhan baru terhadap Korea Utara dan menyampaikan tuntutan barunya. Masalah ini bakal merusak adanya kecenderungan untuk mencapai kesepakatan di kawasan.
Bagaimanapun juga, menurut Korea Utara, apabila ada negara yang harus menjawab opini publik maka negara itu adalah Amerika. Negara ini harus menjawab kejahatannya selama perang dua Korea dari tahun 1950 hingga 1953. Karena Amerika pada waktu itu menggunakan senjata kimia yang menewaskan lebih dari 50 warga Korea tewas. Selain itu, Amerika juga merupakan negara pertama yang menggunakan senjata pemusnah massal.