Peringatan Sekjen NATO Soal Masa Depan Pakta Pertahanan Atlantik Utara
-
Jens Stoltenberg, Sekjen NATO
Jens Stoltenberg, Sekjen NATO melakukan pertemuan dengan Theresa May, Perdana Menteri Inggris membicarakan soal kemungkinan keluarnya Amerika Serikat dari NATO dan langkah-langkah Donald Trump, Presiden AS terkait pelanggaran kesepakatan dan komitmenya.
Setelah pertemuan tersebut, Sekjen NATO mengatakan, tidak ada seorangpun yang bisa menjamin NATO akan tetap eksis, tapi semua 29 negara anggota NATO berusaha mempertahankan dan memperkuat organisasi ini dan pembicaraan dilakukan dalam kerangka ini.
Stoltenberg mengklaim bahwa perselisihan internal NATO bukanlah masalah baru dan sudah ada sejak sebelumnya dan dapat diatasi, sekarang NATO sudah semakin kuat. Friksi yang semakin berkembang antara Eropa dan Amerika Serikat, karena kebijakan dan langkah-langkah sepihak Trump, termasuk pertahanan dan militer yang mendorong Sekjen NATO bereaksi dan memperingatkan keberlangsungan pakta pertahanan ini. Memang, perselisihan yang berkembang antara Amerika Serikat dan Eropa ditambah Kanada telah mendorong upaya Sekjen NATO untuk mencegah melemahnya pakta pertahanan ini.
Stoltenberg menekankan pentingnya konvergensi anggota NATO menjelang KTT NATO seraya berharap bahwa perselisihan AS dengan anggota NATO lainnya, termasuk masalah perdagangan, Kesepakatan Iklim Paris dan Rencana Aksi Bersama Komprehensif (JCPOA) serta saham negara-negara anggota terkait pendanaan NATO jangan sampai melemahkan pakta pertahanan ini. Sekalipun ada perselisihan di antara negara-negara anggota namun terkait urusan pertahanan dan keamanan harus bersatu.
KTT 29 negara anggota NATO akan diselenggarakan dari 11-13 Juli dan diperkirakan akan menjadi pertemuan KTT NATO paling menantang. Terutama terkait pembahasan soal komitmen negara-negara anggota untuk mengalokasikan 2 persen dari produk domestik bruto (PDB) ke sektor militer.
Sejak masa kampanye pemilu presiden Amerika Serikat pada 2016 dan setelah terpilih sebagai presiden, Donald Trump berulang kali dan dalam berbagai kesempatan mengritik ketidakpedulian sejumlah anggota NATO untuk memenuhi tujuan militer yang diinginkan NATO, termasuk mengalokasikan dua persen dari produk domestik bruto (PDB) untuk urusan pertahanan dan militer, serta tidak ada partisipasi yang cukup dari mereka untuk mendanai NATO.
Dalam hal ini, Trump berulang kali meminta anggota NATO meningkatkan anggaran pertahanannya dan mengancam bila mereka tidak melakukannya maka ia akan menindak mereka. Mayoritas anggota NATO menyadari sikat negatif Trump terkait NATO. Trump percaya NATO adalah pakta pertahanan yang telah ketinggalan jaman.
Tomas Valasek, mantan Dubes Slovakia di NATO mengatakan, hati Trump tidak bersama NATO. Ia memandang semua atau tidak sama sekali kepada dunia. Ia tidak percaya dengan pertemanan abadi. Mentalitas seperti ini membuatnya tidak siap untuk bersama sekutunya. Trump serius untuk merevisi kewajiban AS terkait NATO.
Dalam sebuah wawancaranya dengan New York Times, Trump mengatakan, menurut butir kelima NATO, ketika negara-negara anggota NATO diserang negara lain bukan NATO, maka negara-negara anggota NATO harus segera membantunya. Tapi sejak sekarang, Amerika hanya akan membantu negara yang telah membayar dua persen dari PDB-nya ke NATO.
Sebelumnya, Trump menyatakan bahwa 23 dari dari 29 negara anggota NATO belum mengalokasikan dua persen dari PDB mereka untuk membiayai NATO. Ucapan Trump lebih tertuju kepada Jerman sebagai negara dengan ekonomi terbesar di Eropa tidak banyak melakukan kewajiban terkait hal ini, sekalipun Angela Merkel, Kanselir Jerman telah berjanji untuk meningkatkan bujet militer. Sikap Trump ini didukung Sekjen NATO, sekalipun peringatan terbaru Sekjen NATO soal ketidakjelasan masa depan pakta pertahanan ini menunjukkan ia masih tidak percaya akan keputusan Trump, termasuk pada NATO.