Reaksi Keras Rusia terhadap Sanksi Baru AS
-
Sanksi
Kementerian luar negeri Rusia menyampaikan reaksi keras atas sanksi baru AS terhadap Moskow dengan mengatakan bahwa Washington menjatuhkan sanksi baru terhadap Rusia untuk menebus kegagalannya dalam serangan rudal ke Suriah pada 14 April lalu.
Pada Rabu (9/5), AS mempertajam permusuhannya terhadap Moskow dengan menjatuhkan sanksi baru terhadap sejumlah brigade militer dan perusahaan Rusia dengan alasan melanggar aturan AS dalam masalah penyebaran senjata pemusnah massal.
Tampaknya, AS dengan segala cara berupaya untuk meningkatkan tekanan terhadap Rusia. Kali ini menjatuhkan sanksi baru terhadap Moskow untuk menjegal kontrak antara Rusia dengan negara lain di bawah aturan dalam negeri AS mengenai larangan penyebaran senjata pemusnah massal.
Pihak Rusia menilai sanksi ini berkaitan dengan masalah penguatan pangkalan pertahanan Suriah oleh Rusia, dan peran signifikannya dalam menghadapi serangan rudal AS pada 14 April lalu. Moskow menegaskan bahwa Washington gagal memaksa Rusia supaya menghentikan dukungan terhadap sekutunya di Suriah. Rusia berulangkali menegaskan bahwa pemerintahan Donald Trump dikecam karena menggunakan kekuatan sanksi terhadap negara lain. Tapi cara-cara kekerasan tersebut tetap gagal memaksa Rusia mengamini dikte Washington.
Kini, tensi ketegangan antara AS dan Rusia semakin tinggi melebihi sebelumnya dengan dimensi yang luas dari aspek politik, perdagangan, ekonomi hingga militer. Mengenai hal ini, profesor ilmu politik Rusia, Sergey Rogov meyakini saat ini terjadi perang dingin baru antara Rusia dan AS.
Sanksi baru AS terhadap Rusia menunjukkan bahwa Washington saat ini meningkatkan konfrontasinya terhadap Rusia dengan berbagai alasan. Sejumlah masalah seperti bergabungnya semenanjung Krimea dengan federasi Rusia, dan intervensi Moskow dalam konflik di wilayah timur Ukraina, serta intervensi Rusia dalam pilres AS terus dilontarkan sebagai dalih Washington untuk menjatuhkan sanksi terhadap Moskow sejak 2014 hingga kini.
Deputi Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Ryabkov berkeyakinan bahwa periode Trump lebih keras terhadap Rusia dibandingkan pendahulunya Barack Obama. Sebelumnya, AS menjatuhkan sanksi terhadap Rusia di bawah aturan CAATSA, dengan dalih intervensi Moskow dalam pemilu presiden AS di tahun 2016.
Analis politik Rusia, Alexey Mukhin berkeyakinan bahwa arsitek sanksi baru AS terhadap Rusia melakukan kesalahan besar. Kehadiran militer Rusia di Suriah memberikan bantuan besar terhadap militer Suriah yang menyebabkan negara Arab ini mampu menghadapi serangan udara dan rudal AS. Masalah tersebut menimbulkan kemarahan Washington dan Tel Aviv. Sanksi terbaru AS terhadap Rusia dijatuhkan supaya Moskow mengamini dikte Washington. Tapi Rusia tidak menyerah, dan hingga kini terus melanjutkan perlawanannya terhadap kebijakan destruktif AS.(PH)